Tag: puisi

Perihal Menikah

Oleh: Azki Khikmatiar

Kapan menikah?
Mengapa belum menikah?
Apakah masih percaya pernikahan?
Ah, Sial ! Mengapa semua orang
selalu bertanya perihal menikah?
Bukankah pernikahan bukanlah satusatunya tujuan kehidupan?

Hei ! Menikah bukan lomba lari; dimana yang tercepat adalah yang terbaik
Menikah adalah sebuah perubahan
Dan kita tau bukan? Bahwa setiap
perubahan seringkali menakutkan?
Takut memulai babak hidup baru
Takut mengambil langkah pertama
Takut menghadapi kemungkinan
yang sebelumnya tak pernah kita tau
Takut membawa serta yang tersisa
Ah! Pasti berat rasanya!

Tapi, kita juga tau bukan?
Bahwa setiap awal yang baru
adalah sebuah kesempatan?
Kesempatan mendapat ruang
untuk saling tumbuh bersama
Kesempatan mempelajari kesalahan
yang sebelumnya pernah kita lakukan
Kesempatan menyiapkan serangkaian perjalanan yang butuh perencanaan
Kesempatan menjalani kehidupan sebagaimana yang kita inginkan
Ah! Pasti sangat menyenangkan!

Negri Para Bedebah, 26 Juli 2022

Istirahatlah Cinta

Oleh: Abenza’idun

Istirahatlah cinta
Riuh Para Bedebah bersumpah-sampah
Liar lidah meludah-ludah
Mengingkar atas ikrar, bersandiwara palsu yang asu.

Engkau lelah dikata-kata
Melangitlah ke singgasana lentera
Dalam rengkuh sang Raja
Menelan gulita

Biarkan insan-insan itu yatim-piatu tanpamu
Atau
Biar mati sekalian kehilangan sukma
Tinggal raga tak bisa apa-apa

Jangan membumi,
Selagi mereka belum bersuci

Abenz, Ungaran, 31 Mei 2022

9.30

oleh: Ibnu Masykur

Pukul sembilan lebih 30 menit
Di luar, angin berhembus tawarkan gigil masa silam
Di dalam, belasan puntung rokok saling tindih tak bergerak
Hanya hela tipis asap dari tiap ujungnya sesekali masih menguar ke udara
Ku pejamkan mata
Sementara kata-kata saling bersenggama
Kenangan dan degup dada saling menerkam
Dan sepi, sepi menjelma menjadi kawanan serigala
Melolong pada remah purnama yang tak sempurna
Mengoyak samar bangkai ingatan tentang kita
Tentang apa saja yang mengendap di dalam rasa
Aku
Juga cangkir-cangkir kopi itu

Puasa Berpuisi II

Oleh: Azki Khikmatiar

Kasih!
Bulan puasa sudah menyapa kembali
Lihatlah! kisah kita telah bertahan
bertahuntahun bersama sepi
Mengapa waktu berjalan cepat sekali?
Rasanya kita belum selesai memahami
tentang makna sebuah rasa bersalah
Sekarang kita telah menyadari bahwa
semuanya harus kembali indah

Kasih!
Sudah waktunya kita berjalan kembali
Bersama benci yang lebih sering kita cintai
Melampaui sederetan bagaimana
Meneriakkan segenap rasa kecewa
Membela sesak yang sedari lama digariskan
Menyesali pilihan yang dikuasai kehampaan

Kasih!
Mari melanjutkan puisi yang hampir mati
Serangkaian perih ini tak bisa lagi dihindari
Hei! Untuk apa terus menulis puisi?
Bukankah diksi kita selalu berbeda?
Bukankah kisah kita tak pernah sama?
Bukankah kita enggan memberi ruang
pada sebuah kesempatan?
Tanyamu, bertubitubi!

Kasih!
Mengapa harus berhenti menulis puisi
jika luka yang kau beri nyatanya abadi?
Mengapa kita lebih memilih beralih
daripada melatih segala perih?
Mengapa kita saling menyulang bahagia
jika pada akhirnya kita bersulang air mata?
Ah, sudahlah!
Mungkin benarbenar sudah waktunya;
Puasa berpuisi!

Pekalongan, 14 April 2022

Souvenir

aldiantara.kata

Cinta seharusnya tak dibicarakan, Juwita
tetapi kau dengarkan
Dari dada retak seorang penyair, cinta meneriakkan namamu.

