Tag: diantarakata

Pidato Pemimpin Partai yang Enggan Aku Sebut Namanya

“Ini bagaimana, kok tidak ada suaranya?” dengan tiba-tiba, menunjukkan kepadaku, seorang kakek, memicingkan matanya, meski telah berkacamata, layar gawainya yang sedang memutar video berisi pidato seorang pemimpin partai yang enggan aku sebut namanya.

Maka aku melihat kepada layar gawai, di mana terdapat simbol bebunyi yang masih dibiarkan sunyi. Aku menyentuhnya. Suara pidato dipenuhi dengan gemuruh tepuk tangan.

Suara pidato pemimpin partai tersebut memenuhi seisi ruang tunggu halte yang memancing perhatian penumpang yang menunggu bus kota yang datang tak dapat dikira-kira.

Aku melanjutkan membaca sebuah manuskrip yang berisi syair-syair.

Rupanya kakek sebelahku sedari tadi memperhatikan apa yang sedang kubaca. Sesekali ia menyapu keningnya yang berkeringat.

Ia berkata, “Bagaimana bisa engkau tak mampu mendengar suara-suara dalam keindahan puisi yang kau baca? Sementara bait-bait di dalamnya berikan kepada kita suara-suara nurani yang tak mampu didengar oleh seorang yang belum dihinggapi cinta?”

Di rumah itu mereka tinggal berdua.
Bertiga dengan waktu. Berempat dengan buku. Berlima dengan televisi. Bersendiri dengan puisi.

“Suatu hari aku dan Ibu pasti tak bisa lagi bersama.”
“Tapi kita tak akan pernah berpisah, bukan?”
Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma.” (Puisi Joko Pinurbo-Jendela)

Claw Machine

Suara, “Lima ribu?” baru saja pecah pada pikiranku, mengingat seorang lelaki paruh baya yang membeli koin-koin untuk bermain claw machine pada pukul sepuluh malam.

Sesekali ia melenguh, boneka yang ia capit, harus terjatuh. Aku masih membenarkan tas berisi kudapan malam yang baru saja kubeli pada sebuah toko kecil yang jauh dari tempatmu berada kini.

Pria tersebut sesekali, kuperhatikan membenarkan tas yang menyelempang pada bahunya yang lebar, lalu ia menghitung sisa-sisa koin tersisa untuk kemudian bermain lagi.

“Lima ribu?” sebagaimana suatu tanya, yang kemudian membuatku teringat, tentang siapa yang berujar tanya, malam itu, yang baru kuingat malam ini, ternyata merupakan suara kasir penjaga yang memastikan pria tersebut hendak bertransaksi membeli koin-koin claw machine untuk kemudian memainkan “dadu”-nya.

Pria tersebut tuna wicara. Berpakaian berbeda, dengan tas yang sama, lenguhan yang sama.

Aku tetap membeli susu untuk malam itu, dengan tas berisi kudapan malam yang kurapikan pada bidang kendaraan, sembari melihat pria paruh baya tersebut memainkan claw machine. Malam itu. Dengan sisa koin-koin yang dengan erat ia genggam.

Aku pulang. Ke rumah.

Ia tercapit oleh keinginannya, kerinduannya, kesepiannya, serta angannya yang membuatnya datang, sekaligus. Malam itu.

Ibu Hendak Pergi Ke mana?

Dalam sebuah lampiran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, yang dibuat oleh seorang mahasiswa (calon guru) anonim, ia melampirkan soal ujian yang harus dijawab oleh siswa-siswanya.

Di dalamnya tertulis,

Ibu hendak pergi ke pasar membeli dua kilogram jeruk, tiga kilogram alpukat, satu kilogram tomat dan cabai, serta tiga kilogram beras. Tidak ada ungkapan tanya, seperti, “Berapa?” pada cerita ini. Karena Ibu tidak memiliki uang.

Ibu hendak pergi ke pengajian di masjid desa. Namun melalui kabar angin yang entah dapat dipercaya atau tidak, Ibu mendengar di serambi kiri dan kanan masjid, suara ustaz-ustaz bersahut-saing mengambil hati jemaah. Ibu tidak jadi berangkat, Ibu memutar pengajian melalui YouTube.

Ibu tidak kemana-mana. Tidak membeli apapun. Namun Ibu merenung bagaimana caranya memenangkan kehidupan?

Tentang

Tentang susunan kata pada lirik lagu, yang sedang kita baca, sudah menjadi takdirnya ia akan dicintai menjadi nada. Kemudian menyentuh sudut memori pendengarnya.

Tentang sebuah sabda Nabi, mengenai larangan melukis dan membuat patung. Dahulu sempat dilarang lantaran umatnya belum sembuh dari syirik. Apakah menjadi pantas bila sabda tersebut kini menjadi hidup. foto-foto caleg menjadi sembahan-sembahan baru.

Lalu hujan sore tadi, menyeka air mata pada senyum-senyum palsu pada foto jajar baliho.

Tentang pengetahuan yang dicari melalui penelitian. Apakah ia tercipta dari ruang dialektika yang hangat, atau suatu kerja sunyi yang tiba-tiba tercipta.

