Kategori: Bukan Sinopsis

‘Mendengarkan’ Dongeng Sulak dalam Buku Creative Writing

aldiantara.kata

 

Tulisan ini termasuk pada kategori ‘bukan sinopsis’ blog diantarakata. Sebab, aku merasa enggan gaya kepenulisanku seakan terjerat kepada struktur-struktur yang baku. Hingga saat buku ini kubaca, buku Creative Writing karya A.S. Laksana ini sudah menuju cetakan kelima yang diterbitkan oleh Penerbit Banana.

 

Aku terkejut lantaran tiba-tiba saja dalam beberapa saat, Sulak menyudahi dongengnya dalam memberitakan tip menulis kreatif dalam Creative Writing. Tidak terasa. Ia seakan-akan sedang mengajak pembacanya berjalan-jalan di taman, dalam perjalanannya itu Sulak menceritakan tip menulis kreatif dengan setiap masing-masing babnya yang berkait kelindan. Tulisan Sulak ‘menyengat seperti lebah’ yang kerap mengkritik penulis yang tak sabaran, sekaligus  mengkritik penulis yang nampaknya ‘malas’ membaca dengan berdalih hendak menelurkan gagasan yang orisinil.

Suguhan Sulak ‘Melayang seperti kupu-kupu’ lantaran ketika mendongengkan tip menulis kreatif dengan menggunakan analogi sehari-hari agar mudah dipahami, kerap membuat imaji pembaca melayang-layang terbayang pada penuturan analogi cerita Sulak. Nampaknya ia begitu mengagumi Muhammad Ali dengan mengutip  sebaris kalimat puitisnya yang kesohor kala berduel tinju, “Menyengat seperti lebah, melayang seperti kupu-kupu” sekaligus mengungkap fakta Muhammad Ali yang kerap menulis dan membacakan puisi yang ia buat guna mengejek calon lawannya sebelum bertanding.

Sapaan pada awal tulisan dari Sulak, panggilan akrab A.S. Laksana, sudah memberi poin penting dasar kepenulisan, “Karena itu, beri kesempatan kepada tangan Anda untuk melakukan apa yang memang menjadi kesukaannya.” Yaitu dengan memberikan kebebasan terlebih dahulu apa yang menjadi kegelisahan pikiran dari penulis, tentunya sebelum masuk kepada pengolahan selanjutnya.

Baca juga: Self Healing dengan Berpuisi di Iran

Sejenak, pikiranku asik sekali, mempertanyakan mengapa Sulak menaruh bab ‘Bacalah’ pada bagian akhir, padahal aktifitas menulis dan cara menjadikan gaya tulisan yang mengalir seringkali didahului oleh aktifitas membaca.

Aku belum banyak membaca tulisan-tulisan Sulak, namun buku ini menunjukkan betapa luas pemahaman serta kreatifnya Sulak dalam menyajikan tulisan-tulisan di dalamnya, salah satunya dengan mengutip cerita pada film Fahrenheit 9/11 garapan Michael Moore yang tampak mengolok-olok pemerintahan era George W. Bush yang dinilai tak becus dan serampangan. Sejatinya fokus Sulak bukan pada kritik Michael Moore pada pemerintahan Bush, melainkan pada tulisan di ruang kelas, tempat Bush berdiri kala menceritakan buku kepada anak-anak, “Membaca membuat negeri kita besar.”

Sulak mengkritik pendidikan di negerinya, “Tulisan semacam itu, atau yang bunyinya mendekati itu, tak saya jumpai di ruang kelas SD saya.” Selain itu, “Memang SD saya tidak memiliki perpustakaan sehingga tulisan semacam itu jika ditulis di dinding mana pun, hanya akan menjadi slogan yang mubazir. Guru-guru saya pun tidak ada yang pernah menganjurkan agar murid-murid banyak membaca. Mungkin mereka sendiri pun kurang membaca. Yang biasa mereka sampaikan adalah nasihat agar kami, murid-murid yang selalu naik kelas maupun yang kadang tidak naik, menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.”

Perpustakaan sekolah yang seadanya, di dalamnya berisi kumpulan buku-buku hibah yang lawas dan tak menarik, sebagian besar berdebu, dijaga oleh penjaga yang cuek dan tak suka baca buku serta perihal sebagian guru-guru yang kurang membaca menjadi kritik keras. Visi dan misi menjadi negara besar yang tak ditopang dengan semangat membaca, seakan Sulak katakan bahwa semua itu sia-sia jika para manusianya yang tidak menggandrungi aktifitas membaca.

Sulak berdongeng, “Pikiran Anda, sumber kekuatan imajinasi Anda, tak beda dari perut Anda dan seluruh organ tubuh yang lain: ia perlu makanan.” Maka bahan bakar terbaik bagi pikiran adalah membaca. Creative writing, menulis kreatif, pada perjalanannya tidak bisa tidak dengan membaca!

Namun, apa yang dibaca tentu perlu dituangkan kepada tulisan, sehingga terjadi dialog antara apa yang dibaca, dan terjadi di sekitar pembaca. Sangking gemasnya, Sulak bahkan menyarankankepada calon penulis agar menulis tanpa ide, menulis dengan buruk, serta menulis cepat. Menulis tanpa ide pada intinya adalah salah satu cara untuk memancing datangnya ide.

Menulis dengan buruk, sejatinya Sulak memberi saran agar menulis tanpa beban, jangan berekspektasi tinggi, serta hal terpenting, mencurahkan apa yang menjadi kegelisahan, “…draf pertama yang buruk, ketika ia ada, akan jauh lebih baik dibandingkan tulisan sempurna, tetapi tidak pernah ada.” Sulak seakan hendak katakan, “tulislah apa yang berada di pikiranmu.”

Menulis cepat, berarti segera tumpahkan kepada tulisan, sebelum ide-ide, kegelisahan yang berkecamuk pada alam pikiran serta merta sirna. “Seorang penulis yang baik biasanya juga pencatat yang baik. Mereka mencatat hal-hal penting yang mereka dapatkan dari bacaan. Mereka mencatat kejadian-kejadian yang menarik perhatian mereka.”

“Perkara mood itu hanyalah kemanjaan yang harus diperangi.” A.S. Laksana –

Baca juga: Bekas-Bekas Jari Tanganmu, Sapardi Joko Damono

Analogi Sulak, seringkali terambil dari ilustrasi-ilustrasi sederhana kehidupan sehari-hari, begitu memudahkan pemahaman kepada para pembacanya, seperti kala menjelaskan perihal ‘Jangan menulis sekaligus mengedit’ lantaran ekspektasi penulis yang menginginkan secara instan tulisan bagus pada saat itu juga, Sulak menyuguhkan analogi menarik dengan membayangkan penulis sebagaimana halnya tukang bangunan. “Pasir, batu dan semen tidak akan pernah kita nilai keindahannya. Yang dinilai keindahannya adalah bangunan yang tercipta dari bahan-bahan tersebut,”

“Mungkin hanya penulis yang tidak sabaran yang ingin menulis sekali jadi.” A.S. Laksana –

Adapun pada bagian ‘Show, Don’t Tell’ Sulak banyak menyuguhkan beberapa contoh di mana ia menekankan, bahwa yang terpenting adalah menuangkan gagasan terlebih dahulu. Sebab selalu ada waktu pada upaya penajaman tulisan. Ada diantarakata menarik pada bagian ini yang kutandai.

“Mengongkretkan konsep-konsep abstrak (cinta, benci, dendam, sedih, frustasi, marah, dahsyat, cantik, pengap, dan sebagainya) pada intinya adalah mencari pengucapan tidak langsung terhadap sebuah konsep, dan ini memerlukan detail yang cermat, ingatan yang baik atas kejadian-kejadian, dan kepekaan terhadap keseharian. Anda bisa mendeskripsikan tentang pengap tanpa menggunakan kata itu sama sekali. Anda bisa melukiskan cinta tanpa menggunakan kata itu sama sekali. Anda bisa menyampaikan hati yang pedih tanpa menggunakan kata pedih sama sekali.”

Sampailah daku kepada kata-kata Ernest Hemingway yang kujumpai dalam buku ‘dongeng’ Sulak ini, “Kekuatan emosi tidak lahir dari kata-kata besar, ada kata-kata yang lebih simpel, lebih baik, dan lebih lazim, dan itulah yang digunakan. Kemudian Sulak mengutip ungkapan Isaac Asimov, bahwa rahasia menulis produktif adalah menulis dengan simpel dan apa adanya, yakni dengan menjadi diri sendiri. “Anda hanya bicara dengan cara yang mudah dipahami, dan dengan gaya apa adanya (kecuali Anda politisi yang terbiasa di panggung dan menganggap teman Anda adalah konstituen partai Anda).” Lagi-lagi Sulak ‘menyengat seperti lebah’, menyindir politisi yang selalu berbelit-belit dalam membela pendapatnya.

Sulak sadar bahwa dirinya penuh kekurangan, terlepas dari segala pencapaian hebatnya. Maka aku memahami, bahwa cara terbaik menunjukkan tip menulis kreatif adalah dengan menunjukkan bacaan atau kutipan hebat dari para penulis hebat dunia, sebagaimana yang dilakukan Sulak pada ending bukunya, ia mengutip tulisan Malcom X yang diterjemahkan dari “Coming to an Awareness of Language” yang dimuat dalam Language Awareness. Di dalamnya menunjukkan kesederhanaan kata-kata yang digunakan Malcom X, perjalanan pengetahuan dan pembelajarannya yang justru banyak diambil ketika dirinya di penjara, sehingga satu-satunya cara untuk meningkatkan kemampuan apapun dalam hidup adalah dengan cara melatihnya.

Bila ada pertanyaan, apakah sembari menulis ‘Bukan Sinopsis’ ini, aku sambil mempraktekkan kiat-kiat menulis kreatif a la Sulak? Bisa iya bisa juga tidak. Aku juga hendak berapologi bahwa aku adalah tukang bangunan yang sedang membangun, sembari melihat gedung indah yang sudah jadi! Namun yang pasti, sekaligus pula aku sedang mempraktikkan prinsip Isaac Asimov dengan menulis secara simpel dan apa adanya. Menjadi diri sendiri. Diterima? Diterima? Heuheu.

Puisi Jokpin

aldiantara.kata

 

Setelah kau bacakan puisi Joko Pinurbo (Jokpin) awal malam itu, mata rasanya berat sekali agar tetap terjaga. Puisinya menegaskan keberadaan kita pada rentang jarak yang terukur jauh, setiap suara yang dikeluarkan takkan terdengar gemanya pada masing-masing kita. Apa kita akan bermimpi dan bertemu saja di Danau Lungern? Agar benar, puisi Jokpin ini, jarak itu tak pernah ada, pertemuan dan perpisahan hanyalah dilahirkan oleh perasaan.

Puisi Perjalanan Pulang (1991)

…Aduh sayang, jarak itu
sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan
dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.