-Mohammad Ali R, “Teriak Cinta”

Akhirnya, memiliki waktu juga. Membaca puisi, tanpa dikejar atau mengejar deadline tugas yang tak kian surut. Apakah waktu benar-benar bisa dimiliki. Mu yang berlari. Ku yang diburu atau memburu.

Seberapa tahan membaca sebuah puisi hingga tuntas. Dari sekian upaya menyerah dalami makna.

Pun jika hanya membaca puisi-puisi souvenir. Puisi tidaklah hanya. Ia adalah jelmaan kerumitan kehidupan manusia yang disampai secara indah, bahkan sekali pun kelam. Puisi tidaklah cuma. Puisi paduan ragam indera yang disampai melalui aksara. Pun jika membaca puisi-puisi souvenir. Puisi bukanlah pun. Ia adalah aksara-aksara pembawa suatu pesan penyair dalam lingkup tempat dan zamannya.

Ya, aku sedang membaca puisi souvenir. Tanpa hanya, cuma, dan pun.

Penyair menahan waktu. Ia menuliskan tempat tinggal dan tanggal setelah bait terakhir. Jejak di mana penyair merebahkan aksara-aksaranya. Meski bukan sebagai nama jalan. Namun sebagai jelmaan ingatan yang sangat pribadi. Melibat indera penglihat, pendengar, perasa.

Seperti manuskrip yang akan dikenang tiga windu mendatang. Tercecer. Bahkan puisi-puisi souvenir tak membutuhkan ISBN. Dengan ikhlas bercerita. Entah telah berapa gelas kopi yang telah dihabiskan. Gelas kecil minuman yang tak lebih memabukkan ketimbang kecamuk alam pikirannya. Atau sesi bercinta yang tak membutuhkan jeda.

“Sudahlah. Kau membual seperti politisi. Cepat ceritakan puisi-puisi di dalamnya.” Kau tak sabar hendak kubacakan.

Puisi Mohammad Ali R, Wajah Temaram.

Sayup-sayup wajah sore hampiri beranda
Senja perlahan melambaikan siluet
Angin sepoi menggoyang barisan padi
Temaram laksana keredupan hati

Di bawah lampu-lampu neon kedai kopi
Sepi seakan tak terbendung lagi
Kibarkan bendera tentang malam
Kau menjelma secarik puisi kesepian

Aku dengan sisa-sisa rindu yang kau telantarkan
Merenggut makna atas kemerdekaan
Tak gentar aku bak darah juang
Meleleh di bawah kumandang adzan

Sisa ampas kopi selalu tersia-siakan
Meratapi siksa tuan penikmat
Kau ingin datang
Atau, sebatas menjadi bayangan.

Bantul, 25 Maret 2018

Kau menyeka mata. Barista mulai bersiap-siap close order. Suara kendaraan terparkir berhambur pergi beralih. Ada yang pergi menuju bulan. Atau bersarang pada dahan pohon. Mencari kunang-kunang, atau tongeret yang terenggut habitatnya. Polisi menyisir kedai-kedai kopi memberi suplai yang kurang asupan tembakau. Mereka berteriak, “Sastra-sastra koran mulai membosankan.”

Puisi Mohammad Ali R, Kisah

Baru saja aku pergi meninggalkan senyummu
Aku bersaksi atas keindahannya
Aku ingin waktu yang kekal
Diam tak berderak
Ketika aku tiada,
kau tetap indah,
bahkan selamanya
Tak jadi masalah,
Aku tertimbun kisah.

Yogyakarta, 02 Januari 2019

Kau malah menguap. Namun tetiba panik. Petrikor menyeruak. Jemuran katamu belum sempat dibakar. Tinggalkan noda darah kala membunuh sepi. Aku menenangkan. Sesekali biarkan hujan gemas lantaran ada yang tak bisa ia padamkan. Ada yang tak bisa dikendalikan, termasuk sirine ambulans yang kini mulai terdengar nyaring bersahutan.

“Bagaimana bila kita melanjutkan membaca puisi ini di atas sapi?” tawarku.

Kau menolak. Aku menuntun sapi sendirian akhirnya. Kau malah digendong monyet Kaliurang yang kerap mengambil mendoan dan meminum susu di kafe Warung Ijo.

Lalu sampailah kita di Jalan Karbala. Matamu tertuju pada buku puisi souvenir, alamat memintaku membacakan puisi lagi.

