Kereta Beranjak di Waktu Malam

Martalia A.

Tahukah kamu kenapa kerata tak bisa berjalan searah di rel yang berdampingan?
Karena akan ada suatu titik di mana mereka harus bertemu untuk melukai satu sama lain.
Tahukah kamu kenapa kita tidak diperbolehkan berjalan berdampingan?
Karena kita tak pernah tahu akan seperti apa titik yang ada di depan kita.
Bagaimana jika ternyata kita adalah reinkarnasi dari kedua kereta itu?
Bagaimana jika ternyata kau yang kurasa cerminan dan padanan dari diriku ini, tak lebih dari sebuah lokomotif yang tak bisa kugapai.
Dan mungkin memang benar demikian kisah kita.
Karena aku bahkan tak tahu harus kucari kau di mana hari ini.
Bahkan buket bunga seindah apa pun tak lagi jadi hadiah yang kunanti.
Sebab, yang ku ingini adalah tahu di mana kau berdiri saat ini.
Tak lebih dari itu, karena kau tahu kita tak bisa saling membersamai.
Mencintaimu dengan kadar yang sama dengan cintamu padaku tak membuat kita hidup dalam volume yang serasi.
Padahal sejak pertama kali kita bertemu di bawah pohon berlentera itu, kita bertatapan dengan sorot yang sama, senyum yang sama, sapaan yang sama.
Kita bersikeras bahwa waktu tidak akan membunuh kebersamaan kita karena tiada yang lebih tahu tentang kita selain kau dan aku sendiri.
Kita berbicara dengan bahasa hati yang tak akan bisa dipahami orang lain.
Berjalan dengan langkah kaki yang tak akan bisa dipijaki orang lain.
Karena kita sama-sama tahu, kita berada pada ruang temu yang sungguh sempurna di mata dunia.
Namun, kau berbalik memunggungiku.
Aku yang awalnya ingin sekali kembali merengkuh punggung lebar itu pun tak lagi berniat demikian.
Jarak kita terlalu timpang.
Kita tak lagi berada pada dunia yang sama.
Masih berada di pohon lentera yang juga turut menua usianya, tatapan, senyum, dan sapaanmu tak lagi berada di jalur kita mendaki rasa.
Terlebih aku tak lagi sanggup untuk memanggil namamu karena sayup angin terlalu kencang mericuhkan sekitarku.
Dan mana mungkin aku berharap kau kembali dengan sekotak puisi.
Barisan kalimat yang selama ini kau goreskan lewat mata ke mata, bibir ke bibir, peluk ke peluk, dan bisik-bisik bermajas metafora.
Mana mungkin aku berharap kau mengingat bahwa tak hanya pohon berlentera yang bertambah tua, tapi aku pun juga.
Dengan lilin tanpa kue yang kuhadapi saat ini, menengadah menatap rembulan yang menggelap bersama angin malam, tak ada lagi yang bisa kutatap selain gelap.
Bahkan bekas tapak sepatumu saja terhapus oleh hujan yang menantang derasnya air yang mengalir dari kedua mata ini.
Bayangan terakhir dari ujung kepalamu tak lagi bisa kulihat.

Juga aroma tubuhmu yang harusnya masih bisa kurindukan, nyatanya ingatanku kehilangan formulanya.
Apakah itu aroma laut?
Ataukah tanah?
Aku berusaha keras mengingat apa yang bisa ku rindu dari sosokmu.
Namun, ternyata sesak yang kurasakan benar-benar tak bertuan.
Kita yang pernah berbagi rasa dan berjanji akan terus melewati kedua rel ini bersama, tak luput dari takdir Tuhan yang turun bersama udara malam.
Di waktu yang mana harusnya aku bisa memelukmu sembari menghitung waktu detik-detik hari berganti.
Juga kecupan di kening tanda aku harus membuka kotak hadiah darimu.
Yang berisi kau… dan segala kenangan tentangmu.
Kau melanjutkan perjalananmu dan aku melanjutkan perjalananku.
Hati-hati di jalan, keretaku dan juga… keretamu.

1 Comment

  1. Walaupun kereta kita berbeda dan tujuan kita tak sama. Setidaknya, kita pernah bertemu pada kereta yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.