Page 2 of 38

Tuhan, Aku Deadlock

aldiantara.kata

Yang meminta ampunan. Kuat bersimpuh termangu lalu lalang mereka yang telah lekas berdoa. Melalui dinding di mana Engkau mendengar lirih suara pinta. Sekejap aku berpikir aku hendak menjadi orang yang kuat menghadapMu. Pandai bercerita mengakui keakuan yang shagir dan daif. Namun pintu rumah ibadah segera ditutup. Hanya kesepian di episentrumnya yang membuat diri tak nyaman. Semua sudah pergi setelah pintanya terpanjat. Masjid kembali dingin. Menunggu waktu yang berjalan maju menuju bunyi beep kumandang adzan. Doa-doa template. Draft doa dan pinta yang sama. Barangkali Engkau adalah Maha Penyabar, dari skrip doa yang membosankan. Aku memeluk lututku. Engkau masih kuat untuk tetap mendengar?

Tuhan, bukankah di luar terdengar begitu gaduh? Kian samar sekali mana perkara baik dan buruk. Sementara aku duduk, mengadu. Saat aku berbisik malu meminta suatu, apa takdirku bak dadu. Angka hasilnya rahasia. Hasilnya diterima sebagai suatu keadilan?

Tuhan, aku deadlock. Aku hendak bercerita, namun Engkau Maha Mengetahui. Mesjid ini, mungkin seperti halnya gua hira yang sepi dan sejuk. Tidak banyak manusia-manusia kuat yang tengil sepertiku, kan, Tuhan? Mumpung, masalahku sedang banyak, Kemaha Mendengar-Mu, tidak kusadari Engkau telah meracik jawaban.

Simbol-simbol agama kini menjadi kontestasi perlombaan. Berlomba mencari pengikut. Hingga menjadi abu-abu kala ia hidup berpedoman agama atau menyembah keakuannya sendiri. Semua hal tak bisa ditahan. Semua hendak diraih sendiri. Dimakan sendiri. Menjadi si paling. Membuncah. Kekerasan. Angan mengawang menjauhkan yang dekat. Ambisi-ambisi runyam. Debar dada menghadapi waktu.

Tuhan, keresahan seperti apakah yang pernah berpendar dari orang-orang mulia yang membuat-Mu mengangkatnya sebagai seorang utusan? Sepertinya mereka tak ingin menjadi apa. Menggembala ternak dengan penuh kasih. Atau berdagang dan melakukan pengembaraan panjang. Berlaku adil hingga membebaskan perbudakan. Membela yang lemah dan yang direndahkan secara sosial. Menjadi pemaaf dan menahan untuk tak bergunjing, menutup rapat-rapat segala aib.

Bila norma-norma petunjuk suci ini serupa halnya lampu-lampu mengatur jalan, maka aku lebih gandrung melihat Ibu yang meneduhkan anaknya dari panas. Atau para pelajar yang nampak murung bergelut pada buku dan berita-berita populer. Atau lukisan yang luput dari gradasi warna. Atau perekonomian rumah-Mu yang menjadi mata air masyarakatnya.

Rumah-Mu, agar tidak menjadi tempat jatuhnya air mata duka.

Tiba sesaat nanti waktu berbuka puasa, apakah hidangan langit sebagaimana Rumi katakan dalam puisi, sudah siap? Sudah memasak takdir apa hari ini? Bisa sedikit tambahkan kecap, menjaga agar hidangan tidak terlalu asin tersaji. Anak-anak berlari berlomba tiba di Sungai Bengawan Solo, melayarkan perahu-perahu kertas yang berisi doa-doa.

Akankah hidangan langit hanya dinikmati segelintir golongan. Serakah, berebut. Apakah jatah-jatah duka benar-benar Engkau bagi secara merata, selaras, dan adil? Aku termangu menunggu panggilan menghadap-Mu. Serupa takbir, mengajak menghadap, mengapa tetap enggan berbagi yang mereka punya. Bukankah tiada Tuhan selain-Mu, melebihi materil juga sesembahan-sesembahan yang dibuat oleh diri.

Saat Engkau turun nanti menuju langit dunia, berkenan mampir ke kedai kopi langganan? Kopi susu tubruk dengan cangkir merah. Aku bisa carikan tempat bebas asap rokok.