Puisi Mohammad Ali R, Getarmu

Lihatlah kemari,,,!
Kau merasakannya, bukan?
Semuanya abadi menjadi kata-kata
Ada namamu, bersemayam di sini

Aku hanya tak ingin jatuh cinta
Ada luka yang sama,
Perih yang sama
Keduanya menyayat habis
Enyahlah aku.

LKIs, 23 Oktober 2018

Jaswadi-jaswadi sisa berserak di Jalan Baru. “Mengapa?” tanyamu. Rahim enggan dulu dibuahi. Apa karena takut bakal calon menjadi aparat penutup jalan menjelang tahun baru, atau menjadi pemberontak yang akan ditembak mati.

Namun kali ini kita berdua melewati lampu merah. Jalan kian sempit, mobil terparkir sembarang menghalang bahu jalan. Ditambah sirine bukan ambulan. Pengiring mobil mewah. Bus-bus trans harus menepi, membawa banyak penumpang. Harus mengalah menebalkan dada yang tabah.

Melalui spion yang terbuat dari bintang jatuh, kau sedang mengamati antologi puisi souvenir itu. berjudul, “Kau” ilustrasi cover karya Chocohanis, memegang sebatang rokok dengan asapnya yang mengandung ragam tragedi manusia.

Puisi Mohammad Ali R, Orang Beragama

Orang beragama itu
Layaknya orang ngopi, lhoo
Boleh tidak suka kopi orang lain
Tapi, hanya berhak kritis atas kopinya sendiri

Orang beragama itu
Layaknya orang ngopi, lhoo
Boleh memesan rasa apa saja
Tapi, tak berhak memaksakan rasa yang ada

“Wah. Ternyata tidak hanya soal puisi cinta.” Ujarmu.

Aku tak bergeming.

“Orang bersenggama itu…” Imbuhmu dengan ujaran yang menggantung.

“Apa?”

Kau tak bergeming.

Kau malah mengalihkan tak melanjutkan gumamanmu sendiri. “Bahkan kopi merupakan media yang netral untuk membahas apa pun di kota ini. Tidak hanya soal cinta, bahkan soal agama. Mungkin juga kopi begitu tabah mendengarkan apa pun dari penikmatnya. Dengarkan puisi-puisi Ali yang lain perihal cinta.”

Kopi yang seharusnya sudah terminum, tak terminum.
Terus-terusan aku mengaduknya, ingin kutemukan bayangan meski tak serupa denganmu.

Oooh. Ujaran kita memang hanya jeda membaca puisi itu. Tapi tak lain adalah kekaguman. Kedalaman. Kena!

Lalu, kita beranjak ke dalam api. Mengetuk pintu untuk bersembunyi dari dingin malam. aku bercerita kepadamu bahwa puisi souvenir juga berasal dari cecer status WhatsApp. Banyak orang berkata-kata, namun sebagian enggan menamainya puisi.

Puisi Hasvirah Hasyim N, Dua Centang Biru

Malam itu aku tak dapat tidur, Yono
di langit kamar tikus-tikus riuh sekali
seperti sedang turnamen futsal

Kadang juga aku terjaga
sebab sekitarku
seperti banyak sekali makhluk halus yang
menjawil-jawil
semakin kupejamkan mata
semakin nyata kurasa bergidik

Di lain waktu
kudapati mataku terang sekali
kutuduh kopilah penyebabnya
aku kelebihan kafein, Yono
dadaku terus berdebar

Butuh bermalam-malam
untuk dapati diriku tiba pada kesadaran
agar berhenti menyalahkan apa pun
telah sampai pemahamanku
bahwa yang menghantuiku tak lebih
karena rinduku padamu

Bagaimana kabarmu?
Bila sempat tolong balas satu saja dari sekian pesanku yang masuk di WhatsApp-mu

“Atau… syahdunya puisi tanpa judul.” Kau bersiap membacakan dengan teduh.

-Puisi Dyah Putri M

Sayang…
Aku ingin menjadi ‘Rumah’
tempatmu berpulang
dari letihnya setiap aktivitasmu

—2 Agustus 2019

“Kau yakin malam ini kita akan tidur di dalam api?” Tanyaku, melihatmu yang sudah berkali-kali menguap.

“Ini tidak akan lama. Dengarkan puisi-puisi singkat M. Saifullah…”

Saat malam
rindu itu jadi dogma, Siti
Tidak usah kamu lawan
Izinkan dia menang

—5 September 2018

Seandainya, aku bisa selalu duduk di sini
Di sampingmu, Siti
Buat apa harus menunggu kematian
Untuk sampai ke surga?