Salam bagimu, peziarah muda.
Hatimu telah mencatat peristiwa-peristiwa kecil
yang dilupakan dunia.

Aku tertidur. Gelap.

Tak bermimpi apa-apa, bahkan hanya sekedar terbayang wajahmu.

“Mengapa tak berkirim pesan?” tanyamu.

Kau bercerita, malam tadi nyatanya sulit tidur. Tidak sampai waktu satu babak pertandingan sepakbola, mata kian terjaga dan sulit terpejam. Kau bilang diskusi mengenai himpunan puisi-puisi Jokpin seakan belum selesai dibahas, kemudian kita masih saja membahas satu sama lain melalui telepon.

Kau berbaring ke kanan, kau malah ingat puisi Jokpin yang mengkritik bahwa tiada yang benar-benar berkuasa. Pun tidak ada yang benar-benar menjadi manusia merdeka. Semua seperti ada yang mengendalikan, atau dikendalikan. Laiknya boneka. Dikendalikan rutinitas, yang dipenati oleh lingkaran yang tak juga menemukan titik pangkal.

Boneka, 1 (1996)

Saya datang dari negeri yang pemimpin
dan rakyatnya telah menyerupai boneka.
Saya tidak betah lagi tinggal di sana
karena saya ingin tetap menjadi manusia.

 

Apa arti kenyamanan bila tanpa kehadiran. Namun rasa dingin, kerap diperlukan untuk menegaskan arti penting seseorang yang berada pada titik jemu hubungan. Manakala seseorang itu tak lagi menawarkan apa yang menjadi kebutuhanmu, sementara dirimu seakan menjadi satu-satunya seorang yang kesepian.

Puncaknya, tatapan kekasihmu tidak lagi berisi, sementara kau merasa tak diperhatikan, lalu hanya dia yang senyatanya ada. Menafkahi kegelisahanmu.

Gadis Malam di Tembok Kota (1996)

Merapatlah ke gigil tubuhku, penyairku.
Ledakkan puisimu di nyeri dadaku.

Aku mesti lebih jauh lagi mengembara
di papan-papan iklan. Tragis bukan, jauh-jauh datang
dari Amerika Cuma untuk jadi penghibur
di negeri orang-orang kesepian?

 

Hingga tiba perjalananmu pada tubuh puisi Jokpin, kau hampir terhanyut terbawa mimpi, kala tiba pada puisi Doa Mempelai, sampai kepada layar hitam percepatan waktu yang membawamu kepada masa yang tiba sekejap, baitnya terbaca oleh pikiranmu yang belum lekas beristirahat.

Doa Mempelai (2002)

Malam ini aku akan berangkat mengarungimu.
Perjalanan mungkin akan panjang berliku
dan nasib baik tidak selalu menghampiriku,
tapi insyaallah saat bisa kutemukan
sebuah kiblat di ufuk barat tubuhmu.

 

Tamu-tamu malam datang seiring mengelam. Gagasan-gagasannya tiba tanpa sebetulnya kau undang, merasukimu dengan pikiran yang sedang berkelana, menamui setiap emosi jiwa yang berbaring di atas ranjangnya. “Apa yang akan kulanjutkan pada pagi ini, yang kupikirkan dini hari ini. Siapa yang akan berada di meja makan pada siang nanti di hadapan, yang kususun draft percakapan sebelum akhirnya obrolan hanya menjadi klise, kabar mengabar serta detail mimik yang kulatih dini hari ini.

Kau tak bisa menahan tamu-tamu malam yang berduyun merebah di pikiran, memohon untuk kau layani sekaligus. Anjing di luar menyalak melawan gigil, politisi gadung mengonggong melawan gagal.

Anjing (2003)

…Aku baru sadar
bahwa anjing-anjingan bisa lebih anjing
dari anjing sungguhan.

Seorang ibu terdengar baru kembali dari rumah malam itu, pagar besi berderit cukup keras terdengar terbuka, mencari anaknya yang tak kunjung pulang. Tak hanya kegelisahan, namun ibu selalu merapal doa yang dengan sendirinya meredakan amarahnya. Suaranya akan semakin merdu setelahnya tiada. Nasihatnya adalah pelukan kekal serta cinta suci dengan alamat jelas. Bahkan Tuhan takkan pernah menolak doa seorang ibu.

Tiada (2003)

Tiada rumah yang tak merindukan seorang ibu
yang murah berkah, bahkan jika ibu tinggal ada
di bingkai foto yang mulai kusam.

 

Kau berbaring ke kiri, rasakan sendiri jantung yang berdebar. Kecemasan kadang tak membutuhkan penawar, ia mesti kau ziarahi dengan penuh sabar.

Rumah Sakit (2004)

Bila tak ada obat yang kuanggap mujarab,
dengan lembut dan hangat perawatmu mencium
jidatmu: “Minumlah aku, telanlah aku, makanlah aku.

 

Kau beranjak berdiri, kau malah semakin tak bisa tidur, lagi-lagi diantarakata puisi Jokpin memenuhi kepalamu dengan pertanyaannya yang tajam, “Zaman susah begini, siapa suruh jadi penyair?”

Pemulung Kecil (2006)

Sesekali ia bercanda juga:
‘Zaman susah begini, siapa suruh jadi penyair?
Sudah hampir pagi masih juga sibuk melamun.
Lebih enak jadi teman penyair.’

 

Sudah pukul setengah tiga. Kau masih terngiang dengan puisi Kacamata milik Jokpin. Ada puisi pada setiap jengkal bentala yang kita lintasi. Ada mengenai rindu atau diantarakata yang kita titipkan untuk kita nukil pada sajak-sajak hening, yang kemudian kita kenang.

Kacamata (2012)

Ada senja kecil yang sedang berdoa
di mata saya dan doa terbaik adalah sunyi.
Seseorang akan memberi saya kacamata
untuk memancarkan cahaya sunyi senja
ke jalan-jalan yang dilewati puisi.

 

Tiada yang dapat dipercaya lagi? Selain orang-orang menyudutkan kepentingan dan asumsi-asumsi. Apa kau masih percaya kepada tendensi penyair, yang pertaruhkan kata-katanya melawan kekuasaan yang tak berpihak pada keadilan?

Penyair Muda (2010)

Tega sekali kautinggalkan aku
hanya untuk berburu kata-kata.
Kau tak tahu, kata-kata tak bisa menaklukkan hatiku.
Hanya hati kata yang dapat membuat
dadaku berdenyut dan mataku menyala.

 

Lekaslah kini dikau beristirahat, kekasih. Embun di atas daun biar waktu saja yang menjaga kewarasannya, pagi ini. Secara bergantian senandung fajar yang menjadikannya syahdu.

 

Sumber Kutipan:

Joko Pinurbo, Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu: Sehimpun Puisi Pilihan (Jakarta: Grasindo, 2016)

Onegai, Modotte Kudasai

Oleh: Martalia A.

 

Judul buku: Kudasai
Penulis: Brian Khrisna
Penerbit: Mediakita
Deskripsi Fisik: 456 hlm. 19 cm.

“Pada akhirnya kau benar-benar hilang. Tepat di saat aku sedang butuh-butuhnya.  Salahku; menggantungkan bahagia pada seseorang yang pernah kukira akan selalu ada.”

Deep. Kutipan dari sebuah novel milik Brian Khrisna yang aku baca di wattpad sekitar satu tahun lalu dan berhasil membuatku takjub dengan diksinya yang quotable. Aku memutuskan untuk melanjutkan membaca beberapa chapter. Dan sialnya, mulai menikmati alur cerita dengan pembawaan narasinya yang dikemas dengan bahasa sederhana namun penuh makna dan diselingi lelucon absurd dari si tokoh utama laki-laki, Chaka. Chaka Ranchaka.

Pada chapter “I Belong to You” di mana chapter tersebut memberikan informasi bahwa novel Kudasai sudah terbit, yang artinya novel tersebut sudah dibukukan dan mau tidak mau aku harus membelinya karena penasaran dengan alur ceritanya yang selalu membuat hati berdebar setiap kali membaca bab demi babnya. Maaf, agak berlebihan tapi memang begitu. Selang beberapa waktu, aku menemukan buku Kudasai di salah satu perpustakaan umum di Yogyakarta. Buku dengan ketebalan 456 halaman, aku baca dalam waktu sehari.

Lantas, apa yang membuat novel ini begitu menarik? Alur cerita! Di sini penulis menyinggung topik feminisme dan anti-patriarki ke dalam ceritanya dengan alur yang cukup unik dan tidak mudah ditebak. Siapapun yang membacanya akan merasa seperti sedang menaiki wahana roller coaster, dibuat tertawa sampai terbahak-bahak, sesaat kemudian dalam waktu yang bersamaan dibuat menangis tersedu-sedu, emosi lalu terdiam sembari mencoba mencerna percakapan antar para tokoh. Penulis sangat lihai dalam mencampuradukkan perasaan pembacanya.

Novel karya Brian Khrisna ini mengisahkan seorang laki-laki bernama Chaka yang hanya memiliki dua keahlian, yakni memasak dan bernafas, harus terjebak dalam kontrak pernikahan bersama seorang alpha female bernama Twindy pemimpin sebuah firma arsitek terkemuka yang sangat mandiri, kaya raya, dan memiliki ego tinggi. Selama dua tahun pernikahan, Chaka yang bekerja mengelola café milik Twindy tidak pernah berani melawan Twindy yang cenderung lebih mendominasi. Chaka selalu mengalah dan lebih banyak mengurus urusan rumah tangga. Meskipun Chaka diperlakukan seperti berada di neraka, diam-diam Chaka mulai menyayangi Twindy sebagai istrinya yang menjadi tulang punggung dalam rumah tangga mereka.

Suatu hari, sosok masa lalu Chaka kembali hadir di kehidupannya. Anet, mantan kekasihnya yang ia tinggalkan begitu saja karena harus menikahi Twindy. Segala permasalahan antara Chaka dan Anet yang belum selesai menjadi titik awal konfilk dimulai. Sekelumit permasalah datang dan mengharuskan Chaka harus bertanggungjawab dengan pilihan rumit antara memilih istrinya, Twindy atau Anet, mantan kekasihnya.

“Kau tidak akan pernah mengerti tentang sakit hati, hingga suatu hari kau berdiri di depan seseorang yang begitu kau sayangi, lalu kau dipaksa untuk mau menerima sebuah kenyataan, bahwa kesempatan untuk kembali bersamanya itu tak lagi ada”

Penokohan yang kuat dan karakter yang khas dari setiap tokohnya adalah hal yang menarik dari novel ini. Karakter Chaka yang supel, ramah dan mudah bergaul membuat orang lain bahagia dengan tingkah konyolnya Namun,di saat mantan kekasihnya, Anet, hadir, sosok Chaka yang ceria dan humoris, hilang begitu saja, seperti kehilangan jati dirinya. Karakter Twindy yang dingin, galak, dan memiliki ego tinggi membuatnya tampak keras kepala. Bagi Twindy, sebagai alpha female, yang terpenting dalam hidupnya adalah seseorang yang selalu ada untuknya, bukan seseorang yang mempunyai segalanya. Karakter Anet, yang tampak baik, lugu, manis, selalu menerima kekurangan Chaka apa adanya, membuat hati pembaca bungkam tak bisa marah dengan kehadirannya sebagai penyebab retaknya hubungan rumah tangga Chaka dan Twindy.