Hujan yang Ramah kepada Turis

aldiantara.kata

Hujan belum beranjak dari senja kita. Ia tiba dari hafalan kita terhadap senja serta mendung langit. Apakah sebab ia merasa sepi, hingga masih bertaut pada musim kemarau, yang seharusnya kunjung tiba.

Jalan menuju nol KM seperti merayakan kebebasan dari pandemi. Mereka berpesta dan mengadu polemik. Soal politik hingga kitab suci. Jengah sepertinya berdebat melalui layar-layar gawai. Sebagian kelompok beradu strategi mengklaim atas penguasaan agamanya. Mereka menutup mata terhadap perbedaan-perbedaan yang sejatinya manis.

Hujan.

Hujan di kota ini. Bagaimana ada, tempat populer dan tidak. Padahal nafkah hujan tak pandang tujuan turun. Entah kepada pendatang luar kota atau mereka yang telah lama menetap. Penjaja menawarkan jas hujan berwarna-warni, seperti kerlap lampu juga kerlip ragam bunyi bersahutan.

Hujan, seperti ramah kepada turis. Mau menepi, setelah mencium aroma jahe susu?

Atau duduk pada kursi yang telanjur basah. Sambil bercerita tentang bagaimana kehidupan berikan berkat kepada kita. Bakpia yang dicari keberadaannya. Atau penjual baju oleh-oleh kota yang semua sudah pindah ke satu lokasi. Tidak pada sepanjang jalan biasanya. Mungkin turis datang bergiliran, saling membuat janji dan membayangkan pada waktu yang dipikirkan jalanan akan lengang.

Tidakkah kau merasa sekalipun bosan pada kota ini? Suatu tanya yang kualamatkan kepada tiap pengisi hiruk pikuk yang entah apakah setiap mereka sama, setiap harinya.

Namun nampaknya aku keliru, sebuah tanya menyusul, “Memang siapa yang bukan turis? Kita semua adalah turis!”

Pengembara. Yang turut berteduh. Kota ini milik siapa, berikut berkat kenang-kenang. Siapa yang mengaku memiliki?

Tuan Tanah

aldiantara.kata

Fajar telah tiba. Setelah pernah mencekam. Ratusan purnama sinarnya terangi malam. Pergolakan rimba dari kaum-kaum yang enggan membuka jalan dengan rasa adil. “Bergantian. Zaman sudah berubah.”

Tiba saatnya muda-mudi merawat dengan rasa hormat. Dapatkah beri rasa kepercayaan? Atau masihkah kepentingan yang belum temui titik pangkal kedalaman. Hingga tesesat, kalap dan khawatir terhadap masa-masa lalu yang pernah jaya?

Bagaimana dengan tawaran utopis untuk memakmurkan bersama-sama secara adil. Tidak dengan cara serakah hingga zalim terhadap yang papa. Apa arti dari kehormatan yang berasal dari cara-cara yang keruh. Sementara yang papa perut lapar membersihkan piring-piring sisa.

Tidak ada tuan tanah di sini. Bagaimana jika kita menghapus rasa memiliki, yang enggan berbagi? Lelah bukan hendak pertahankan semua. Melihat kebaruan adalah suatu ancaman. Melihat dengan curiga, mencuri kehormatan tahta, yang sejatinya bukan miliknya.

Sebagian orang bersukacita menanti pagi. Sinar purnama yang dikiranya adalah mentari pagi yang sama eloknya. Sembari membayangkan dingin pagi dan hangat sinar yang memberi kekuatan kepada jiwa.

Namun, tuan tanah palsu meyakinkan khalayak tidak ada pagi. Jika kelam malam adalah bentuk kesyahduan, mengapa masih memerlukan fajar. Tidak ada kekacauan pada malam. Ini hanyalah sebatas cuaca buruk yang wajar terjadi.

Ada orang yang mempersiapkan fajar. Ada yang enggan untuk menyambut sifat kehidupan yang dinamis. Ada yang berkerumun memanggil dengan panggilan akrab. Sementara yang tak terpanggil, mereka menggigil. Berpeluk dengan kata-kata. Mereka tersisihkan.

