Perpus Jalanan Kotagede

aldiantara.kata

Pasar Kotagede, Jalan Mentaok. Malam meredam suara-suara. Transaksi-transaksi terselenggara secara hening. Toko satu per satu tutup. Beberapa orang termangu menikmati malam. Lapak Perpustakaan Jalanan Kotagede tergelar di jalan persimpangan pasar. Beberapa pengendara mencuri pandang terhadap buku-buku.

Kapan terakhir membaca buku. Kapan terakhir menamatkan buku. Kapan terakhir menuju perpustakaan…

Meski perpus jalanan ini sempat terhenti lantaran pandemi, sudah dua minggu kembali berjalan. Dari buku novel ayat-ayat cinta hingga seni bercinta. Dari Fiersa Besari hingga sejarah HMI. Tidak usah buru-buru hendak selesaikan bacaan. Buku adalah pasangan. Jangan terburu untuk ejakulasi.

Robby sebagai founder perpustakaan menyuguhkan kopi. Bekal bercengkerama dengan dingin malam. Tidak ada lagu-lagu saat itu. Suara-suara manusia dan gelak tawa menjadi melodi. Asap-asap rokok mengepul sebagai tarian. Pertanyaan kabar ditujukan kepada kawan yang datang. Gadis kecil datang membaca novel sambil berdiri. Seorang Ibu menghampiri menatapi judul-judul buku satu demi satu. Membaca buku perlu berada dalam situasi yang sunyi. Membaca buku terkadang perlu berada dalam situasi keramaian khalayak.

Kemarilah dan ramaikan Perpustakaan Jalanan Kotagede. Setiap malam Jum’at bakda Maghrib. Pikiran-pikiran perlu bertukar, tidak cuma nikmat tukar saliva saat dalam kegelisahan yang memburu.

Perpus-Jalanan-Kotagede
Perpustakaan Jalanan Kotagede
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Aku datang bersama Ikal sisa vulkanik Merapi. Ia katakan, pandemi merubah segalanya. Buku-buku yang dibawa semalam tidak sebanyak biasanya. Aku memilih satu buku untuk dibaca di bawah jingga lampu kota. Sementara Ikal sepertinya tak terbiasa untuk membaca dalam keramaian. Ia asik bermain-main dengan cinta segitiga antara dirinya, dingin malam dan tembakau yang turut menghisap kecanduannya.

Perpus-Jalanan-Kotagede
Perpustakaan Jalanan Kotagede
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Lihat si Ikal membawa apa. Ia membawa buku tugas akhir sepasang mahasiswa-mahasiswi fotografi Institut Seni Yogyakarta yang mendokumentasikan Perpustakaan Jalanan Kotagede. Foto yang disajikan begitu ciamik.

Aku malah baru terbesit sesuatu, tentang peran penting seorang pemain versatile. Versatile dalam sepakbola berarti pemain serbaguna yang dapat bermain di beberapa posisi. Biasanya posisi murninya sebagai pemain tengah. Ia bisa dijadikan bek tengah, bisa pula dijadikan sebagai penyerang bayangan. Aku sangat mengagumi Frenkie de Jong! Minim skill tapi visi bermainnya sangat tajam. Bahkan seringkali menjadi otak serangan FC Barcelona! Begitu juga dengan Joshua Kimmich dari Bayern Munich. Ia tak hanya kuat bermain sebagai pemain tengah, namun juga kuat sebagai bek sayap, ia memiliki akurasi umpan yang tinggi. Dalam keadaan sebuah klub yang diterpa badai cedera, terasa sekali pentingnya pemain-pemain versatile ini. Mereka bisa diandalkan ketika pemain-pemain andalan harus menepi lantaran cedera. Bahkan dapat memberikan warna baru permainan.

Aku malah berpikir pemuda-pemuda yang aktif di Perpustakaan Jalanan Kotagede merupakan pemain-pemain versatile! Bukan tujuan mereka sesungguhnya untuk mengumpulkan buku-buku yang baik, lalu melapak dan membuka perpus jalanan. Mereka masing-masing memiliki passion dan pekerjaan yang berbeda. Tentu saja terlepas dari spesifiknya alasan dibalik didirikannya Perpus Jalan Kotagede, semua perjalanan ini perlu diapresiasi. Meski mereka tak membutuhkannya.

Sekat-sekat kehidupan kita terlalu menjemukan. Kita terlalu malas keluar dari zona nyaman bahkan merintis segala yang baru. Biar pemain-pemain versatile ini yang turun tangan. Bukan tugas mahasiswa perpus saja yang harus menanamkan pentingnya literasi, atau bahkan duta baca yang sibuk plesiran hingga tak tau ujung pangkal. Kegelisahan memang tak bisa tidak untuk bergerak. Entah seberapa abu-abu eksekusi ide pada akhirnya. Toh penajaman tujuan kadang-kadang dilakukan setelah cukup jauh berjalan dan mengamati situasi.

