Martalia A.

Kau berdiri dengan wajah menengadah mentari, seketika jiwaku tersihir oleh terik yang terbaca.
Aku masih di sini, berusaha tidak terpukau, tapi hatiku terlanjur jatuh terlalu dalam
Berusaha mengorek setiap lekuk wajah dan tubuhmu, mencari bagian kosong yang mungkin pantas untuk dipijaki oleh rasa ini.
Terbayang bagaimana kau bertutur begitu lugas, ketika aku bahkan tak sanggup mencerna tiap jeda kata.
Terpikir bagaimana kau membentuk angan, sedang aku hanya mampu terpojok dan terasing dalam bayang-bayang, dan memandang angan-anganmu.
Terlalu berat jikalau aku mendekati setiap tafsir pikiranmu, sedang aku bahkan tak tahu apa itu buku atau sesepele melucu.
Mungkin memang sudah takdirku di sini, bersemayam pada balik bahumu yang kekar
Bersenandung lirih tiap kali kau bernyanyi, tertawa kecil tiap kali kau bercanda, dan memandang kagum tiap kali kau bercerita.
Kenyamanan ini tumbuh mengakar pada tiap sisi diri, terlalu sulit memantaskan hingga mungkin yang terbaik adalah aku berteman dengan lantai dan tanah
Bila kau ingin mencari arah yang benar, aku bisa mencarikan cara terbaik bagaimana sebaiknya kau melangkah.
Meski mungkin, itu bukan langkah yang tepat untuk pesta yang tepat
Sejauh ini di titik aku terpaku, mendengarkan tuturmu tentang bagaimana dunia berseteru, atau ketika alam ini mulai bertingkah.
Kau dengan berbagai pustakamu melegenda, sedang aku hanya mampu tersenyum pada tiap sisi matamu yang tajam.
Tuan…
Aku mengaku… telah tergoda menggapaimu.
Tuan…
Aku tahu, aku hanya bayang-bayangmu.
Aku tahu, aku hanya gelap saat terang dan tiada saat petang.
Dan wujudku memang hanya sebatas.
Sebatas yang memandang, dan sebatas yang terbuang