Siapa berani melawan hukum alam. Masa akan berganti. Kelaliman akan terbaca. Cahaya nampak cerah di langit, menuju pagi. Bagaimana jika kita membaca puisi?

Pada Sebuah Akhirnya

Oleh: Azki Khikmatiar

Aku merindukanmu!
Bersama malam yang melebam
Memandang kenang berulangulang
Hingga tenggelam dalam pendam
Berharap keajaiban kembali datang

Hei, sudah berapa lama kau tak lagi ada ?
Lihatlah langit kita semakin jelaga
Dibungkam lara tiada habisnya
Denting telah menjelma hening
Bertemu asing dan tak ada lagi saling

Apakah kau pernah merasa kehilangan ?
Ataukah kau telah berhasil menemukan ?
Semoga kau menemukan segala hal
yang pernah kau sebut sebagai kehilangan
Maaf ! Kali ini aku sungguh kehilangan
Tapi, bukankah kehilangan selalu
membawa pada kesempatan?
Bukankah manusia akan selalu
belajar untuk menjadi terbiasa?

Hei, mungkinkah kita telah sampai
pada sebuah akhirnya ?
Bahwa masingmasing dari kita bertemu persimpangan jalan bernama takdir
Bahwa kita harus menulis ulang
catatan mimpi yang pernah kita sepakati
Bahwa tak perlu ada perpisahan sebab
yang terjadi nyatanya tidaklah abadi

Apakah kau masih merindukanku ?
Ah, sudahlah !
Berbahagialah di sana !

Ruang Fana, 12 Maret 2022

Kereta Beranjak di Waktu Malam

Martalia A.

Tahukah kamu kenapa kerata tak bisa berjalan searah di rel yang berdampingan?
Karena akan ada suatu titik di mana mereka harus bertemu untuk melukai satu sama lain.
Tahukah kamu kenapa kita tidak diperbolehkan berjalan berdampingan?
Karena kita tak pernah tahu akan seperti apa titik yang ada di depan kita.
Bagaimana jika ternyata kita adalah reinkarnasi dari kedua kereta itu?
Bagaimana jika ternyata kau yang kurasa cerminan dan padanan dari diriku ini, tak lebih dari sebuah lokomotif yang tak bisa kugapai.
Dan mungkin memang benar demikian kisah kita.
Karena aku bahkan tak tahu harus kucari kau di mana hari ini.
Bahkan buket bunga seindah apa pun tak lagi jadi hadiah yang kunanti.
Sebab, yang ku ingini adalah tahu di mana kau berdiri saat ini.
Tak lebih dari itu, karena kau tahu kita tak bisa saling membersamai.
Mencintaimu dengan kadar yang sama dengan cintamu padaku tak membuat kita hidup dalam volume yang serasi.
Padahal sejak pertama kali kita bertemu di bawah pohon berlentera itu, kita bertatapan dengan sorot yang sama, senyum yang sama, sapaan yang sama.
Kita bersikeras bahwa waktu tidak akan membunuh kebersamaan kita karena tiada yang lebih tahu tentang kita selain kau dan aku sendiri.
Kita berbicara dengan bahasa hati yang tak akan bisa dipahami orang lain.
Berjalan dengan langkah kaki yang tak akan bisa dipijaki orang lain.
Karena kita sama-sama tahu, kita berada pada ruang temu yang sungguh sempurna di mata dunia.
Namun, kau berbalik memunggungiku.
Aku yang awalnya ingin sekali kembali merengkuh punggung lebar itu pun tak lagi berniat demikian.
Jarak kita terlalu timpang.
Kita tak lagi berada pada dunia yang sama.
Masih berada di pohon lentera yang juga turut menua usianya, tatapan, senyum, dan sapaanmu tak lagi berada di jalur kita mendaki rasa.
Terlebih aku tak lagi sanggup untuk memanggil namamu karena sayup angin terlalu kencang mericuhkan sekitarku.
Dan mana mungkin aku berharap kau kembali dengan sekotak puisi.
Barisan kalimat yang selama ini kau goreskan lewat mata ke mata, bibir ke bibir, peluk ke peluk, dan bisik-bisik bermajas metafora.
Mana mungkin aku berharap kau mengingat bahwa tak hanya pohon berlentera yang bertambah tua, tapi aku pun juga.
Dengan lilin tanpa kue yang kuhadapi saat ini, menengadah menatap rembulan yang menggelap bersama angin malam, tak ada lagi yang bisa kutatap selain gelap.
Bahkan bekas tapak sepatumu saja terhapus oleh hujan yang menantang derasnya air yang mengalir dari kedua mata ini.
Bayangan terakhir dari ujung kepalamu tak lagi bisa kulihat.

