Page 2 of 36

Camilan Tiga Buah

aldiantara.kata

Apa beda antara emosi tersirat yang tertuang dalam bait puisi, dengan puisi emosional yang tertahan pada kata-katanya. Dalam bait-bait, di sana berada ke“Sial, Ah, dan Anjing”an. Namun juga di sana ada bait-bait tanpa tanda seru, sepi tanda tanya, seperti mengutuk kekejaman terhadap korban HAM yang tak kunjung mendapat keadilan negerinya. Seperti puisi-puisi Sapardi yang bercerita mengenai Marsinah dalam Ayat-Ayat Api.

Camilan tiga buah. termakan dan meremah. Dengan cara apa kau memungutinya. Tercecer pada hari ini. Remah lain pada malam nanti. Remah potongan besar pada tahun depan? Remah-remah lain berada di bus malam menuju perbatasan kota. Sesaat setelah mendengar lagu musim penghujan yang selalu diputar berulang.

Lagu yang didengar pada musim penghujan. Bait puisi yang terngiang. Sirna. Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa seorang pun dari kita mampu menahannya.

Souvenir

aldiantara.kata

Cinta seharusnya tak dibicarakan, Juwita
tetapi kau dengarkan
Dari dada retak seorang penyair, cinta meneriakkan namamu.

-Mohammad Ali R, “Teriak Cinta”

Akhirnya, memiliki waktu juga. Membaca puisi, tanpa dikejar atau mengejar deadline tugas yang tak kian surut. Apakah waktu benar-benar bisa dimiliki. Mu yang berlari. Ku yang diburu atau memburu.

Seberapa tahan membaca sebuah puisi hingga tuntas. Dari sekian upaya menyerah dalami makna.

Pun jika hanya membaca puisi-puisi souvenir. Puisi tidaklah hanya. Ia adalah jelmaan kerumitan kehidupan manusia yang disampai secara indah, bahkan sekali pun kelam. Puisi tidaklah cuma. Puisi paduan ragam indera yang disampai melalui aksara. Pun jika membaca puisi-puisi souvenir. Puisi bukanlah pun. Ia adalah aksara-aksara pembawa suatu pesan penyair dalam lingkup tempat dan zamannya.

Ya, aku sedang membaca puisi souvenir. Tanpa hanya, cuma, dan pun.

Penyair menahan waktu. Ia menuliskan tempat tinggal dan tanggal setelah bait terakhir. Jejak di mana penyair merebahkan aksara-aksaranya. Meski bukan sebagai nama jalan. Namun sebagai jelmaan ingatan yang sangat pribadi. Melibat indera penglihat, pendengar, perasa.

Seperti manuskrip yang akan dikenang tiga windu mendatang. Tercecer. Bahkan puisi-puisi souvenir tak membutuhkan ISBN. Dengan ikhlas bercerita. Entah telah berapa gelas kopi yang telah dihabiskan. Gelas kecil minuman yang tak lebih memabukkan ketimbang kecamuk alam pikirannya. Atau sesi bercinta yang tak membutuhkan jeda.

“Sudahlah. Kau membual seperti politisi. Cepat ceritakan puisi-puisi di dalamnya.” Kau tak sabar hendak kubacakan.

Puisi Mohammad Ali R, Wajah Temaram.

Sayup-sayup wajah sore hampiri beranda
Senja perlahan melambaikan siluet
Angin sepoi menggoyang barisan padi
Temaram laksana keredupan hati

Di bawah lampu-lampu neon kedai kopi
Sepi seakan tak terbendung lagi
Kibarkan bendera tentang malam
Kau menjelma secarik puisi kesepian

Aku dengan sisa-sisa rindu yang kau telantarkan
Merenggut makna atas kemerdekaan
Tak gentar aku bak darah juang
Meleleh di bawah kumandang adzan

Sisa ampas kopi selalu tersia-siakan
Meratapi siksa tuan penikmat
Kau ingin datang
Atau, sebatas menjadi bayangan.