Novel ini memiliki judul unik yang diadopsi dari bahasa Jepang, memiliki arti yang cukup mendalam, Kata ‘Kudasai’ bentuk verba bantu yang memiliki arti “Tolong, lakukan untuk saya”. Setelah selesai membaca novelnya, baru akan paham mengenai makna dari kata Kudasai dengan isi bukunya. Sekelumit permasalahan datang membuat para tokoh harus berhadapan dengan kehilangan, perpisahan, terluka dan kekecewaan. Dari tokoh Chaka, Twindy, dan Anet aku banyak belajar perihal kepedulian, meredam ego, kesederhanaan dan ketulusan dalam membangun sebuah hubungan. mencintai dengan sederhana. Pesan moral yang kutangkap dari penulis adalah mencintai itu bukan perihal siapa yang ‘paling’, tapi perihal siapa yang ‘saling’.

“Rumah tangga itu bukan sekadar soal siapa yang paling, tapi juga siapa yang saling.” – Chaka Ranchaka

Bagaimana, hati sudah tergerak dan tertarik untuk membacanya?

Yang Indah Selain Puisi Hujan Bulan Juni

aldiantara.kata

 

Kenangan adalah fosil—tidak akan bisa menjadi abu

“Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang.

Bagaimana mungkin.”

Siapa pula yang bisa menjamin bahwa ada yang pasti, bahwa ada yang selesai, bahwa ada yang tuntas dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki?” (Pingkan)

 

 

Sudah setengah jam berlalu semenjak aku dan kamu berteduh di depan swalayan, akhir-akhir ini cuaca sewaktu-waktu bisa berubah dengan segera. Pagi ini saja aku seharusnya sudah berada di kampus lantaran harus mewawancarai seorang dosen untuk sebuah penelitian sosial. Hujan membuat gerakan kita spontan menepi.

Tidak bisa bahkan jika harus memaksa mengayuh sepeda dalam keadaan cuaca seperti ini. Sepeda kita berdua disandarkan pada pada tempat yang lengang. Tanpa kunci, tanpa titip. Lalu kita berubah menjadi liliput lalu hinggap pada lampu kota yang tetap menyala. Suasana pagi nampak seperti sore. Lebih gelap. Pada tempat yang lebih nyaman, kaca penutup lampu yang diusapi hujan, udara yang menjadi sejuk, wangi tanah yang khas.

Kamu mulai membuka isi tas, aku selalu mengecemu sebagai dorami yang selalu membawa tas penuh berisi macam-macam. Meski begitu, hehe, aku tertawa duluan, sebab kau tau bahwa kau membawa pesananku: roti isi selai coklat kesukaanku yang kau potong kecil-kecil.

“Sampai di mana tadi obrolan kita?” tanyamu.

Mulutku masih dipenuhi roti.

Apa iyaya, kalo orang pacaran harus selalu mengobrol dan banyak pembahasan? Pertanyaan itu tiba-tiba, terbetik melalui suara yang hanya dapat kudengar. Aku tak mengutarakannya.

“Jadi, setelah kau dengarkan podcast Sapardi Djoko Damono di YouTube?”

“Ah iya, Sapardi bilang, Sastra itu bukan isinya (yang terpenting), sastra itu cara menyampaikannya…isi itu orang menulis sajak cinta itu kan sejak Nabi Adam nulis sajak kepada Hawa itu kan sudah sajak cinta. Cara (menyampaikan) itulah yang berkembang terus, (seperti) cara menyampaikan cinta, cara memarahi orang…cara itulah yang menjadi ciri dari setiap seniman…’ ”

“Mana lebih dulu, apakah Sapardi menciptakan puisi Hujan Bulan Juni atau konsep cerita Sarwono dan Pingkan dalam trilogi novel Hujan Bulan Juni?”

“Bahkan dalam novelnya penamaannya harmonis nan serasi, ujung penamaannya dengan “O”, Katsuo, Sarwono, Solo, Manado, Kyoto, Okinawa…” Aku tak merespon pertanyaanmu.

Apa yang kita baca menjadi sebentuk cara Eyang Sapardi menerangkan Cinta, melalui cerita Sarwono dan Pingkan, Katsuo dan Noriko dalam novel trilogi ini.

 

Orang Jepang mengagumi mekarnya sakura dan juga merayakan gugurnya bunga yang hanya berumur seminggu itu.” Kau mulai membuka-buka catatan pinggir buku yang sudah kau tandai.

“Aku jadi teringat pula hal yang membuatku kagum pada negeri Jepang melalui novel Aleph- Paulo Coelho, kata seorang tokoh bernama Yao bercerita, ‘Waktu tinggal di Jepang, aku mempelajari keindahan hal-hal sederhana. Dan hal paling sederhana sekaligus paling menakjubkan yang kualami adalah minum teh. Aku barusan pergi untuk mengulang pengalaman itu dan untuk menjelaskan bahwa terlepas dari semua konflik kita, semua kesulitan, semua sikap kejam dan juga murah hati, kita masih bisa tetap mencintai hal-hal sederhana dalam hidup. Samurai biasanya meninggalkan pedang-pedang mereka di luar sebelum masuk ke rumah, duduk dalam posisi tegak sempurna, lalu ambil bagian dalam upacara minum teh dengan berbagai tata caranya. Sepanjang upacara itu, mereka bisa melupakan perang dan mengabdikan diri untuk memuja keindahan…’ ”

Buku trilogi Hujan Bulan Juni rasanya tidak saja indah dan menarik menyaksikan percintaan segitiga antara Sarwono, Pingkan dan Katsuo, namun juga perihal untaian kalimat indah yang dialamatkan terhadap kota-kota seperti Solo dan Jakarta.

Ada alasan ke Jakarta sekarang, kata Sarwono kepada dirinya sendiri. Ia rupanya kangen sama Jakarta yang semakin macet, yang semakin senang bikin rame-rame, yang semakin tidak bisa dikendalikan, yang mau tidak mau harus dengan ikhlas diterima sebagai tempat berteduh bagi semua yang mau atau terpaksa tinggal di sana. Jakarta merasa sesak nafas tapi tetap saja siap menerima siapa pun yang sayang atau benci padanya. Baginya sama saja. Kota yang baik hati dan lapang dada itu suka berpikir, lampu neon ternyata yang selama ini menjadi daya tarik laron dari kota dan pulau lain. Jakarta yang bijak itu sesekali merasa agak repot memikirkan bagaimana mengubah para pendatang itu menjadi benar-benar urban. Setelah menjadi wargaku, mereka harus diurbankan…”

Gambaran mengenai Jakarta dalam “Jakarta Itu”,

Jakarta itu debu
Jakarta itu macet
Jakarta itu banjir
Jakarta itu motor
Jakarta itu yel-yel demo buruh
Jakarta itu mal
Jakarta itu pedagang kaki lima yang mati-matian membela kios-kiosnya
Jakarta itu rumah kumuh yang berderet sepanjang rel kereta yang satu demi satu dibongkar polisi tata kota
Jakarta itu berangkat subuh pulang magrib
Jakarta itu pedagang keliling burger yang menyulap Für Elise menjadi ikon oditorinya
Jakarta itu ondel-ondel
Jakarta itu Pak Ogah yang setia menunggu di tikungan jalan
Jakarta itu jerit klakson mobil Jakarta itu angkot tua yang batuk-batuk dan mogok persis di tengah jalan
Jakarta itu petugas pe-elen yang gugup ketika mengusut sekring mana yang ngadat sehingga aliran listrik melupakan tugas sehari-harinya
Jakarta itu wajah-wajah yang mulutnya ditutup masker warna-warni sehingga terhambat ketika mau meneriakkan semboyan “Hidup Jakarta!”
Jakarta itu terhimpit pintu ka-er-el yang menunggu sinyal keberangkatan.
Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan tak lekang oleh panas, kata Pingkan kepada dirinya sendiri sambil mengingat-ingat wajah Sarwono ketika melambaikan tangan dari balik dinding kaca ruang keberangkatan. Itu bukan pepatah, itu klise yang bersikeras untuk menjelma kembali ke habitatnya yang purba sebagai larik puisi. Pingkan selalu menarik napas dalam-dalam setiap kali mengucapkan itu diam-diam sambil menambahkan, Jakarta itu kasih sayang.

Percakapan “Masih ingat jalan ke Solo?” (dalam buku ketiga, Yang Fana adalah Waktu) antara Pingkan dan Sarwono benar-benar membuat orgasme pembacanya. Tentang peta menuju Solo, jalan menujunya saling dititipkan di alam bawah sadar keduanya. Tentang jalan lurus di mana jalan tersebut dihiasi dengan berbagai pemandangan agar kekasihnya bisa betah. Serta keinginan untuk tersesat bersama dengan kekasihnya.

 

Raut wajahmu ternyata tak bisa menyembunyikan rasa kagum setelah membaca buku trilogi Hujan Bulan Juni tersebut. Bahasa cinta yang dingin, sekaligus menggebu-gebu, namun tetap disampaikan dengan bahasa yang indah. Di dalamnya juga digambarkan Sarwono sebagai antropolog yang berkelana menyelesaikan proyek penelitian kampusnya di Universitas Indonesia; menguraikan permukiman Kali Code sebagai contoh masyarakat pinggiran, meneliti ke Tobelo untuk meneliti perihal konflik agama, ke Kyoto menyampaikan makalah dan menjelaskan masalah liyan dan diaspora di Indonesia,  hingga memerhatikan wajah calon mertuanya yang berasal dari Sulawesi Utara dengan memerhatikan bentuk wajahnya berdasarkan bangsa Mongol Utara.

Meskipun demikian, dalam perjalanan panjang penelitiannya, justru menarik lantaran pada prosesnya selain percakapan baik langsung, WhatsApp atau bahkan percakapan imajiner para pecinta itu yang saling bertaut, tidak saja dipenuhi di dalamnya bahasa-bahasa cinta yang indah, melainkan banyak nilai di dalamnya,  terdapat di antaranya muatan kritik sosial sebagai peneliti namun sekaligus pula menunjukkan keoptimisannya, dikatakan, “Ia (Sarwono) sadar, hasil laporannya hanya menjadi bukti selesainya pekerjaan oleh si pemberi dana proyek sering tanpa niat untuk membaca dengan cermat apa yang tersirat. Namun, ia yakin suatu saat nanti laporannya akan dibaca oleh seorang atau dua atau tiga orang cerdas yang bisa ‘membaca’-nya sebagai protes terhadap keadaan absurd yang terasa semakin lama semakin memberati masyarakat.