Perpustakaan-Jalanan-Kotagede
Perpustakaan Jalanan Kotagede
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Aku mengisi malam itu dengan membaca. Sama seperti Ikal. Aku memilih buku yang berada di pojok kiri bawah. Penyusunan buku-buku barangkali dilakukan secara acak. Aku membaca buku Aku Malu Jadi Manusia, kumpulan puisi Cupay yang diterbitkan oleh Penerbit Ruaaksara pada tahun 2019.

Perpustakaan-Jalanan-Kotagede
Buku Aku Malu Jadi Manusia
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Baru saja membuka lembar cover, sudah ada kata-kata menarik: “Sayang, cinta itu terlalu picik, jika hanya bicara rindu dan selangkangan.” Entah buku ini secara khusus dihibahkan kepada perpus ini atau memang pesan ditulis oleh Cupay kepada para pembacanya. Atau bahkan bukan Cupay yang menulis, melainkan yang mengaku sebagai Cupay.

Perpustakaan-Jalanan-Kotagede
Halaman awal buku Aku Malu Jadi Manusia
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sekeliling mulai terabaikan. Buku mulai hendak memperkenalkan dirinya. Ia memegang kerahku agar mendengarkan ceritanya. Puisi-puisinya ditulis dibanyak tempat. Kegelisahan kerap mengikuti sang penulis seiring tempat yang disinggahi. Hampir setiap puisi yang ditulis selalu di tempat yang berbeda. Kritik sosial menjadi nafas dalam buku ini. Suatu kali ia berbicara mengenai pembredelan buku. Membatasi setiap  ide pemikiran yang dianggap mengganggu. Bila pembredelan masih relevan, maka kini melalui era media sosial, ide-ide yang dianggap menganggu sudah menyebar pada status, catatan-catatan, hingga buku-buku yang bahkan secara tak sengaja turut mengemukakan pemikiran-pemikirannya.

Hal terparah, tiada lagi pembredelan, sebab tidak sedikit orang-orang yang benar-benar membaca sebuah buku. Kapan perdebatan-perdebatan terakhir memanas membincang ketidaksetujuan terhadap kalimat sebuah paragraf buku. “Buku-buku masih saja dibredel agar HAM terbelenggu.”

Perpustakaan-Jalanan-Kotagede
Puisi Bredel dalam buku Aku Malu Jadi Manusia
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Bredel

Di detik demi detik
Jam berganti
Bulan makin kelabu
Tahun pun ingin mati
Buku-buku masih saja dibredel agar HAM terbelenggu

Puisi Cupay yang berjudul “Morse” pun menarik untuk dibaca. Rasanya tidak perlu bersusah payah untuk memahami maksud puisi di dalamnya. Puisi tersebut berbicara mengenai kerusakan alam dan pembangunan liar tak terkendali. Alam selalu memiliki caranya sendiri membalas keserakahan manusia. Maka jangan katakan ‘dampak’ yang terjadi sebagai bencana alam. Namun begitulah cara alam menjaga keseimbangan.

Perpustakaan-Jalanan-Kotagede
Puisi Morse dalam buku Aku Malu Jadi Manusia
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Morse

Jika petir memberikan morse kepada klannya
Makhluk-makhluk bumi harap siaga
Karna alam mempunyai caranya sendiri

Tangan-tangan serakah manusia
Akan dibalas oleh alam semesta

Jangan
Jangan katakan ini bencana alam
Tetapi ini bencana karna kita manusia
Kita manusia yang membayangkan alam adalah ladang duit

Buku Aku Malu Jadi Manusia selesai kubaca. Tak lupa kutaruh di tempat sediakala. Entahlah, sepanjang perjalanan pulang, kegelisahan kubawa. Nyaris tiada pesan-pesan harapan dalam kumpulan puisi bernada kritik ini. Dalam hal apapun kita butuh keseimbangan, bukan? Dalam gelapnya kenyataan, segetir apapun keadaan, pesan harapan dan optimisme harus tetap ada.

Kemarilah sesekali luangkan waktu untuk berkunjung ke Perpustakaan Jalanan Kotagede. Datang dengan senang, kemudian pulang dengan mengantongi kegelisahan. Tak perlu bersolek kenakan pakaian formal dan rambut klimis. Tak perlu kantongi alas kaki, simpan rapi agar tak hilang. Tiada pendingin ruang lantaran diganti selimut malam. Pesan kudapan atau kopi lalu bacalah buku sesuka hati. Membaca tak perlu syarat selain kesungguhan hendak membuka diri.

Tak ada salam literasi segala untuk menutup tulisan ini. Bacalah! Rawat kegelisahan agar tak cepat menguap. Membaca itu seperti oksigen, gratis! Seperti slogan Perpustakaan Jalanan Kotagede.

Instagram Perpustakaan Jalanan Kotagede

5 Comments

  1. Keren banget! Jadi Pengen mampir ke Perpusjal Kotagede 😍 Melayani peminjaman buku nggak ya, kak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.