Bantul, 25 Maret 2018

Kau menyeka mata. Barista mulai bersiap-siap close order. Suara kendaraan terparkir berhambur pergi beralih. Ada yang pergi menuju bulan. Atau bersarang pada dahan pohon. Mencari kunang-kunang, atau tongeret yang terenggut habitatnya. Polisi menyisir kedai-kedai kopi memberi suplai yang kurang asupan tembakau. Mereka berteriak, “Sastra-sastra koran mulai membosankan.”

Puisi Mohammad Ali R, Kisah

Baru saja aku pergi meninggalkan senyummu
Aku bersaksi atas keindahannya
Aku ingin waktu yang kekal
Diam tak berderak
Ketika aku tiada,
kau tetap indah,
bahkan selamanya
Tak jadi masalah,
Aku tertimbun kisah.

Yogyakarta, 02 Januari 2019

Kau malah menguap. Namun tetiba panik. Petrikor menyeruak. Jemuran katamu belum sempat dibakar. Tinggalkan noda darah kala membunuh sepi. Aku menenangkan. Sesekali biarkan hujan gemas lantaran ada yang tak bisa ia padamkan. Ada yang tak bisa dikendalikan, termasuk sirine ambulans yang kini mulai terdengar nyaring bersahutan.

“Bagaimana bila kita melanjutkan membaca puisi ini di atas sapi?” tawarku.

Kau menolak. Aku menuntun sapi sendirian akhirnya. Kau malah digendong monyet Kaliurang yang kerap mengambil mendoan dan meminum susu di kafe Warung Ijo.

Lalu sampailah kita di Jalan Karbala. Matamu tertuju pada buku puisi souvenir, alamat memintaku membacakan puisi lagi.

Puisi Mohammad Ali R, Getarmu

Lihatlah kemari,,,!
Kau merasakannya, bukan?
Semuanya abadi menjadi kata-kata
Ada namamu, bersemayam di sini

Aku hanya tak ingin jatuh cinta
Ada luka yang sama,
Perih yang sama
Keduanya menyayat habis
Enyahlah aku.

LKIs, 23 Oktober 2018

Jaswadi-jaswadi sisa berserak di Jalan Baru. “Mengapa?” tanyamu. Rahim enggan dulu dibuahi. Apa karena takut bakal calon menjadi aparat penutup jalan menjelang tahun baru, atau menjadi pemberontak yang akan ditembak mati.

Namun kali ini kita berdua melewati lampu merah. Jalan kian sempit, mobil terparkir sembarang menghalang bahu jalan. Ditambah sirine bukan ambulan. Pengiring mobil mewah. Bus-bus trans harus menepi, membawa banyak penumpang. Harus mengalah menebalkan dada yang tabah.

Melalui spion yang terbuat dari bintang jatuh, kau sedang mengamati antologi puisi souvenir itu. berjudul, “Kau” ilustrasi cover karya Chocohanis, memegang sebatang rokok dengan asapnya yang mengandung ragam tragedi manusia.

Puisi Mohammad Ali R, Orang Beragama

Orang beragama itu
Layaknya orang ngopi, lhoo
Boleh tidak suka kopi orang lain
Tapi, hanya berhak kritis atas kopinya sendiri

Orang beragama itu
Layaknya orang ngopi, lhoo
Boleh memesan rasa apa saja
Tapi, tak berhak memaksakan rasa yang ada

“Wah. Ternyata tidak hanya soal puisi cinta.” Ujarmu.

Aku tak bergeming.

“Orang bersenggama itu…” Imbuhmu dengan ujaran yang menggantung.

“Apa?”

Kau tak bergeming.

Kau malah mengalihkan tak melanjutkan gumamanmu sendiri. “Bahkan kopi merupakan media yang netral untuk membahas apa pun di kota ini. Tidak hanya soal cinta, bahkan soal agama. Mungkin juga kopi begitu tabah mendengarkan apa pun dari penikmatnya. Dengarkan puisi-puisi Ali yang lain perihal cinta.”

Kopi yang seharusnya sudah terminum, tak terminum.
Terus-terusan aku mengaduknya, ingin kutemukan bayangan meski tak serupa denganmu.

Oooh. Ujaran kita memang hanya jeda membaca puisi itu. Tapi tak lain adalah kekaguman. Kedalaman. Kena!