Juga aroma tubuhmu yang harusnya masih bisa kurindukan, nyatanya ingatanku kehilangan formulanya.
Apakah itu aroma laut?
Ataukah tanah?
Aku berusaha keras mengingat apa yang bisa ku rindu dari sosokmu.
Namun, ternyata sesak yang kurasakan benar-benar tak bertuan.
Kita yang pernah berbagi rasa dan berjanji akan terus melewati kedua rel ini bersama, tak luput dari takdir Tuhan yang turun bersama udara malam.
Di waktu yang mana harusnya aku bisa memelukmu sembari menghitung waktu detik-detik hari berganti.
Juga kecupan di kening tanda aku harus membuka kotak hadiah darimu.
Yang berisi kau… dan segala kenangan tentangmu.
Kau melanjutkan perjalananmu dan aku melanjutkan perjalananku.
Hati-hati di jalan, keretaku dan juga… keretamu.

Jalan Dewi Sartika

aldiantara.kata

Jalan Dewi Sartika. Salak anjing kepada orang-orang asing. Lampu-lampu yang pernah padam. Kereta malam memecah kesunyian. Ibu paruh baya yang julid. Menanyakanku pergi kemana. “Dasar anak malam. Pulang selalu larut.”
Lagu-lagu pop yang meramaikan keadaan. Jalan Dewi Sartika tak pernah tidur. Apalagi bertanya mengenai penamaannya.
Lalu aku pamit, sembari mengeruk malam-malam yang pernah tertinggal di sana. Akan selalu teringat tentang dinginnya pagi. Serta perasaan yang selalu merasa asing.

Kesugihan

aldiantara.kata

Seketika, melihat alir sungai Serayu. Jembatan yang menjadi penopang batas setiap ujungnya. Kota ini, yang bernama. Wilayah ini yang miliki fajar dan senja. Tempat ini, yang ramai dan sepi. Subur dan luas.

Di Kesugihan, bagaimana cara jelaskan sawah yang membentang. Pada ufuk yang buram, cerobong asap pabrik mengepul menafkahi langit.

Ada padi-padi itu tumbuh. Banyak petani-petani menyulap lahan menjadi pangan.

Tamu itu datang, mengetuk pintu gaib kota. Mendengarkan satu sisa lagu. Lagu dengan lirik yang sama. Pernah menjadi lagu kesukaan. Diselingi dengan percakapan yang asing, rencana yang menguap menjelang pulang.

Kota ini, sepertinya tak membutuhkan kemajuan untuk menjadi asri dan otentik. Ia juga tak perlu tercapture melalui gambar atau kata-kata.

Seperti kebisuan, aku lupa caranya menyapa keadaan. Apa nanti akan mengubah jalannya sejarah. Dikau pernah kemari? Melihat rumah-rumah sebagaimana aku menatap? Mengingatkan kepada masa-masa yang lalu?

Aku hendak menceritakan, bahwa pepohonan meninggi mendekati matahari, meski takkan sampai, ia akan mengering dan gugur, lalu menjadi puisi.

Bagaimana dengan mendoan panas yang dimakan saat perjalanan malam melewati terminal Adipala. Soto Sokaraja di alun-alun yang rela menunggu antri.

Gerimis mengundang kabut, Slarang yang dingin dilepas malam yang menjadikannya liar.

Dahulu kau berkata apa, aku harus menyimpan tanda yang akan kau singgahi. Aku sedemikian sibuk meraba tanah, apa ini bekas jejakmu?

Konon terdapat dua nasib bagi kata-kata. Ia akan terkubur dan menjadi kembang ingatan. Ataukah ia menjadi pesan yang diamini yang lain. Namun aku memilih kata-kata yang terasing dari nasib. Bersembunyi seperti ranting tipis yang enggan dihinggapi burung pagi.