Muatan kritik sosial di dalamnya juga nampak ketika pada suatu waktu Sarwono menjumpai anak sekolahan yang pulang cepat lantaran guru-guru sibuk rapat, juga perihal ‘keseragaman’. Mendengar jawaban si anak sekolahan,

Sarwono tertawa, tukang becak tertawa, anak-anak tampak seperti bingung lalu ikut-ikut tertawa. Seragam tertawa. Dan semuanya berlalu begitu saja seolah tidak ada kejadian apa-apa, seolah-olah tidak ada yang tadi tertawa. Sejak menjadi mahasiswa ia sering berpikir mengapa semuanya harus seragam, mulai dari baju sekolah sampai cara berpikir yang dikendalikan kurikulum yang seragam, yang harus ditafsirkan secara seragam juga. Tadi pun, mereka seragam tertawa seragam. Bangsa ini tampaknya akan menghasilkan anak-anak yang seragam.

Selain itu, kritik sosial juga nampak ketika Sarwono sebal lantaran tiga buah puisinya yang dimuat pada sebuah surat kabar seakan tak dihargai dengan tata letaknya berada di sudut halaman, “kalah meriah dibanding berita politik, kriminal, gambar-gambar yang semakin lama semakin berdesak-desak, dan iklan.

Kamu bercerita pula kisah cinta antara Sarwono dan Pingkan, sementara keduanya berbeda, Sarwono beragama Islam dan Pingkan beragama Katolik,

Begitu keluar dari kota kedua orang muda Jakarta itu menyaksikan adegan yang biasa mereka saksikan di Jakarta: beberapa kelompok orang mencegat mobil untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan Rumah Tuhan. Bedanya adalah, di Jakarta Rumah Tuhan itu mesjid, di Menado tentu saja gereja.”

Pada hari Jumat, “Pingkan melihat jam tangannya, mendadak bilang, ‘Sar, ini kan dah jam setengah 12, Jumat. Pergi sana kamu ke Mesjid Gedhe. Nanti telat lho. Yen kowe telat, dongamu ora bakal ditampa. Naik becak yang tadi dipakai aja, biar cepat.’ … Selama mendengarkan khotbah di Mesjid Gedhe ia (Sarwono) tetap mendengar kata demi kata Pingkan di sela-sela seruan pengkhotbah untuk tidak memanfaatkan agama sebagai alat untuk mencapai apa pun, kecuali untuk mendekatkan diri dengan Allah. Itu perintah Allah, itu perintah Muhammad SAW, itu yang menjadi dasar keyakinannya sebagai orang yang harus menghargai keyakinan orang lain, yang selalu mengingatkannya untuk mengharamkan kata ‘liyan’ dalam cara berpikirnya, Biarlah kata itu tetap ada di kamus, tetapi tidak perlu digunakan untuk mencibir, apa lagi menyiksa orang lain.

Bahkan mengenai nasionalisme Sarwono ketika ditawari untuk tinggal di negeri lain, “Ia (Sarwono) tidak ingin tinggal di mana pun kecuali di negeri yang menyenangkan karena selalu geger ini. Ia masih harus menuntaskan keinginan untuk blusukan dari pulau ke pulau agar bisa menghayati hal-hal pelik yang tidak akan bisa diuraikan, apa lagi ditata, tanpa didasari keikhlasan untuk memahami dan menerimanya.

 

Ketika terdengar suara gitar John Williams memainkan ‘Concierto de Aranjuez’, keduanya sepenuhnya diam mendengarkan, Pingkan mencium rambut Sarwono”,  “…ada Paco de Lucia, Pepe Romero, dan bahkan Joaquin Rodrigo sendiri, tapi bagiku sentuhan jari-jari Williams mewakili siutan angin Firdaus.”, “Tak tahu kenapa, aku ingat lirik lagu Norwegian Wood yang pernah kaubilang kau suka itu, she asked me to stay, and she told me to sit anywhere, so I looked around, and I noticed there wasn’t a chair”, “Ia merindukan Sarwono, yang suka berbagi earphone kalau sedang cari-cari bahan di perpustakaan kampus sambil mendengarkan “The Swan” versi jazz Bob James adaptasi yang dicuplik Le carnaval des animaux karya Camille Saint-Saëns. Ia benar-benar merindukannya.”, Arthur’s Theme  dinyanyikan Rumer, menjadi  playlist Pingkan ketika merindukan Sarwono.

Aku menunjukkan kepadamu ceklis catatan pinggirku. Setiap di mana Pingkan atau Sarwono mengutip sebuah judul lagu, maka aku berhenti  membaca sejenak, mencari lagu tersebut lalu dengarkan. Kupikir aku menyukai lagu-lagu para pecinta yang mabuk asmara. Sepertinya aku sedang menikmati kisah cinta gila ‘Layla Majnun’ tanah air ini.

Kau mengangguk.

Yang kumaksud adalah aku begitu menyenangi  bahasa cinta baik Pingkan atau Sarwono baik yang terucap ataupun tidak oleh keduanya. Tersampaikan atau hanya tergumam sebagaimana para pecinta yang masih menyembunyikan perasaannya terdalam. Seperti Pingkan yang suatu kali menyandarkan tubuhnya lebih rapat ke Sarwono, berbisik kepada dirinya sendiri, “Apa dosa dan salahku maka telah mencintai laki-laki Jawa yang sering zadul mikirnya ini?

Tentang kepekaan Pingkan yang meminta petugas restoran untuk mengecilkan suara musik lantaran memahami ekspresi Sarwono yang terlihat tidak nyaman. Atau Sarwono yang tanpa mengindahkan tata cara naik pesawat terbang, begitu mendarat Sarwono mengirim WhatsApp pada Pingkan, “aku rindu kamu, Ping.” Kecemburuan Sarwono pada Katsuo dengan memanggilnya Sontoloyo. Pingkan yang tak menjawab ucapan Sarwono melainkan merangkul Sarwono dan bertubi-tubi menciuminya di warung kampus. Pingkan yang cemburu kepada Dewi, asisten peneliti Sarwono. Pingkan yang hanya mau dengan Sarwono, “Maunya Sarwono, Pingkan hanya sama dia. Bodoh ya gak apa-apa, pokoknya sama dia saja.”.

Pingkan yang merasa cengeng pernah diam mendadak dan ingin menangis ketika Tante Keke membujuknya untuk meninggalkan Sarwono. Atau dalam rindunya Pingkan bilang, “ ‘Aku kangen, Sar’, disertai selfi yang sudah dikrop sehingga hanya tampak bola matanya yang seperti memantulkan kuntum sakura... Dan semua yang telah dilakukannya di Kyoto, semua kalimat dan gambar yang dikirimnya lewat dunia maya tidak lain adalah ungkapan dan sumpahnya bahwa ia mencintai sahabat kakaknya itu—tanpa walaupun tanpa meskipun.

Pingkan yang selalu memakai jaket ketika keluar malam lantaran ingat anjuran Sarwono. Pingkan yang tak berhenti menulis surat untuk Sarwono sebab ingin kertas berisi tulisan tangannya menjadi tanda kasihnya. “Aku sangat capek tapi harus nulis terus. Sar! Aku Pingkan, Sar, yang waktu masih SMP pernah nitip surat ke Toar dan dia bilang, ‘Kamu gila apa? Kan bisa WA atau e-mail aja ke Sar.’ Ya tapi aku ingin kau memegang kertas yang ada tulisan tanganku aku ingin kau merabanya dan membayangkan apa pun yang ingin kaubayangkan tentangku. Sar!”

Membaca itu malah kubayangkan ‘Pingkan’ Velove Vexia yang tergila-gila pada Adipati ‘Sarwono’ Dolken sebagaimana filmnya. Tak bisa membayangkan yang lain. Ini mungkin kekurangan kenapa aku malah menonton itu terlebih dahulu baru kemudian membaca novelnya.

Meski demikian, sesekali dibuatnya aku cemburu sebagai pembaca ketika Pingkan dan Katsuo waktu di Kyoto. “Pingkan hampir mabok ketika menyusuri sungai yang membelah Kyoto pinggirnya dipenuhi bunga sakura. Masih terasa dingin, dan Katsuo dibiarkannya memeluknya untuk mengusir hawa yang bisa mengurangi nafsu makan itu.” “Dan tampaknya gadis itu (Pingkan) malah merasakan sedikit rasa tenteram sehingga tidak ingin melepas tangannya. Ada yang dirasakannya mengalir lambat-lambat lewat jari-jari Katsuo menyusup ke telapak tangannya, semacam butir-butir halus selembut pasir yang turun lewat gelas waktu yang lehernya sangat sempit dan panjang berkelok-kelok persis spiral yang ujungnya di bawah tidak ketahuan wujudnya.

 

Hujan pada bulan Juni segera berakhir. Sementara langit, tetap menjadi tempat aku dan kamu menengadah, butiran air bak mutiara yang turun berangsur reda. Kau mencuri pandang kepadaku, sementara aku bertanya, “Apa ada yang indah selain dari puisi Hujan Bulan Juni?”

“Banyak!”

Catatan pinggir tersisa pada bukumu kemudian berbicara dalam benak kita berdua. Tubuh kita beranjak normal, lalu kita tuntun sepeda yang sedari tadi terparkir di swalayan di atas genangan air dengan bias cahaya warna dan warni yang menyelimuti tanah.

Bahwa kasih sayang ternyata tidak cabul, ternyata terasa semakin pesat lajunya walau waktu yang selalu tergesa-gesa terasa berhenti, ternyata bukan godaan untuk mendesah dan terengah.

Bahwa kasih sayang ternyata sebuah ruang kedap suara yang merayakan senyap sebagai satu-satunya harap yang semakin khusyuk pelukannya kalau senyap yang tanpa aroma tanpa warna tanpa sosok tanpa asesori mendadak terbanting di lantai kemudian melesat terpental ke langit-langit untuk turun perlahan sangat perlahan memeluk dan mem bujuk mereka berdua agar tidak usah mengatakan sepatah kata pun sedesis huruf pun sebab kata cenderung berada di luar kasih sayang

Dan kasih sayang tidak bisa disidik dengan kata sekalipun berupa sabda bahwa ketika berpelukan, mereka merasa seperti dituntun untuk sepenuhnya mempercayai bahwa kasih sayang tak lain adalah Kitab Suci yang tanpa kertas tanpa aksara tanpa surah dan ayat tanpa parabel tanpa kanon tanpa nubuat tanpa jalan tanpa karma tanpa gerak tanpa siut yang membujuk mereka membayangkan dua ekor kuda jantan dan betina yang saling menggosok-gosokkan lehernya di perbukitan ilalang yang menjanjikan tempat bertengger bagi butir-butir embun terakhir kalau cahaya matahari pertama bersinggungan dengan cakrawala.