Lalu, kita beranjak ke dalam api. Mengetuk pintu untuk bersembunyi dari dingin malam. aku bercerita kepadamu bahwa puisi souvenir juga berasal dari cecer status WhatsApp. Banyak orang berkata-kata, namun sebagian enggan menamainya puisi.

Puisi Hasvirah Hasyim N, Dua Centang Biru

Malam itu aku tak dapat tidur, Yono
di langit kamar tikus-tikus riuh sekali
seperti sedang turnamen futsal

Kadang juga aku terjaga
sebab sekitarku
seperti banyak sekali makhluk halus yang
menjawil-jawil
semakin kupejamkan mata
semakin nyata kurasa bergidik

Di lain waktu
kudapati mataku terang sekali
kutuduh kopilah penyebabnya
aku kelebihan kafein, Yono
dadaku terus berdebar

Butuh bermalam-malam
untuk dapati diriku tiba pada kesadaran
agar berhenti menyalahkan apa pun
telah sampai pemahamanku
bahwa yang menghantuiku tak lebih
karena rinduku padamu

Bagaimana kabarmu?
Bila sempat tolong balas satu saja dari sekian pesanku yang masuk di WhatsApp-mu

“Atau… syahdunya puisi tanpa judul.” Kau bersiap membacakan dengan teduh.

-Puisi Dyah Putri M

Sayang…
Aku ingin menjadi ‘Rumah’
tempatmu berpulang
dari letihnya setiap aktivitasmu

—2 Agustus 2019

“Kau yakin malam ini kita akan tidur di dalam api?” Tanyaku, melihatmu yang sudah berkali-kali menguap.

“Ini tidak akan lama. Dengarkan puisi-puisi singkat M. Saifullah…”

Saat malam
rindu itu jadi dogma, Siti
Tidak usah kamu lawan
Izinkan dia menang

—5 September 2018

Seandainya, aku bisa selalu duduk di sini
Di sampingmu, Siti
Buat apa harus menunggu kematian
Untuk sampai ke surga?

—21 April 2019

Beruntungnya diri kita, Kekasih. Bisa sedikit mendapat bocoran rahasia dari kota yang menjadi klasik dari syair-syair yang tumbuh sebagai daun gugur. Tak banyak orang berkesempatan membacanya. Apalagi memahaminya. Sebab puisi souvenir tak diterbitkan. Ia hanya diberikan Penerbit Contradixie kepada pelanggan-pelanggannya. Beruntung!

Hujan Di Bulan November

Oleh: Azki Khikmatiar

Aku selalu suka hujan
yang turun di bulan november
Jatuh mengalir memenuhi alam ingatan
Rinai memberai rentetan kenangan
masa lalu yang telah lama membatu
Seperti mesin waktu;
Seakan membawamu kembali padaku
Melewati harihari bersama
Berbagi canda tawa bahagia
Menukar rindu dengan temu
Percakapan tanpa kesimpulan
Menghitung rintik hujan
Dan sesekali ada pertengkaran!

Aku selalu suka hujan
yang turun di bulan november
Mengingat yang seharusnya dilupakan
Melupakan yang seharusnya diingat
Aku mengingatmu lewat puisi
sedang kau mengenalku lewat
hujan di pagi hari, katamu!
Tapi, bukankah kau benci puisi?
Bukankah aku benci hujan di pagi hari?
Ah! Sepertinya kau lupa bawa cinta
dan benci adalah saudara kandung,
katamu; sekali lagi!

Aku selalu suka hujan
yang turun di bulan november
Udaranya membawa aroma basah
Menghapuskan segala gelisah
Hingga pada akhirnya hujan mereda
Puingpuing kenangan menjelma
air mata; merintih menahan perih
Beradu kesedihan dalam kesunyian
Merubah lupa menjadi duka yang
sangat sukar untuk kembali dieja
Ah sudahlah!
Nyatanya, kau telah tiada!

Ruang Hampa, 25 November 2021

Meniru Juru Masak

aldiantara.kata

“Al, kau tau, aku bisa menirukan suara anjing. Kata beberapa orang, ‘kok mirip sekali’”.

“Coba, bagaimana?”