Belum kutemukan titik pada akhir cerita. Zaman menjadi seperti kereta yang akan tiba membawaku berlari. Kini sudah tiba. Asinglah kata-kata. Cerita.

Lonceng Angin

aldiantara.kata

Kita melihat lonceng angin, di sela obrolan. Gemerincing menyambut gelap langit. Pria-pria tua bersepeda berdua dengan topi ayam jago. Kopi tubruk yang sudah hilang panasnya. Candi bangunan lama berdiri ditinggal waktu.

Lalu, drainase di tengah kota yang luput dari perhatian. Air meluap menjadi banjir kecil di pinggir. Terabai sebelum menjadi bah. Kicau-kicau di perkota adalah klakson yang saling bersahutan. Pekerja berjejer di lampu merah. Adakah cinta dari para pekerja itu? Dari jarak yang kupandang dengan mata melankolis ini.

Banyak diksi yang telah menjadi kamus. Lupa cara merangkai kata. Apa sudah tak rindu, atau ia telah membatu, hingga sulit berkata-kata?

Terbang

Martalia A.

Sebuah jeda, mengulurkan tangan
Membungkuk
Menengadahkan tangan
Mengajak menari sekali lagi
Dalam musik yang pernah didengar bersama

Sebuah jeda, menyapa tanpa rasa malu
Menampar satu per satu ketangguhan
Mendobrak setiap inci perlawanan
Kuatnya imun dibentuk, dari perjuangan melelahkan

Ada yang terpaku, tak percaya
Menatap nanar pelukan yang tak lagi dirindukan
Menolak mengenang masa-masa itu

Jauh di lubuk hati
Seorang tangguh sedang berperang melawan masa lalu
Berdiri, jadi pahlawan bagi diri sendiri
Membingkai yang lalu, membantingnya setengah mati

Lalu dia berdiri tegar
Berusaha menahan yang pernah jadi alang
Mengobati diri, membalutnya
Menguasai hati, sebagaimana dia layak dicipta

Jika bertanya, bolehkah angin berembus kembali?
Tidak
Tak ada daun gugur yang melayang lagi
Tak ada debu yang beterbangan lagi
Yang ada aku yang terbang
Menerjangmu
Menghempasmu
Menarik semua rapuh
Menjahitnya

Hebatnya
Tak ada lagi tangan yang mengganggu
Kaki yang mendesak
Napas yang terengah
Bibir yang mengecap-kecap
Seolah semua lambat saling beradu

Tenangnya
Jiwa yang dulunya seserpih abu
Tak lagi tangan terulur mengemis waktu
Semua menuju kehidupan baru
Tanpa dia, yang dengan congkaknya berlalu
Dan hadir tanpa tahu malu

Santunnya
Angin yang meniup tanpa banyak ikut campur
Tanpa meresahkan
Tanpa mengingatkan
Karena hati yang ingin terbang, harus tetap terbang
Melawan nasib, memburu jangkar, melabuhkannya pada … perasaan yang tepat.

Perihal Pilihan

Oleh: Azki Khikmatiar

Hidup adalah sekumpulan pilihan, katamu!
Memilih apapun yang kau inginkan
Memilih menjalani hidup seperti apa
Memilih bagaimana caranya untuk bahagia
Memilih bagaimana caranya sembuhkan luka
Tapi, kau juga punya pilihan lain;
pilihan untuk tidak memilih!

Hei ! Pernahkah kau kuceritakan tentang
seorang pemuda tanpa masa depan?
Yang terbelenggu pada sebuah
keadaan penuh ketidaberpihakan;
Gaya hidup yang membosankan
Impian yang harus terlupakan
Hingga tak sempat mempunyai pilihan
Katanya; pilihan adalah ilusi !

Apakah kau tahu bagaimana rasanya
hidup tanpa mempunyai pilihan?
Apakah kau tau bagaimana rasanya
menjalani hidup tanpa bertanyatanya?
Tentang apa rencana ke depan?
Bagaimana jika gagal?
Bagaimana jika tak sesuai harapan?
Ah! Persetan dengan semua pertanyaan!

Lagipula, kehidupan yang selalu berjalan baikbaik saja itu kata siapa?

Ujung Jelaga, 26 Januari 2022