 

Tiga Sajak Kecil

di jantungku
sayup terdengar
debarmu hening

di langit-langit
tempurung kepalaku
terbit silau
cahayamu

dalam intiku
kau terbenam

 

“Selalu ada yang terjadi tidak untuk bisa dipahami, tampaknya.
Selalu ada saat ketika kita tidak memiliki keberanian untuk bertanya dengan tulus kepada diri sendiri kenapa ini begitu dan kenapa itu begini.
Selalu ada saat ketika kita tidak memiliki kemampuan untuk menatap tajam mata kita sendiri dan bertanya, Kenapa kau menyiasatiku begitu? Pertanyaan retoris yang sejawabannya tak lain, Kenapa kau menatapku tajam begitu?
Selalu ada saat ketika kita tidak sempat bertanya kepada sepasang kaki sendiri kenapa tidak juga mau berhenti sejak mengawali pengembaraan agar kita bisa memandang sekeliling dan bertahan semampu kita untuk tidak melepaskan air mata menjelma sungai tempat berlayar tukang perahu yang mungkin saja bisa memberi tahu kita, Kesana, Saudara, ke sana.”

“Hanya ada kasih sayang yang tidak diatur oleh siapa pun kecuali mereka yang berada di ruang kedap suara

Hanya ada perpisahan yang sejenak menyesakkan tapi yang segera disusul dengan jerit pertemuan kembali yang menjadikan langit mendadak tampak lebih biru dan laut kelihatan lebih cemerlang seperti cermin di bawah langit yang tak selesai-selesainya bersolek.”

 

Sumber Kutipan:

Novel Trilogi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono

Bekas-Bekas Jari Tanganmu, Sapardi Djoko Damono

aldiantara.kata

 

Tumben sekali kau bersemangat membahas buku. Tak ada angin, tak ada hujan. Meski sekarang sudah memasuki bulan Juni. Dadak-dadak kau malah ingin bercerita soal buku Eyang Sapardi Djoko Damono; ‘Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?’ alih-alih buku Hujan Bulan Juni.

Kau malah bilang meski puisi-puisi populer Eyang Sapardi begitu ngena’, tetapi kau bercanda bahwa kau ingin dianggap berwawasan luas dengan membaca buku Eyang Sapardi yang lain, agar tak melulu membahas Sapardi berarti puisi Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin. Iya-iya kau serius?

“Ngga juga, sih. Siapa tahu sepenggalan saat membaca bukunya bisa aku kutip lalu dijadikan status WhatsApp.” Jawabmu.

“Quote a la a la … ”

“Lalu berpikir perihal kesenduan, membacanya pada sebuah kafe dengan kaca berembun, memandangi jendela sembari ditemani secangkir kopi. Tapi pada kenyataannya hasil fotonya nampak biasa saja, faktanya berada di kafe cangkir biasa dengan angel mainstream, ngga ada estetik-estetiknya.” Aku melanjutkan.

Kau merengut. Menyadari aku bercanda tapi benar adanya.

Lalu kau bercerita bahwa kau sedang membereskan almari bukumu yang sudah lama tak kau sentuh sejak sibuk dengan tugas akhir kuliah. Kau bilang yang penting beli dulu saja buku-bukunya, pasti ada waktu untuk nanti dibaca.

Aku jawab, “Iya kalau memang buku-bukunya akan terus utuh. Bulan lalu aku harus membuang beberapa buku yang sudah mendapat invasi rakyat rayap. Tinggal sesal kenapa mereka harus menyerang buku-buku yang belum tamat dibaca.”

Kau melanjutkan cerita, kau bilang, ketika membereskan buku-buku, tiba-tiba buku Eyang Sapardi ini kebetulan menyembul di antara yang lain, dibacalah sebelum dirapikannya kembali. “Eh di awal-awal beliau mengutip quote Robert Frost, ‘And of course there must be something wrong. In wanting to silence any song.’ ” Kau bilang jadi teringat dengan puisi terjemahan Robert Frost yang baru kau baca di rumah sastra www.diantarakata.com berjudul Stopping by Woods on a Snowy Evening.

Kemudian, aku mengajakmu untuk bergegas mencari tempat yang baik untuk berbincang. Selatan Kampus Bayangan terdapat banyak pilihan tempat nongkrong (cari waypay).

Katamu, meskipun kafe-kafe belakang kampus banyak sediakan buku, para pengunjung lebih dulu memastikan password waypay. “Buku-buku terjemahannya tak menarik.” Ucapmu ketus.

Meski percakapan kita terpotong dengan waiter yang mengantarkan pesanan, kau sudah sibuk mencari guratan pensil yang kamu tandai pada lengan buku, pinggirnya. Kau bilang membacanya dengan sedikit kantuk, bak kenangan yang menggelayuti kelopak matamu agar lekas beristirahat.

“Aku menandai rangkaian kata yang relate dengan keadaanku.”

Dengan demikian, pada masa yang akan datang, baris baca yang terlewat saat ini, bisa jadi akan mengena’ di kemudian hari. Piiih! Aku malah sibuk memperhatikan tahi lalat sebelah kiri bibirmu.

Kau mulai membacakan apa yang kau beri tanda, pada judul puisi pertama, “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?

“/2/

Apakah kenangan bisa begitu saja meninggalkan tubuhku?
Ada yang terasa nyeri ketika sesuatu kebetulan kautangkap dalam kenangan, pada suatu pagi yang jeritnya bagai ombak, ketika perempuan itu dulu bertanya padamu tentang segala yang telah kaulalui, tentang bekas-bekas jari tanganmu yang masih bisa terbaca di seluruh tubuhnya. Kau tidak ingat benar apa yang ditanyakannya, apa yang sebenarnya ingin ia dapatkan kembali darimu. Ia toh sudah menjadi daun penanggalan yang tiap bulan kausobek dan kaucampakkan di tempat sampah.”

“Bicara kenangan, apa yang sebenarnya ingin ia dapatkan darimu?” diulanginya.

“Kalau lagi rindu kepada kenangan yang sudah jadi lampau, selalu ada harap mengulangi momen yang pernah, kan?”kau mulai berlagak menafsir.

“Sidang skripsi?” tanyaku.

(aku tak ingin menceritakan kelanjutannya, tapi kemudian dia melemparkan kepadaku sesuatu)

 

Ternyata, aku dan kau sama-sama suka dengan puisi “Rumput”. Banyak orang dalam kehidupannya yang menyimpan sesal dengan apa yang sudah dijalani dan yang jalan yang tak dipilih. Kita bacakan, bergantian.

“Seandainya tidak kuambil jalan ini. Jangan katakan itu. Sebab kau tidak bisa tawar-menawar dengan masa lampau. Dan tak boleh menyebut apa pun yang sudah pernah kaujalani, atau tidak pernah kaujalani, sebagai nanti. Sebagai bayangan dirimu sendiri.”

“Seandainya kulalui jalan yang satu lagi.
Jangan pernah mengucapkan itu sama sekali.
Kalau yang kaupanggil rumput memang harus rumput, ambil saja jalan yang menjulur di depanmu dan lanjutkan saja kehendak (kehendak?) yang telah melemparkanmu kemari. Sekarang ini.”

Jalan tak pernah berdusta
apakah ia harus membujur ke selatan
atau utara, apakah ia harus berkelok
atau lurus saja, apakah ia siap menerimamu
berjalan perlahan menyusurinya.

Jalan tak pernah diberi tahu di mana akhirnya,
tak pernah diajar merencanakan
arah selanjutnya; ia hanya boleh rebah,
begitu saja, dan menjadi sahabatmu.
Kauhayati atau tidak, ia jalan.
Yang menjulur di bawah
matahari. Ia tidak mengatur langkahmu
di kelokan itu. Ia tak lain jalan,
di bawah matahari.

Kelokan tak meributkan rumput, tak peduli apakah rumput memang harus rumput dan tidak boleh dipanggil lain, misalnya burung atau kijang. Yang bebas terbang, yang menggemaskan larinya.

Kelokan akan menerimamu dengan ikhlas, seperti kalau ia menerima hujan kiriman di musim kemarau. Seperti kalau ia menampung bulu bunga randu yang tak lagi dikehendaki angin. Seperti kalau ia menerima saja segala kehendak jalan. Ia, kau tahu, sungguh tulus.

Irisan buah naga menyisakan beberapa potong di piring meja, jamu yang kau pesan dan temulawak yang kupesan menyisakan sisa setengah. Menuju senja, klakson kendaraan mulai terdengar seperti bersahutan. Jam pulang kerja. Aku melanjutkan perbincanganmu denganmu. Suara menjadi samar, sekitar berputar tanpa kami sadari. Sementara puisi-puisi Eyang Sapardi yang telah kau tandai dengan pensil masih terus berbicara dengan sendirinya melalui suara latar.

Pertanyaan adalah hasrat
untuk meloloskan diri dari kelokan tajam,
pertanyaan adalah taruhan bagi kehendak
yang terus-menerus hanya dibayangkan.
Pertanyaan selalu kembali lagi
ke pertanyaan. Yang jawabannya
tersembunyi rapi dalam pertanyaan.

 

Puisi “Perihal Waktu” Eyang Sapardi berbunyi di alam pikiran kita.

Hei, hari apa kamu?
Kita saling menatap, padahal tak ada
siapa pun yang menyampaikan pertanyaan itu.
Kita mungkin memang ditakdirkan
untuk merasa bahagia, duduk di beranda.

Dan ketika mendengar tokek di belakang rumah
kita suka menghitung ya, tidak, ya, tidak,
dan ya –
kita pun merasa lepas dari angka-angka
yang rumit, yang mengaburkan pandangan kita.
Untuk apa kita harus merasa tidak bahagia?
Untuk apa laron melepaskan sayap-sayapnya
hanya untuk mendekati cahaya?
Untuk apa pula anak desa itu
berlayar ke negeri-negeri jauh
hanya untuk dikutuk menjadi batu?

Selembar angin yang melayang
entah dari mana dan tak ingin
jatuh ke bumi – dan udara menjadi biru
seperti langit yang memantulkan warna laut.
Kita mungkin memang diciptakan
agar ada yang pernah
merasa bahagia.

Hidup adalah penyeberangan
yang menggantung
antara rahim dan bumi.

Siapa yang menantiku di seberang?
Sungguh adakah yang menantiku?

Mungkin ada yang sejak lama menungguku
nun di sana, tetapi adakah jarak
antara yang ditunggu dan yang menunggu,
antara berangkat dan pergi,
antara tanah yang kita kenal
dan yang kita bayangkan pernah ada?
Kali ini aku sendiri, tidak mendengar suaramu
Kita mau ke mana?