Hujan yang Datang Tepat Waktu

Apakah masih sama tafsirannya, tentang kereta api, sepeda yang terparkir menjadi pagar, pematang di belakangnya, di antara waktu yang memburu. Di antara candi-candi yang tak pernah sepi dari peziarah.

Bagaimana tentang hujan, yang tiba waktu petang, apakah rintiknya, pernah, singgah, menjadi rintikmu, yang kini jadi rintikku, menakali tubuh kita, juga membasahi kata-kata di dalamnya, yang tak sempat terucap.

Bukankah kelabu langit, ialah sama abu nya dengan pertanyaan “kapan temu itu?” yang tidak ada pada deretan angka almanak pada dinding dingin itu. Barangkali engkau sudah pandai berkilah, bahwa akhir-akhir ini, rintik-rintik yang selalu kusebut-sebut, di mana ia selalu membawa kawannya yang berisik bernama angin, tidak pernah datang terlambat, selepas sembahyang Asar.

Apakah masih sama tafsirannya, tentang rasa sepi, sebuah temu yang selalu mencari ujung temali, batas akhir, meminta kita untuk pulang.

Bagaimana tentang rindu, yang tiba sebagai temaram, apakah masih aku dalam bayang setengah gelapmu itu, dalam dekap, yang tak perlu kata-kata di dalamnya, yang hendak diucap.

Bukankah parau suaramu, yang susah untuk menjelaskan itu, adalah keindahan, ketimbang engkau mudah menitip lewat sebuah lagu.

Jauh dalam Labirin yang Bernama Ingatan

Setelah kau melihat pemandangan jendela, hujan deras yang turun sore itu, di perpustakaan, yang bahkan tariannya yang memeluk tanah tak sampai kepada telinga kita.

Buku-buku selesai dibaca, tangan kesekian yang menjadi takdir menengahi pertemuan, yang kau baca satu per satu judulnya, lalu engkau sisihkan tanpa melihat tanggal dan tahun lahirnya.

Jauh di dalam labirin yang bernama ingatan, tersusun dengan rapi memori-memori ini. Tentang pakaian yang engkau kenakan, buku yang engkau baca, letak rak buku yang sempat kau sentuh, tatapan sekelibat yang kutangkap, daftar pengunjung yang kau isi dengan pena berwarna merah, pendingin ruang yang tak membuat dingin, detak jam yang berbunyi saban jarum panjang tepat di angka dua belas, suara-suara obrolan pengunjung yang tak kita usik, tumbler minuman yang selalu terisi penuh, jemarimu yang lentik, pertanyaan petugas “Apakah sudah selesai dibaca?”, derit kursi yang kau ubah posisinya, penghapus yang sempat jatuh dua kali (aku yang mengambil), tisu yang terlipat dan engkau masukkan ke dalam saku, bunyi tit pinjaman buku online, bunyi “pinjaman ini gagal, silakan menuju petugas”, ketekunan saat kau menulis ikhtisar dari buku yang engkau pinjam, seorang yang meminjam kursi kosong di sebelah kita, bebunyi di mana engkau meluruskan persendian, serta rinduku, yang sempat kau pinjam, sekarang, kembalikan!

Kursi Kosong

Adalah kursi kosong, menjadi tatapan khalayak. Adakah setelah sebelum terisi, para pendukung menjadi kian fanatik dan anti-kritik,

Atau mengharapkan keindahan musim gugur, dengan berjalan mundur dan membatalkan semua praduga yang telah lama ia peluk.

Meninggalkan keyakinan lamanya, untuk bersikap arif dan mencatat pada sebuah buku yang ia punya, kelusuhan begitu sering dibuka, serta pena dengan tinta yang tersisa sedikit, menuliskan penerimaan-penerimaan terhadap orang lain, serta membuka simpati atas nama kemanusiaan.

Kini,

Tersisa, perdebatan melawan suara dalam pikiran sendiri, suara hati yang tak terdengar kedalamannya di dalam palung.

Semua menjadi tegang, tiada pembacaan puisi-puisi yang memancing rahmat.

Terpisah Jarak Di Bawah Hujan

Betapa malang, burung-burung kenari, terpisah jarak di bawah hujan, mencuitkan asumsi-asumsinya sendiri, kegamangan-kegamangannya sendiri, kehampaan-kehampaannya sendiri, kesepian-kesepiannya sendiri, kerinduan-kerinduannya sendiri. Tanpa berani mengadu di depan paruhnya, lantaran enggan bertaruh.

Ia bertengger di atas dahan secara bebas, namun terkungkung oleh pikirannya sendiri, tanpa nyali, tanpa berani.

Prediksi Cuaca

aldiantara.kata

Bisakah kata-kata, menjadi diksi yang susah payah seorang susun, yang kemudian ia ungkapkan kepadamu, sekali saja, bahkan berulang-ulang, engkau dengarkan baik-baik, jangan disikapi sama halnya sebagai sikap scroll postingan terbaru media sosial, sesaat lalu menguap dan berlalu.

Sebagaimana langit pagi, yang sudah ditamui awan, sekelebat hilang menjadi terik. Cuaca memang tak taat aturan sebagaimana prediksi pada layar gawai.