“Entahlah, sekarang aku ragu apa aku masih bisa menirukan. Kalo kamu coba bagaimana bila menirukan suara anjing?”

Aku memberinya alasan, aku tak bisa.

“Coba, ya. Grrrrr. Guukk. Guukk.”

Tertawa.

Hidangan masakan yang lezat. Warung makan yang terletak pada blusuk gang. Mengundang ramai orang. Menukarnya dengan mata uang. Tanpa sekalipun memuji, kepada yang tak berharap. Di mana juru masak?

Tertawalah dan Nikmati Hidup Ini

aldiantara.kata

Buku Paulo Coelho kali ini berjudul, “Saat-Saat Penuh Inspirasi” Jakarta: Gramedia, 2015. Demikianlah seorang penulis besar, seringkali menginspirasi pembacanya tidak mesti dengan sebundel novel yang dikarang secara demikian brilian dan menggugah. Buku ini merupakan kumpulan tweet Paulo Coelho yang dibukukan!

Namun tidak hanya kumpulan tweet-nya saja yang inspiratif, hal keren juga berikut ilustrasi-ilustrasi dalam buku ini yang membantu kita memahami tweet. Ilustrasi di dalamnya dibuat oleh Joong Hwan Hang.

Ah, aku tidak tahu apakah apa yang aku lakukan sesuatu yang melanggar hukum. Namun berikut ini merupakan di antara tweet mengena bagiku ketika membacanya hingga akhir. Sama?

Bagian I: Cinta Tak Pernah Berubah. Manusialah yang Berubah

  1. Lebih baik pernah mencintai dan kehilangan, daripada tak pernah mencintai.
  2. Cinta adalah halusinogen paling dahsyat di dunia. Cinta membuat kita melihat dan mendengar hal-hal yang tidak nyata.
  3. Jalanilah hidup tanpa penyesalan, mencintailah tanpa perlu menjelaskan.
  4. Jangan takut menutup lembaran lama. Kehidupan akan membantumu membuka lembaran baru.

Bagian II: Hindari kata-kata ini, “Suatu hari nanti”, “mungkin”, dan “Seandainya”.

  1. Trend untuk “sempurna dan lebih unggul” telah menjadi disfungsi sosial masa kini.
  2. Dengan menghakimi diri sendiri, kita menyakiti diri sendiri.
  3. Orang-orang hidup hanya untuk menyenangkan orang lain banyak disukai, kecuali oleh dirinya sendiri.
  4. Tidak perlu buku panduan untuk menjadi sukses. Kuncinya adalah orisinalitas.
  5. Orang melihat dunia bukan sebagaimana adanya, tapi sebagaimana diri mereka.
  6. Yakinlah pada jalan yang telah kita pilih, tanpa perlu membuktikan bahwa jalan orang lain keliru.
  7. Jangan melawan orang yang tidak layak menjadi musuhmu.
  8. Waktu bisa menyembuhkan hampir segala sesuatu. Tapi setelah sembuh, kita sudah terlalu tua untuk menikmatinya.

Bagian III: Orang-orang yang selalu patuh dan penurut sangat membosankan

  1. Berapa banyak orang menarik yang kita lewatkan, hanya karena orang tua kita menasihati supaya “jangan bicara pada orang tak dikenal”?
  2.  Kita tak sabar ingin cepat dewasa, lalu menyesal dan merindukan masa kecil kita.
  3. Luangkan waktu sejenak untuk berdoa mengucap syukur. Penderitaan akan berlalu. Sukacita akan bertahan.
  4. Jangan lupa: Kegilaan sesekali membuat hidup lebih berwarna. Orang-orang yang selalu patuh dan penurut sangat membosankan.
  5. Bagiku, tiap-tiap hari ibarat nada musik yang kugunakan untuk menciptakan simfoni kehidupanku.
  6. Waktu yang dinikmati tidak terbuang sia-sia.
  7. Mimpi-mimpi tak mungkin tercapai kalau kita selalu berkata, “Tidak bisa sekarang, saya sedang sibuk.”