Benar, kau pernah bilang tak perlu
membedakan pergi atau pulang,
mengosongkan atau mengisi teka-teki silang.
Stasiun bukan Pohon, bukan Bukit, bukan Gua –
stasiun adalah tempat orang gelisah
karena menunggu kereta, bukan Sabda.
Beberapa patah kata
di papan-papan itu hanya menunjukkan arah,
suara peluit sekedar isyarat –
selebihnya kitalah
yang berurusan dengan makna.

Apakah aku harus
memberimu selamat tinggal
hanya karena di stasiun?

 

Perbincangan kita kembali kepada buku puisi Eyang Sapardi, ‘Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?’ Aku sebetulnya iri ingin menjadi kursi yang kau sandari, sepertinya kau sudah mulai bosan. Aku sampai mengguratkan angka romawi menghitung berapa kali kau menguap. Dari dua puluh empat ayat puisi “Surah Penghujan”, menjadi sesi perbincangan yang terakhir, aku menyukai ayat dua belas, sementara kau menyukai ayat dua puluh.

penghujan mencari ujung akar dan melesat ke daun-daun
yang mengganggu pandanganmu
dan ia terus mencari ujung akar
Aku menyaksikannya menaklukkan urat pohon itu dan
menggoyang-goyangnya dan menekuknya dan merubuhkannya
dan sesudah itu menatapmu dengan penuh kasih sayang
dan katanya kenapa kau masih saja merindukannya? dan Aku
menyaksikannya menyerbu ke dalam kenanganmu yang terletak
jauh di lereng kemarau
*
dan Aku menyaksikanmu memegang dada kirimu.

 

Kau bilang sangat suka dengan amsal kemarau yang mampu mengeringkan bekas-bekas luka.

Kau hanya mencintai kemarau sebagai kemarau kau membayangkan kemarau bisa mengeringkan bekas luka-luka dan kau tidak mencintai penghujan hanya karena suka menjelma tanah hanya karena kau tak menginginkannya mengaburkan pandanganmu.

 

Sudah saatnya pulang.  Kau masih sempat menilik-nilik tanda pada buku, memastikan tak ada yang terlewat. Larut dalam waktu, menyisakan tempat yang mulai menyepi. Kau bilang bahwa kau akan membaca buku Hujan Bulan Juni. Meskipun kau sudah terlebih dahulu menonton Adipati Dolken dan Velove Vexia sebagai Sarwono dan Pingkan. Aku katakan kepadamu bahwa aku kini memiliki ketakutan dalam mengumbar rencana. Biasanya malah tak jadi dilakukan. Kau tak percaya mitos itu, ya?

Di atas motor matic sepulang kita, sama-sama membacakan “Sajak Tafsir

Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat
untuk bisa lebih lama bersamamu.
Tolong ciptakan makna bagiku,
apa saja – aku selembar daun terakhir
yang ingin menyaksikanmu bahagia
ketika sore tiba.

dalam hati, tanpa menjaharkannya. Berhasrat. Membacakannya dalam kesunyian namun saling mengalamatkan kepada alamat yang jelas. Tolong, waktu! simpan kenangan ini pada sebuah tabung, agar bisa kutamui, sekali lagi, nanti.

 

Sumber Kutipan Puisi:

Sapardi Djoko Damono, Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2017)

Satu Nafas Dua Cinta dalam Asmaraloka

Oleh: Abenza’idun

 

Hujan.

Selagi masih musim hujan, menarik rasanya kita menambahkan bumbu pelengkapnya, iya puisi. Puisi masih menjadi jalan alternatif terbaik yang merupakan output dari ekspresi hati. Apalagi, kala musim hujan seperti ini. Hati akan auto-puitis, terlebih pada muda-mudi yang lagi kasmaran. Tidak hanya muda-mudi saja, karena yang dewasa maupun tua terpantau juga demikian. Mereka seketika menjadi penyair dadakan tanpa undangan. Namun, terkadang mereka tidak menyadari itu.

Membahas tentang puisi, cukup banyak buku antologi puisi yang familiar, semisal Aku Ini Binatang Jalang karya Chairil Anwar, Hujan Bulan Juni karya Sapardi, Puisi-puisi Cinta karya W.S. Rendra, Surat Cinta dari Rindu karya Candra Malik, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi karya Joko Pinurbo, dsb. Namun, kali ini aku tidak sedang ingin membahasnya, hati tertuju pada sebuah buku antologi puisi karya sastrawan muda yang belum lama ini launching. Seingat saya pada 12 September 2020 di Kafe Main-main Jogja. Buah karya dari Usman Arrumy atau biasa disapa Gus Usman yang berjudul Asmaraloka: Puisi, Nada dan Cinta. Berisi 52 puisi yang ditulis antara tahun 2013-2020.

Secara keseluruhan Usman membawakan puisi-puisinya dengan bahasa yang cukup sederhana. Saking sederhananya justru sarat akan makna. Namun, tetap mudah dipahami tanpa harus menganiaya kamus dengan membolak-balikkan halaman per halaman.

Demi mata yang diciptakan
Untuk memandang matamu

Demi hati yang diciptakan
Untuk menanggung kesedihanmu
Aku bersaksi bahwa tiada cinta selain engkau.
(Kesaksian)

Kelopak mawar seketika layu
Begitu kusebut namamu

Bila kelak kehabisan suara
Aku akan menyerahkan namamu
Kepada mulut waktu
Dan berdetak di jantungku
(Namamu)

Mungkin, suatu waktu
Tuhan akan mengelus wajahku melalui tanganmu

Aku jadi berharap bahwa kelak, entah kapan
Tuhan akan mencintaiku melalui hatimu
(Asmaraloka)

Usman terlihat sengaja menggiring imajinasi pembaca selain untuk mencinta kepada yang dicipta sekaligus pada yang Mencipta. Dengan kata lain, mencintai keindahan ciptaan tuhan (eros) sebagai kekasih hati, menjadikan etos (keyakinan) terhadap yang Maha Rahman-Rahiim. Sehingga membentuk imanensi keajaiban Tuhan yang transendensi. Seperti yang diungkapkan oleh Jokpin (Joko Pinurbo) pada bagian pembukaan bahwa,

“Cinta dalam sajak-sajak Usman sering bermakna taksa pada saat dan ruang yang sama. Ketika ia berbicara tentang kekasih, kau dan mu, misalnya. Bisa tertuju sekaligus kepada kekasih sebagai persona insani dan ilahi. Dengan kata lain, sajak-sajak Usman acap kali memadukan cinta imanen dan transenden dalam satu tarikan makna.

Kalau orang jawa menyebut ngiras-ngirus (sekalian) atau dalam peribahasa sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui.

Dari 52 puisi, Usman juga menyajikan musikalisasi pada delapan puisi (prolog, kesaksian, doa, asmaraloka, huruf cinta, rahasia cinta, sabda cinta, kidung kekasih dan jalan). Audionya dapat didengarkan dengan memindai kode QR pada halaman masing-masing pojok atas. Dengan adanya musikalisasi, pembaca tidak sekedar berimajinasi dengan visual belaka, melainkan juga meresapi lewat audio. Agar pengembaraan para pencinta benar-benar mengena dan terhipnotis seketika.

Namun sayang, menurut saya, ada kekurangan dari musikalisasi puisi tersebut. Karena dari beberapa puisi yang dimusikalisasikan, justru kehilangan marwah daripada puisi itu sendiri. Seakan tidak ada bedanya dengan sebuah lagu. Biasanya musikalisasi hanya penekanan pada intonasi, namun ini melibatkan cengkok-cengkok seperti bernyanyi. Walapun belum ada kesepakatan atau konvensi resmi mengenai musik puisi/ musikalisasi. Tapi, Silahkan cek saja.

Terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini tetap recommended untuk para pengembara cinta yang hendak memburu targetnya. Dengan kesederhanaan bahasa (tidak rumit), sehingga dapat diserap oleh semua kalangan. Menjadi stok amunisi yang sewaktu-sewaktu bisa dilesatkan atau sekedar menambah referensi kata.

Mari hidupkan asmaraloka dalam kehidupan agar tidak ada ruang untuk membenci.

 

Jalan Kauman, Grobogan

Abenz

Inspirasta (Inspirasi Sastra)

aldiantara.kata

 

  1. “Saya selalu percaya bahwa inspirasi bukanlah sesuatu yang bisa saya datangkan, namun inspirasilah yang mendatangi saya” Djenar Maesa Ayu dalam pengantar dalam buku 1 Perempuan 14 Laki-Laki.
  2. “Yang terlupakan adalah waktu yang mengalir dalam lautan debar, samudra getar, cakrawala harapan.” Djenar Maesa Ayu dalam cerpen “Waktu Nayla” dalam buku Mereka Bilang, Saya Monyet!
  3. “Tapi mimpi juga terbatas waktu. Debaran itu mendadak buyar ketika terdengar suara ketukan pembantu di pintu kamar. Suara kokok ayam. Kicau burung. Kemilau sinar matahari menerobos jendela.” Djenar Maesa Ayu dalam cerpen “Waktu Nayla” dalam buku Mereka Bilang, Saya Monyet!
  4. “Semua orang harus tepat waktu sampai di tujuan. Semua orang tidak punya kesempatan untuk sekadar berhenti memandang embun sebelum menitik ke tanah. Semua orang melangkah bagai tidak menjejak tanah.” Djenar Maesa Ayu dalam cerpen “Waktu Nayla” dalam buku Mereka Bilang, Saya Monyet!
  5. “Karena itu juga Wong Asu menulis? Membunuh kesepian. Memberinya terapi untuk diri sendiri.” Djenar Maesa Ayu dalam cerpen “Wong Asu” dalam buku Mereka Bilang, Saya Monyet!
  6. “Manusia dengan naluri anjing jauh lebih rendah daripada anjing.” Djenar Maesa Ayu dalam cerpen “Wong Asu” dalam buku Mereka Bilang, Saya Monyet!
  7. “Sastra itu bukan sekedar seni menyusun kata-kata, lebih penting lagi adalah bagaimana seseorang telah sampai kepada pilihan kata-kata yang disusunnya itu—yakni bentuk perhatian seorang penulis kepada dunia dan kehidupan sekitarnya.” Seno Gumira Ajidarma dalam testimoni buku Doa untuk Anak Cucu – W.S. Rendra.
  8. “Dalam kuliah itu ia mengatakan bahwa puisi-puisinya merupakan ‘Yoga bahasa’. Yaitu semacam ruang ibadah. Dan, kemudian ia lebih tebal mengatakan: ‘puisiku adalah sujudku’.” Catatan Editor buku Doa untuk Anak Cucu – W.S. Rendra.
  9. “Pernyataan Rendra dalam sebuah wawancara dengan seorang wartawan. ‘Mengapa Anda begitu berani melancarkan protes terhadap praktik pembangunan oleh pemerintah?’ Rendra menjawab, ‘Saya protes dan bersikap kritis terhadap pemerintah bukan lantaran saya berani. Malah sebaliknya, karena saya takut apa yang bakal menimpa anak cucu di masa depan.’ ” buku Doa untuk Anak Cucu – W.S. Rendra.
  10. “Jika kita membuka sejarah hidup sastrawan, menulis baginya adalah kebutuhan, dan sebab kebutuhan itulah maka penyair Carl Sanburg (Chicago, USA) tak demikian peduli apakah sajaknya mendatangkan uang atau tidak. Tetapi baginya, dimuat di jurnal Chicago Poems adalah menjadi harapannya, 20 tahun kontinyu Carl Sanburg mengirim sajaknya ke jurnal itu dan barulah dimuat. Setelah pemuatan pertama itu kemudian terus menerus karyanya dimuat, dan dalam tahun yang sama Sanburg, mendapatkan Pulitzer, hadiah terhormat USA untuk dunia kepenulisan.” Buku Sastra Pencerahan – Abdul Wachid BS

Rindukan Tanah Air, kepulangan

aldiantara.kata

 

Membaca Ramadhan K.H. melalui Priangan Si Jelita: Kumpulan Sajak 1956. Pustaka Jaya, 2006.