—21 April 2019

Beruntungnya diri kita, Kekasih. Bisa sedikit mendapat bocoran rahasia dari kota yang menjadi klasik dari syair-syair yang tumbuh sebagai daun gugur. Tak banyak orang berkesempatan membacanya. Apalagi memahaminya. Sebab puisi souvenir tak diterbitkan. Ia hanya diberikan Penerbit Contradixie kepada pelanggan-pelanggannya. Beruntung!

Jalan Setapak Menuju Mata Air

aldiantara.kata

Kerendahan Hati

– Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan kecil
Tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air
Tidaklah semua orang menjadi kapten tentu harus ada awak kapalnya
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya dirimu
Jadilah saja dirimu
sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Latar sebab mengutip puisi kerendahan hati karya Taufik Ismail di atas sederhana. Aku merindukan adik kecilku di kampung halaman. Aku meminta foto. Namun Ibuku mengirimkan video tugas sekolah adik untuk membacakan sebuah puisi.

Entah intuisi seperti apa yang mendorong Taufik Ismail untuk tergerak menulis puisi indah itu. Tanpa perlu membacanya berulang-ulang, puisi tersebut sederhana namun memiliki makna yang dalam.

Garis-garis takdir memang seperti halnya celah jalan air yang bercabang. Kepada muara yang satu, manusia memiliki peran dan jalan yang berbeda, namun tetap sebaiknya memberi manfaat kepada sesama.

Membaca puisi kerendahan hati karya Taufik Ismail berulang-ulang dapat juga sebagai obat bagi batin. Kerasnya persaingan dalam hidup, seringkali membuat manusia jengah. Hal yang menurutku sebuah nasib malang adalah seorang yang menginginkan kepada nasib ‘baik’ orang lain, tanpa dibekali pengenalan terhadap potensi diri sendiri. Keadaan itu kerap membuat lupa setiap-tiap diri sejatinya membawa peran yang unik bagi kehidupan.

Sayangnya, ada sebagian orang tak berhenti beraktivitas agar tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Ia takut memulainya dari awal, merintis jalan sunyi yang terlanjur ditumbuhi rumput liar yang meninggi.

Puisi sebagai mantra, menjadi kabar baik bila menjadi bahan bacaan bagi siswa-siswa di sekolah. Lihatlah puisi itu ditulis oleh adikku dengan tulisan tangan, kemudian dibacanya beberapa kali hingga akhirnya ia bacakan sebagai tugas sekolah.

Puisi kerendahan hati karya Taufik Ismail juga menunjukkan bahwa berbicara puisi berarti berbicara lika-liku hidup. Ia tidak sesempit berbicara tentang patah hati, menyek-menyek atau soal ‘cinta’ yang bikin geli membacanya. Puisi bisa juga menjelma sebagai teman pribadi dan rahasia.

Jadilah saja dirimu
sebaik-baiknya dari dirimu sendiri.

Sebatas Rela

Oleh: Azki Khikmatiar

Setelah segalanya berakhir pucat pasi,
Belum puaskah kau membuatku terus
menulis puisi?
Memungut kata demi kata yang tercipta
dari sebuah lara menuju sebatas rela
Menyusun asa yang telah lama putus
Merajut kabar dari debar yang barbar
Berulang kali; lagi dan lagi!

Seringkali sesuatu yang kuyakini
tak kunjung bisa kau pahami
Amarah terbelah tak tau arah
Rumah berubah tak lagi indah
Ramah merekah bersama gelisah
Melangkah dengan berdarahdarah
Kemudian jatuh hingga menyisakan
segenap luka yang tak kunjung sembuh

Dan kau tau bukan?
Segalanya sempat begitu rapuh
Sebelum kau menjadikannya utuh
Sepertinya kita samasama terjebak
Pada rasa takut yang menyeruak
Pada getir yang telah lama terukir
Ah! Barangkali ini adalah takdir!
Dan untuk yang terakhir kalinya,
Izinkan aku mengabadikanmu
dalam katakata; diantarakata!

Slawi, 26 Oktober 2021

Monolog Hari Lahir

Oleh: Azki Khikmatiar

Pada hari ini, dua puluh enam tahun lalu
Aku dilahirkan tepat pukul duabelas siang
Kehidupan menyapaku dengan raguragu
Takdir dituliskan bersama doadoa panjang
Mengapa semua orang tertawa?
Padahal aku terus menangis!
Sial! Aku belum mengerti apapa kala itu!