Bagian IV: Apa gunanya kebijaksanaan kalau tak bisa diterapkan dalam hidup sehari-hari

  1. Mereka yang telah mengenal kesedihan lebih peka daripada mereka yang tak pernah merasakannya.
  2. Perbuatan baik yang kaulakukan hari ini, akan dilupakan orang besok. Seperti itulah kehidupan. Dan bukan hanya dirimu yang mengalaminya.
  3. Tuhan, bukalah mata kami supaya kami melihat tak ada apa pun yang terjadi secara kebetulan dalam hidup ini.
  4. Jangan menjadi orang yang mencari, menemukan, lalu melarikan diri.
  5. Kata-kata bisa menyakiti, namun mendiamkan juga bisa melukai
  6. Hidup ini singkat, sempatkan diri menyampaikan apa yang selama ini hanya dipendam di dalam hati.
  7. Tertawalah dan nikmati hidup ini
  8. Setelah lama menyetir, baru kusadari bahwa peringatan untuk tidak berhenti di tengah jalan juga berlaku dalam menjalani kehidupan.
  9. Mustahil itu sekadar pendapat.
  10. Ilmu pengetahuan membantu kita membuktikan fakta-fakta, sedangkan intuisi menuntun kita pada penemuan-penemuan.
  11. Kehidupan selalu menunggu sampai terjadi krisis, barulah dia menampakkan diri dalam seluruh kecemerlangannya.
  12. Penemuan-penemuan terjadi saat kita tidak membaca petunjuk-petunjuk yang telah disediakan
  13. Jadilah tuan atas kehendakmu sendiri, dan budak bagi hati nuranimu
  14. Kalau sudah tahu jalur yang harus ditempuh, jangan percaya pada GPS-mu.Rute yang paling singkat adalah yang paling lambat.

Bagian 5: Penderitaan hanyalah sementara. Menyerah berakibat untuk selamanya

  1. Banyak orang takut mengejar mimpi, sebab mereka merasa tidak layak memperolehnya.
  2. Kita memerlukan keberanian untuk menghadapi luka-luka kita dan menyembuhkannya.
  3. Saat kita mengira diri kita sudah siap, ternyata malah sudah terlambat.
  4. Kehidupan mempunyai dua cara untuk menguji tekad kita: 1) dengan tidak terjadi apa-apa; 2) Dengan membuat semuanya terjadi berbarengan.
  5. Saat mengejar apa yang kita cintai dalam hidup ini, jangan mau menerima jawaban “tidak”.
  6. Kesepian, apabila kita terima, adalah anugerah yang akan menuntun kita untuk menemukan tujuan hidup kita.
  7. Takut menderita lebih parah daripada penderitaan itu sendiri.
  8. Orang yang menjalani hidup ini sepenuh-penuhnya, hanya mati satu kali. Orang yang takut, akan mati oleh rasa takutnya hari demi hari.
  9. Banggalah akan bekas-bekas lukamu, sebab semua itu merupakan pengingat bahwa kau mempunyai tekad untuk hidup.

Bagian 6: Penghargaan atas karya kita bukanlah apa yang kita peroleh, melainkan pengalaman yang kita dapatkan.

  1. Dua kesalahan yang mungkin kita lakukan dalam perjalanan: 1) tidak memulai; 2) Tidak menuntaskan
  2. Mimpi-mimpi dan cinta hanyalah kata-kata semata sampai kita memutuskan untuk menjalaninya.
  3. Saat kedua kakimu sudah lelah, berjalanlah dengan hatimu, tetapi janganlah berhenti.
  4. Tekunilah jalanmu. Meski langkah-langkahmu tak pasti, meski seandainya kau tahu kau bisa berbuat lebih baik daripada yang kaulakukan saat ini.
  5. Debar-debar dan rasa cemas dalam bertualang, lebih baik daripada seribu hari yang tenteram damai.
  6. Kalau ingin aman, jadilah orang biasa-biasa saja. Kalau ingin menjadi yang terbaik, bersiap-siap menahan serangan.
  7. Dunia ini berada di tangan orang-orang yang mengambil risiko menjalani mimpi-mimpi mereka.
  8. Saat-saat ajaib Anda adalah hari ini, akankah Anda menghargainya atau melepaskannya begitu saja?
  9. Pergilah lebih jauh daripada rencana semula. Raihlah rembulan. Anda akan terheran-heran sendiri dengan hasilnya.
  10. Jalan itu tercipta setelah Anda memutuskan untuk melangkah

Bagian VII: Hidup ini ibarat memasak, sebelum memilih apa yang kita suka, kita mesti mencicipi dulu semuanya.