Baru saja daku diantarkan pada pembuka, Ajip Rosidi menuntunku kepada bahasa yang buatku rindu kampung halaman, yang juga sedang merantau.

Ajip Rosidi katakan, “Perpisahan sementara dengan tanah kelahiran, akan memberikan kesempatan buat suatu pertemuan kembali yang lebih mesra. Karena perpisahan akan menyadarkan seseorang pada kehadiran sesuatu yang selama ini dilupakan. Karena perpisahan sering menyebabkan kita sadar akan arti sesuatu yang selama ini tak pernah kita pedulikan kehadirannya di sisi kita. Sering kita baru sadar akan arti sesuatu kalau sesuatu itu sudah tak ada lagi di samping kita.”

Aku menemukan Ramadhan K.H. yang bercerita dalam sajak Tanah Kelahiran IV,

Berbelit membiru jalan
ke Gede dan Pangrango
lewat musim pengujan

Gadis-gadis menyongsong pagi
di pucuk-pucuk teh yang menggeliat
di katil orang lain menanti

Berbelit membiru jalan
ke Gede dan Pangrango
lewat angin dari selatan.

Ceritanya masih mengalir, sajak Tanah Kelahiran V,

Hijau tanahku,
hijau Tago
dijaga gunung-gunung berombak

Dan perawan sendirian
disamun ditujuh jalan
dikira orang menyanyi,
tangiskan lagu kinanti,

Dalam cerita Ajip Rosidi dalam pengantarnya, sajak-sajak Priangan Si Jelita disusun setelah perjalanan Ramadhan K.H. ke Eropa pada tahun 1952. Selama dua tahun berada di luar negeri itulah menjadi benih kerinduan Ramadhan K.H. terhadap tanah kelahirannya bersemai.

Ramadhan K.H. “mengagumi, dan mencintai keindahan alam Priangan yang hijau, lembah-lembah yang subur. Namun, kekaguman dan cinta itu tidak begitu dia sadari artinya, sebelum dia berangkat ke luar negeri.” Cerita Ajip Rosidi.

Setelah menunggu cukup lama, Ramadhan K.H. tampil juga di atas podium, bersikap tenang seolah tak kenal gugup, mencari nafas awal ‘tuk bacakan beberapa sajak.  Beliau tahu bahwa kini bukan lagi tahun 1958, apakah bila kini bumi Priangan menampakkan diri, kehijauannya dirawat dengan pembangunan. Apakah sudi beliau merubah diksi?

Ramadhan K.H. mulai membacakan sajak-sajaknya.

Sajak Dendang Sayang III

Bumi ini dibawa ke alam hijau
dan perang tiada
di atas tali-tali kayu berlubang.

Sumur segala derita,
bersamaan semua berpelukan.

Bumi ini dibawa ke alam hijau
dan perang tiada
di atas hati-hati dara berluka.

Sumur segala sayatan,
penampung tangis bertukaran.

 

Sajak Dendang Sayang IV

Kamboja putih di senja hari,
Rama-rama hitam jatuh di pangkuan janda muda.
Kemerahan di ufuk barat,
Membawa menyusur dari pantai ke pantai.

“Tengok dataran tanah priangan,Gadis manis”.
Ayah dipaku di lima tempat,
Bunda berlari dari tepi ke tepi,
Tiada menemu teratak lengang.

“Tengok dataran tanah priangan,Gadis manis”.
Dan si dara tiada bisa berkata,
Pacar gugur tiada menemu kuburannya.
Dan si dara hanya bisa meraba,
Membelitkan kalung kenangannya.

 

Pembakaran II

Kalung melati kemenangan
dibelitkan di leher jenjang,
tapi cuma bulan yang merayu,
kemarin dan hari ini tetap gerah merebah.

Dan tenggelamnya matahari
hanya malam menyepi,
kurban dinantu menyendiri
untuk di hari pagi.

Patahnya malam,
hanya berarti pengungsian
ditusuk di bagian yang paling lunak.

Dara!
Kalau mau ganti cerita,
Jangan menanti turunnya hujan!

Dara!
Kalau mau ganti warna,
mesti ada pembakaran!

 

Pembakaran IV

Siapa cinta anak,
jangan jual
tanah sejengkal

Siapa cinta tanah air,
jangan lupakan
bunda meninggal.

Siapa ingat hari esok,
mesti sekarang
mulai menerjang.

Kepenyairan WS. Rendra

Selesailah aku membaca buku Rendra: Ia Tak Pernah Pergi. Buku ini diberi kata pengantar oleh Ignas Kleden, diterbitkan oleh Kompas pada tahun 2009. Buku ini merupakan rangkuman tulisan yang pernah dimuat di harian Kompas selama kurun 30 tahun terakhir. Penamaan buku tersebut barangkali diambil dari ucapan Sutardji Calzoum Bachri kala Rendra wafat, “Tetapi saya tidak bersedih atas meninggalnya Rendra karena ia sebenarnya tidak pernah pergi. Seniman besar tak pernah pergi. Karyanya selalu besar. Inilah orang besar di antara kita.” (hlm. 329)

Dulu di bangku Sekolah Menengah Pertama aku pernah mengikuti lomba baca puisi untuk tingkat kabupaten. Dari beberapa pilihan puisi, kupilih “Doa Orang Lapar” WS. Rendra. Tak disangka sebelas tahun kemudian justru aku menjadi pengagumnya. Perkenalanku dengan Rendra juga melalui sajaknya yang dibacakan oleh seseorang dalam channel youtube. Tulisan di bawah ini merupakan pembacaan pribadi; sebagian poin-poin penting/rangkuman dari apa yang kubaca dari buku Rendra: Ia Tak Pernah Pergi. Hampir keseluruhannya merupakan kutipan langsung, sebagiannya kuubah sedikit redaksinya.

Sajak adalah media perjuangan untuk memperbaiki keadaan masyarakat. Tulisan Rendra selalu menyebabkan penikmatnya membayangkan suatu gambaran konkret menyentuh pengalaman. Itulah Willibordus Surendra Rendra, kelahiran Solo 7 November 1935. Tokoh Indonesia abad-20. Puisi bagi Rendra merupakan kekuatan bangsa menghadapi kekuatan-kekuatan yang dinilai sebagai musuh nurani bangsa itu sendiri. Rendra sempat menjadi lambang perlawanan Orde Baru. Puisi Rendra adalah puisi yang naratif, berkisah, dan menggali segi-segi yang terabaikan oleh dunia persajakan Indonesia. Tidak hanya sebagai penyair, Rendra juga dikenal sebagai teaterawan. Penggagas Bengkel Teater.

Seni tidak sebatas bentuk estetika, melainkan seruan hati nurani yang berfungsi kritis dan profetik. Seni harus kontekstual dan terlibat. Pembaca tulisan Rendra dibuatnya menjadi merenung, berefleksi, atau bercermin pada karya Rendra. Demikian menurut Bambang Sugiharto.

Rendra senantiasa mempertanyakan setiap gejala yang ditangkap inderanya, direnungkannya, dipertanyakannya kembali, dan seterusnya. Kumpulan-kumpulan puisinya menandai pergulatannya dengan situasi dirinya dan zamannya. Julukannya sebagai burung merak oleh Goenawan Mohammad. Lantaran sebagai seseorang yang pandai menari. Baik tubuh maupun kata-katanya.

Syu’bah Asa katakan, tidak ada seniman sejati yang tidak mencintai orang-orang papa. Putu Wijaya akrab dengan kawan-kawan gembelnya dan cekikikan bersama mereka, sementara Arifin C. Noer menyanyikan nasib para jelata dan nasib yang dihubungkannya dengan disain besar kosmis, adapun Rendra menggebrak untuk kepentingan orang-orang terlempar itu kepada dunia sebagai lingkungan nyata. Rendra barangkali seniman yang paling banyak berurusan dengan pemerintah, namun bukan karena ideologi.

Rendra menuturkan kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan di sekitarnya pertama kali dikenalkan kepada dirinya oleh seseorang bernama Janadi, yang merupakan seorang pembantu dari kakeknya. “Mas Janadi menjadi guru pribadi saya sejak saya berumur 4,5 tahun.” Rendra menghabiskan masa kecilnya di Solo, Jawa Tengah. Pelajaran yang diberikan Mas Janadi dirumuskan dalam kalimat “Manjing ing Kahanan, nggayuh Karsaning Hyang Widhi” (Masuk dalam kontekstualitas, meraih kehendak Allah.) Bekalnya rewes (kepedulian) dan sih katresnan (cinta kasih). Pelajaran yang diberikan Janadi tersebut merupakan kunci proses kreatif Rendra.

Manjing ing Kahanan, nggayuh Karsaning Hyang Widhi” bermakna pula semangat untuk hadir dan mengalir. Hadir di tengah masyarakat, mengalir mengikuti perkembangan, hidup adalah universitas kehidupan bagi Rendra. Maka seorang kreatif harus selalu berusaha memiliki kepedulian terhadap lingkungan yang mengelilingi dirinya, dari saat ke saat. Mulai dari lingkungan-lingkungan terdekat: baju-bajunya, meja tulisnya, lemarinya, negaranya, segenap flora dan faunanya, tetangganya, bangsanya, bumi, langit, samudera, alam semesta raya. Janadi menganjurkan kepada Rendra bagaimana mengolah kesadaran pancaindra, kesadaran pikiran, naluri dan jiwa untuk lebih cermat dalam memedulikan lingkungan. Disiplin kepedulian harus dilanjutkan dengan langkah ngerangkul: keikhlasan untuk terlibat. Latihan keterlibatan ini harus dimulai dari lingkungan terkecil sampai jauh melebar.