Dua puluh enam kali sudah,
Aku berjalan sejauh kaki melangkah
bahkan seringkali tanpa arah;
Berkenalan dengan diantarakata
Bertemu sebuah jalan bahagia
Mengharmonikan muasal sesal
Menyatukan enigma rasa
Menikmati hiruk pikuk malam minggu
Menghitung hujan di kota
Diajak berziarah ingatan
Terjebak dalam labirin hampa
Dipaksa untuk hidup normal
Kembali ke kampung asing
Hingga memutuskan puasa berpuisi
Padahal aku menganggap segalanya
adalah akhir yang belum selesai
Dan aku masih mengingat semuanya!

Pada hari ini, dalam setiap tahunnya
Aku merenungi sisasisa usia
yang semakin mendekati alpa
Ternyata semakin dewasa, isi kepala semakin sesak dengan tanda tanya
Mimpi mana yang belum menjadi nyata?
Masalah apa yang belum selesai?
Mau menjalani hidup seperti apa?
Mau jadi apa atau mau jadi siapa?
Apalagi yang harus dikejar?
Apalagi yang harus dicari?
Apalagi yang harus dikorbankan?
Apalagi? Apalagi? Dan apalagi?
Lantas, mau sampai kapan?

Dua puluh enam tahun, aku telah belajar
banyak hal, tapi semakin banyak aku belajar
justru semakin banyak aku tak mengerti
Aku belajar mencintai banyak orang,
tapi orangorang yang kucintai justru membenciku pada akhirnya
Aku belajar membenci banyak orang,
tapi orangorang yang kubenci justru mencintaiku pada akhirnya
Aku belajar menjadi orang baik, tapi
orangorang menganggapku jahat
Aku belajar menjadi orang jahat, tapi
orangorang tak menganggapku baik
Dasar bedebah!
Mengapa semua ini membingungkan?

Hari ini, aku berdiri mengenang semuanya
Melihat pada masa yang telah lalu
dan aku belum menemukan sesuatu
yang bisa kubanggakan
Sebentar!
Memangnya manusia diharuskan untuk mempunyai sesuatu bernama kebanggaan?
Bagaimana jika satusatunya sesuatu yang bisa dibanggakan adalah ketidakbanggaan?
Ah, sudahlah! Lupakanlah!

Moga, 30 September 2021

Mati Suri

Oleh: Nurhidayah

Aku mengaduh sepanjang malam
Menahan nyeri dibalik rintihan
Pucat pasi mewarnai bibir yang menggetar tak karuan
Menggigil raga tiada henti

Fajar masih remang-remang
Mentari tak kunjung terbit menyambut siang
Tubuh membasah bermandikan keringat resah
Seolah jengkalan maut memutus nadi

Seketika tubuh terbujur kaku
Bibir terkunci membisu
Dalam hati aku bertanya “Apakah ini yang disebut sakaratul maut?”
Detik-detik menegangkan aku tak sadarkan diri

Sukma dan raga serasa berpisah
Pada yang kuasa aku hanya berserah
Pada takdir pun aku berpasrah
Harapku sempat hilang tuk melihat mentari di lain pagi
Kukira aku sudah disurgawi
Ternyata aku hanya mati suri

Ziarah Ingatan II

Oleh: Azki Khikmatiar

Kota bahari adalah sebuah ingatan
yang tak mampu kuziarahi sendiri
Jawaban yang kita cari selama ini
adalah sebuah siasia tak bertepi
Katakata yang tercipta diantarakita
hanya merupa luka diantarakata

Cerita panjang yang pernah
kita buat berdua, berakhir singkat
sebelum sebuah sepakat
Rasa cinta yang pernah
kita rawat dengan segenap harap,
harus layu bersama cemburu
Citacita besar yang pernah
kita semogakan berdua, satu
persatu hampa melebihi jelaga
Ah! Semuanya abadi dalam pusara!

Apakah kau masih bersedia
menziarahi segala ingatan
tentang kita, sekali lagi? Katamu.
Berdalih bahwa segala sesuatu
yang terjadi antarakita adalah takdir
Mengutuk perpisahan yang tercipta
dari jarak yang tak kunjung berakhir
Dasar pecundang!
Mengapa kau datang setelah
yang tersisa hanya sebuah kenang?
Bukankah kita bisa saling mengingkari
daripada kembali mengeja arti?
Ah! Tak perlu lagi basabasi!
Semuanya mati tanpa kompromi!

Kota Bahari, 1 September 2021