  1. Cinta ibarat hujan. Turun tanpa suara, datang tiba-tiba, tapi sanggup membuat sungai meluap.
  2. Para pembenci sesungguhnya adalah pengagum-pengagum yang bingung dan tidak paham mengapa orang-orang menyukai kita.
  3. Ada tiga tahap dalam hidup ini: masa kecil, masa dewasa, dan “kau tampak hebat!”
  4. Zombi adalah orang-orang yang bersama kita, tetapi sibuk sendiri bersama ponselnya.
  5. Air mata baik untuk jiwa, seperti tanaman membutuhkan hujan

Sebatas Bayangan

Martalia A.

Kau berdiri dengan wajah menengadah mentari, seketika jiwaku tersihir oleh terik yang terbaca.
Aku masih di sini, berusaha tidak terpukau, tapi hatiku terlanjur jatuh terlalu dalam
Berusaha mengorek setiap lekuk wajah dan tubuhmu, mencari bagian kosong yang mungkin pantas untuk dipijaki oleh rasa ini.
Terbayang bagaimana kau bertutur begitu lugas, ketika aku bahkan tak sanggup mencerna tiap jeda kata.
Terpikir bagaimana kau membentuk angan, sedang aku hanya mampu terpojok dan terasing dalam bayang-bayang, dan memandang angan-anganmu.
Terlalu berat jikalau aku mendekati setiap tafsir pikiranmu, sedang aku bahkan tak tahu apa itu buku atau sesepele melucu.
Mungkin memang sudah takdirku di sini, bersemayam pada balik bahumu yang kekar
Bersenandung lirih tiap kali kau bernyanyi, tertawa kecil tiap kali kau bercanda, dan memandang kagum tiap kali kau bercerita.
Kenyamanan ini tumbuh mengakar pada tiap sisi diri, terlalu sulit memantaskan hingga mungkin yang terbaik adalah aku berteman dengan lantai dan tanah
Bila kau ingin mencari arah yang benar, aku bisa mencarikan cara terbaik bagaimana sebaiknya kau melangkah.
Meski mungkin, itu bukan langkah yang tepat untuk pesta yang tepat
Sejauh ini di titik aku terpaku, mendengarkan tuturmu tentang bagaimana dunia berseteru, atau ketika alam ini mulai bertingkah.
Kau dengan berbagai pustakamu melegenda, sedang aku hanya mampu tersenyum pada tiap sisi matamu yang tajam.
Tuan…
Aku mengaku… telah tergoda menggapaimu.
Tuan…
Aku tahu, aku hanya bayang-bayangmu.
Aku tahu, aku hanya gelap saat terang dan tiada saat petang.
Dan wujudku memang hanya sebatas.
Sebatas yang memandang, dan sebatas yang terbuang

Lagu Musim Penghujan

aldiantara.kata

Reda-reda musim penghujan adalah gerimis
Dingin-dingin musim kemarau adalah udara yang tetap panas
Panas dingin kerinduan adalah kemarau yang merindukan musim penghujan

Anak-anak yang bermain di lapangan diludahi hujan. Bermain sesekali menyeka basah wajah, gatal mata, serta asin keringat sendiri hampiri tepi lidahnya.

Aku rindu, melihatmu yang menyandarkan kepala, kepada daun jendela. Bola mata yang berwarna cokelat, abaikan aku pemerhati jalan tatapanmu, yang sepi.

Aku masih mencari sunyi. Dengarkan teman yang bercerita perihal yang lain, yang memutar ulang lagu-lagu menjelang tidur. Atau rokok yang masih tersisa setengah.

