Oleh: Martalia A.

Sudah bertahun-tahun aku melangkahkan kaki dalam kesulitan yang tiada berarti. Menyadari bahwa mungkin hal yang membuatku gagal ini akan berlalu dan punya waktu. Terus menggerakkan setir kehidupan ke barat, timur, ke segala penjuru mata angin. Tapi kesadaranku untuk bangkit dan mengenal suatu pencapaian tak bisa terendus cikalnya. Apa mungkin aku yang terlalu congkak? Terlalu sombong hingga lautan yang ingin kujadikan tempat mengarung malah menyiratkan segaranya. Atau terlalu bodoh sampai-sampai tidak tahu bahwa semesta memang sedang murka padaku.

Pagi ini aku menalikan sepatuku, sangat rumit. Simpul yang biasanya kupakai, hari ini tiba-tiba tidak lagi mampu menguatkan tapak kakiku. Aku terheran-heran. Tidak biasanya juga kemeja yang kupakai lusuh. Bahkan biasanya selalu rapi tak ada lipatan satu pun yang tampak. Aku terus mengeluh, tapi entah pada siapa dan apa. Dengan cara yang bagaimanapun aku tak tahu.

Kuambil kunci kendaraanku, lalu menyelempangkan tas seperti biasanya. Harusnya hari ini cerah, tapi tampaknya langit sedang menggerutu padaku. Apakah harusnya aku tak pergi? Tidak, aku harus terus berjalan. Aku pun berlalu dari pintu yang selalu melambaikan salam jumpa padaku. Menghela napas amat berat karena mungkin lagi dan lagi aku tak berhasil. Benar dugaanku, hujan deras mulai menampakkan dirinya. Kurelakan tubuhku basah, terombang-ambing angin yang merasuk sampai ke paru-paru. Rasanya sungguh menggigil.

Harus bagaimana lagi? Harus ke mana lagi? Apakah pantas aku terus berusaha untuk berjalan. Sedang tubuhku tidak sanggup menggapainya. Guntur menggelegar, aku amat butuh tempat berteduh. Aku butuh kehangatan. Aku butuh pelukan. Aku ingin kenyamanan yang memelukku setiap kali aku sakit dan terluka.

Aku ingin… pulang.

Meski harus terseok-seok sembari memaksa diriku menelusuri jalan lagi. Setidaknya itu jalanku pulang. Jalanku untuk melepaskan semua kecongkakan, kebodohan, kerumitan hidup. Dan kembali bersandar pada kehangatan. Di tengah peliknya jalan menuju sukses yang diharapkan, setidaknya ada rumah untuk pulang.