Temanku, Ombo, bercerita bahwa kehidupan adalah belantara yang tak bisa diterka titik akhirnya. Pria paruh baya, tiba-tiba menceritakan kesendiriannya setelah berpisah dari istri dan anak semata wayang. Seakan memulai lagi kehidupan dari awal. Kembali kepada orang tua, yang menerima anak tanpa syarat. Cerita-ceritanya membuat temanku merasakan kenikmatan rokok seakan saat pertama kali.

I’ve said it too many times and I still stand firm
You get what you put in and people get what they deserve.
Still I ain’t seen mine, no I ain’t seen mine
I’ve been givin’, just ain’t been gettin’

Kid Rock, Only God Knows Why.

Lagu-lagu musim penghujan. Lagu-lagu yang seseorang putar menjelang malam. Dalam reda atau derasnya naung musim penghujan. Titik terang cerita tersimpan. Abadikan sebuah fragmen melalui kata-kata. Kesan mengena yang berbeda dibalik setiap lagu.

Apakah berarti seorang pluviophile? Istilah bagi pecinta hujan. Bisa ya dan tidak. Namun petrikor selalu menjadi petanda tergesa. Agar mencari tempat bernaung. Menemukan lawan bicara atau melanjutkan aktivitas. Atau pikiran yang tak henti dibersamai masa lalu.

Wiper mobil menyeka kaca. Antri kendaraan. Mengganti lagu yang tepat. Turut bernyanyi menebalkan lirik-lirik populer. Atau melodi lagu yang ditunggu-tunggu. Eargasm. Menikmati lagu. Dengan sangat. Ada cerita antara kamu, lagu dan musim penghujan? Boleh aku turut mendengarkan?

Televisi masih menyiarkan berita-berita. Kau tahu bahwa mendengarkan musik adalah kebebasan yang patut disyukuri. Meskipun lagu-lagu musim penghujan tidaklah mesti lagu-lagu populer yang bisa didengar lalui media streaming. Ia juga berarti puisi-puisi yang seorang gubah sebagai upaya mengabadikan waktu.

Taliban membunuh dua tamu pernikahan yang kedapatan mendengarkan musik  bulan Oktober lalu. Lagu penyampai pesan dengan indah nan teduh harus berhadap senjata pembunuh.

Bersyukur di negeri ini aku masih dengan bebas dengarkan lagu.

Sungguh bicara denganmu tentang segala hal yang bukan tentang kita. Selalu bisa membuat semua lebih bersahaja… Malam jangan berlalu. Jangan datang dulu terang. Telah lama kutunggu. Kuingin berdua denganmu.

Payung Teduh, Mari Bercerita.

Yakin tetap tidak mau bercerita? Mengenai kapan terakhir menikmati sebuah lagu. Pesan-pesan terselubung yang membawamu kepada suatu waktu. Ada kalimat yang belum selesai. Diksi yang belum mengena kepada maksud. Outline lisan maupun tulisan yang belum rapi tersusun. Tentang ia yang bersemayam pada permadani ingatan. Nyaman dan tak tersentuh.

Tanyakan kepada gugup bagaimana bertanya melalui mata. Mencuri pandang. Momen yang kerap terlewatkan. Terlalu cepat ucapkan pamit.

Lizzy McAlpine malah sudah duduk di atas meja. Setelah mengetahui aku telah lama menatap jendela menatap langit yang melulu mendung. Ia membantuku berkata, melalui nada pada Pancakes for Dinner.

And what was that song about?
I’ll try to hide the way i feel.
But i’ll just wanna shout.
What do i have to lose right now?
I Wanna eat pancakes for dinner.
I wanna get stuck in your head.
I wanna watch a TV show together
And when we’re under the wheather we can watch it in bed.
I wanna go out on the weekends.
I wanna dress up just to get undressed.
I think that I should tell you this.
In case there is an accident.
And I never see you again.
So please save all your questions for the end.
And maybe I’ll be brave enough by then
”.

Tidak ada ‘pada akhirnya’ pada tulisan ini. Perjalanan baru sebatas tanya kepada koma, belum sampai kepada titik. Barangkali menyembunyikan rasa adalah kepengecutan untuk tidak memilih. Untuk tidak memutuskan.

Kepada, nya, yang membuatku mengejar hingga membutuhkan jeda waktu. Atau, nya, yang zahir menyayangiku, mencemburui.

Kepada, nya, yang mulai mencintai sedari waktu yang menunggu ‘halal’. Atau, nya, yang menemaniku dalam lelah.

Nasib Lampu Tua

aldiantara.kata

Lampu tua yang tak beranjak ganti. Tak menyala. Ia sama seperti tiga dekade lalu. Buka atap besi penutupnya. Siapa tahu masih menyimpan pesan-pesan percakapan lampau. Rahasia-rahasia yang seharusnya tertutup rapat-rapat.

Pagi-pagi pria bertato dengarkan lagu shalawat menjaga tempat wisata. Penangkaran kuda sudah tidak ada pada jogging track yang perlihatkan pemandang Merapi. Seringkali tertutup mendung awan musim penghujan. Taman itu kini ditumbuhi rerumput liar yang tumbuh setinggi genang air banjir ibukota.

Bayi-bayi milenial terlahir cantik rupawan. Terawat baik gizi cukup terpenuhi. Jangan kusam siapa tahu masih kecil sudah komersil. Dapat endorse susu formula. “Masih muda sudah kaya.” Hebat, hebat. Ajarkan banyak hal. Bisa pada banyak bidang.

“Ayo ada ide bisnis apa?” tanya bayi kepada bayi lain di Posyandu.

“Kita jangan cuma bisa tangis dan tawa.” Masih di taman kanak sudah pandai berdagang. Biar cepat mandiri.

“Hebat lho anakku, padahal masih sekolah dasar tingkat awal sudah bisa buat start up.” Banyak bisanya, usia masih muda.

Pada masa ini, tidak sibuk adalah aib. Menikmati waktu adalah kelambanan. Aku mencari penangkaran kuda, yang sudah pindah tempat. Agar membawaku terpacu balap-balap hidup yang memacu adrenalin, katanya itu.

Namun, penjaga wisata yang ada jogging track nya itu, bertato, yang pada paginya dengarkan siraman rohani, yang istrinya sedang hamil sedang duduk menghadap utara itu, berkali-kali bilang kalau penangkaran kuda sudah pindah. Bekasnya ditumbuhi rerumput yang tumbuh dengan ajaib tanpa disadari. Apa dengan berkuda aku dapat menahan laju waktu. Sementara lampu tua sudah tak menyala. Ia pasrah ditinggal waktu yang menjadikannya padam.

Kejuaraan bulutangkis tuan rumah digelar tanpa penonton. “Ayo. Kuatkan lagi doanya.” Warganet benar-benar serius mendoakan negerinya yang terkena smash paceklik.

Spasi Kata

aldiantara.kata

Bapak bilang di dalam kamar ada Ibu sedang berdoa. Kecoa merayap hendak masuki kamar. “Tolong cabut nyawa binatang itu”. Kupukuli, dengan ijuk sapu. Namun tak mati-mati. Berada di dalam ruangan. Di luar banjir menggenangi jendela. Apakah di dalam sedang kuliah? Ini bencana, atau sedang berada di dalam kapal selam. Puing-puing kayu berserak. Apa ada kapal pecah.

Aku terbangun sedikit gelisah. Baju untuk bertemu dipakai arungi kelabu mimpi. Matahari sudah pergi. Aku kira pagi. Buku terjatuh di bawah ranjang. Kuselamatkan ponsel. Ia tidak jatuh. Namun saat kuperiksa tidak ada pesan apa-apa.

Ada telepon.

Aku sengaja tak berpura-pura waras dengan membenarkan suara.

“Kau dari mana?” Tanyanya.

“Mengembara. Menerka makna. Bahkan yang tak dianggap bermakna sekali pun”.

Telepon ditutup. Saksikan berita di layar kaca. Aku membaca spasi di antara kata-kata. Tidak ada yang masuk kepala. Mereka mengoceh pada jarak di antara jiwa. Mimpi seperti spasi di antara runtut rutinitas. Ia bisa kosong, bisa juga terisi kembali revisi. Aku seorang pembaca buku. Namun jenuh dengan kata-kata. Kubaca saja spasi. Menulis spasi selalu mudah.