Untuk melatih kepekaannya di dalam menyerap problematika sosial Rendra selalu mengaku memunculkan kesadaran indra, pikiran, hati dan naluri. “Ini harus jadi totalitas kesadaran.” Kata Rendra pula, “Saya heboh kalau sedang menulis, badan bergetar, bulu-bulu kuduk bisa berdiri. Tidak mungkin saya tuliskan kesedihan tanpa libatkan liver atau ginjal saya. Ekspresinya harus sertakan kelenjar-kelenjar tubuh, karena irama ada di situ.”

Tidak hanya bekerja di belakang meja, Rendra memasuki ruang-ruang sosial yang nyata yang sebelumnya tabu bagi citra romantisme kepenyairan kita. Bagi Rendra, Penyair harus berpihak dan tampil sebagai pembela martabat dan nurani manusia. Penyuara nurani bisa saja dibunuh, tetapi nurani itu sendiri tetap akan “hidup”, sebab setiap sejarah yang melahirkan ketidak-adilan, ia pun melahirkan martir-martir lain yang baru. “Dilarang dan tidak itu urusan pemerintah. Urusan saya adalah mencipta dan mencipta!”

Di Bengkel Teater diajari bagaimana lebur dalam kodrat alam semesta dan dalam kehendak Tuhan yang Maha Besar. Tiga tiang pokok yang dipelihara dan diperkembangkan adalah hukum akal sehat, hati nurani dan integritas pribadi. Sekolah seni terutama harus mengajarkan mata-mata kuliah yang bisa melatih kepekaan jiwa, pembentukan kepribadian-yang harus melewati peristiwa-peristiwa meditasi, pengajaran Yoga dan lain-lain. Kaun intelektual, seniman kreatif, selama ini keterlibatannya dalam seni kurang merupakan suatu keterlibatan hidup (kurang total, kurang jenuh, kurang utuh pribadi) senimannya. Rendra menggunakan teater sebagai pengendapan dari perasaan yang hidup dalam masyarakat pada zamannya. Dan, ini memang salah satu fungsi teater: refleksi dari masyarakat.

Rendra sosok penyair yang mengharuskan dirinya harus selesai dalam urusan ekonominya, alias harus mandiri. “Maka saya sekarang sudah beli kambing, sapi, Saya tahu, tak semua orang senang mengurus kambing dan sapi. Maka, saya bikin kursus bahasa Inggris, jadi kelak mereka bisa memperoleh penghasilannya dari keterampilannya…Saya tak percaya kesenian diajarkan dengan menarik bayaran. Kasihan, kan seniman hidupnya tidak pasti. Belum apa-apa sudah harus bayar. Akademi kerawitan masakan pakai uang segala. Padahal, nanti kalau lulus dari sana, belum tentu dapat imbalan sesuai dengan uang yang dikeluarkan…Pengajaran kesenian itu gratis…Makanya standar hidup harus diturunkan. Seperti sekarang ini teman-teman tidur di lantai, yang belum menikah tak punya kamar. Semua harus diusahakan pelan-pelan, tetapi yang penting harus dilakukan. Kalau tidak namanya meninggalkan kewajiban. Dengan adanya padepokan, saya ingin anggota Bengkel Teater punya kesejahteraan ekonomi yang mandiri, yang swasta…Memang tak semua orang punya rezeki seperti saya, dibantu anak istri untuk menjalani kepastian hidup. Yang tidak pasti saya bikin pasti. Pasti itu artinya hidup miskin. Orang miskin kan tidak perlu sengsara. Yang penting ada tikar ada atap. Buktinya saya lebih sehat dibandingkan orang yang tidur di tempat tidur.” Rendra membuat suasana luar biasa yang dibangun bersama bersama kawan-kawan Bengkel Teater seperti rajin membaca buku, menulis, mengekspresikan diri, tahan membaca, tahan diskusi, tahan seminar.

“Suatu impian, suatu cita-cita betapapun utopisnya, akan menuntun tangan kita untuk menarik garis yang mengacu ke sana dalam memetakan perencanaan di masa depan. suatu garis yang mungkin lain daripada arah yang secara robot kita ikuti, kalau enggan sejenak berkontemplasi.” ~Alfons Taryadi. Tak setiap orang punya keberanian untuk menyuarakan hati nuraninya, bahkan tak punya bakat dan kepekaan untuk menyuarakannya. Dari sekian ribu orang mungkin hanya sekian sastrawan, sekian politikus, dan kolumnis sosial-politik. Karenanya, sastrawan, politikus, dan kolumnis dinanti dan diharapkan setiap orang di setiap zaman. Sastrawan dan kesusastraan sosial-politik selalu dinantikan orang, selalu dirindukan generasi muda dari setiap dekade. Demikian menurut Beni Setia.

Rendra pernah ditanya mengenai masa depan Indonesia. Rendra menjawab, “Salah besar kalau Indonesia sudah tidak memiliki masa depan. selalu dan akan selalu ada masa depan buat Indonesia…belakangan saya mengamati makin banyaknya siswa SMU dan mahasiswa yang melalap habis buku-buku humaniora. Ini investasi budaya. Daya kritis tampak ketika mereka menggugat berbagai masalah kebangsaan dan lingkungan. Ini membanggakan.”

Bagi Rendra, kemajuan negara tidak mungkin diciptakan oleh penguasa. Yang bisa dilakukan penguasa paling jauh menyeret bangsanya maju setahap saja, tetapi perkembangan bertahap-tahap seperti di Inggris hanya bisa dicapai dengan kemampuan rakyat. Dan, itu bisa terjadi berkat dukungan daulat rakyat yang dilindungi oleh daulat hukum.

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.
(WS. Rendra)

“Dari kesusastraan, orang bisa banyak belajar banyak tentang manusia, kesadarannya, jiwanya, nalurinya, kelemahan-kelemahannya, lingkungannya, dan kebudayaannya. Masyarakat yang buta humaniora akan sulit beradaptasi dengan dunia modern dan akan babak belur dalam mengembangkan industrialisasi. Sebab menerapkan teknologi tanpa pengetahuan humaniora akan membawa dampak ketegangan sosial.”

“Rakyat Indonesia tidak pernah menjadi warga negara dengan hak yang penuh untuk bebas berpartisipasi dalam urusan kemasyarakatan, urusan pemerintahan, dan urusan kenegaraan…Rakyat yang tidak berdaya adalah rakyat yang kehilangan kemanusiaannya. Kekuasaan pemerintah yang absolut akan menjadi berhala. Ia bisa mengobrak-abrik tatanan moral dan peradaban.”

“Zaman revolusi, setiap orang biasa disapa dengan sebutan “bung” atau “saudara”. Akan tetapi kini, begitu kemerdekaan negara sudah mapan, mereka tak mau disapa seperti itu karena ingin disapa sebagai “bapak”. Kalau rakyat datang bertemu dengan birokrat disebut sebagai ‘menghadap’. Sikap birokrat yang sangat kurang ajar seperti itu, anehnya, sekarang ini malah disebut sebagai ‘tata tertib’…dalam perspektif budaya, reformasi politik-ekonomi takkan menjadi reformasi yang beneran bila tidak berhasil memberdayakan rakyat. Padahal setiap warga negara harus diberdayakan hingga masing-masing punya sumber nafkah, rumah tempat tinggal yang layak, dan seterusnya.”

Rendra kecil dikenalkan mengenai puisi oleh ayahnya sendiri, Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo. Dikenalkannya bentuk-bentuk puisi semacam soneta, pantun, stanza, dan sebagainya. Terlebih ketika diberikan pelajaran mengenai sandiwara. Ketika berulang tahun, ayahnya memberikan sebuah mesin tulis harapannya agar anaknya menjadi semakin produktif. Mulai saat itu sajaknya bermunculan. “Saya terlibat dalam pergerakan reformasi masyarakat sejak kanak-kanak, mengikuti ayah saya.” Ayahnya RSC Brotoatmodjo adalah guru bahasa Indonesia dan Jawa Kuno sebuah sekolah katolik dari Yayasan Kanisius, sementara ibunya seorang penari keraton. “Saya tumbuh dalam keluarga yang idealisasinya mengubah masyarakat untuk maju.”

Rendra seorang seniman sejati, sebagai kepala keluarga, hidup bersama dua istri dan tujuh anak, ibunya bahkan prihatin menyaksikan kehidupan putranya yang tanpa penghasilan tetap, selain dari honor bermain drama. Bahkan Rendra yang selalu menolak beberapa pemberian atau subsidi dari beberapa yayasan yang bermaksud bekerja sama dengan Rendra. Bagi Rendra, dalam gelimang uang dan kemewahan, orang bisa menjadi malas dan impoten. Rendra menolak malas-malasan dan kerja-kerja rutin yang tidak kreatif. Memilih untuk menelaan buku-buku, menjalani puasa serta seringkali tidur tanpa bantal, selain sepotong kayu yang keras.

Rendra meninggal setelah menderita serangan jantung koroner pada tanggal 6 Agustus 2009. Dimakamkan di TPU Bengkel Teater Rendra, Depok. Posisi seorang budayawan yang ideal itu tidak berpihak kepada apa pun dan siapa pun, tetapi kepada kebenaran. Rendra menyebut kelompok ideal seperti ini sebagai “mereka yang berumah di atas angin”.  Mengenang Rendra adalah mengenang keberaniannya menerobos batas dan kebebasannya berkreasi. Bukankah kebebasan berpikir dan keberanian melakukannya yang membawa perubahan?

Berikut salah satu puisi Rendra yang sarat akan kritik sosial;

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang
berak di atas kepala mereka.

Matahari terbit
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan

Aku bertanya.
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
………………………………….

Menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita-wanita bunting
antri uang pensiunan.
Dan langit
para teknokrat berkata:

Bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangunin,
mesti di-up-grade,
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor.

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala.
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon.
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………………………………………………..

Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku!
pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

19 Agustus 1977
WS. Rendra

Disadur dari buku Potret Pembangunan dalam Puisi Karya WS. Rendra, diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Bandung. hal. 31.

Sumber gambar WS. Rendra: Kompas

Pemikiran Progresif ‘Iqra’

Sejak kecil Eko memang telah diwarisi semangat membaca oleh ayahnya. Dimulai dari membaca koran mingguan yang dibawa oleh ayahnya, hingga majalah-majalah Islam yang mengaitkan antara iman dan gerakan sosial. Melalui Kyai Khasanuddin, Eko mulai tertarik akan diskusi. Membaca menyuguhkan kepadanya ide, gagasan dan petualangan.

Melalui pengalaman masa kecilnya, Eko seringkali menggandrungi setiap bacaan, hingga geram hendak mengubah bahasa ide menuju tindakan. Dengan demikian beliau tidak pernah menyukai buku pelajaran. Ditulis dengan dingin tanpa emosi. Sangat membosankan. Baginya, buku tidak sekedar bacaan, tetapi juga senjata. Setelah masuk kampus UII dan memimpin lembaga pers Keadilan, melalui wadah itu Eko mengasah kemampuan menulisnya sekaligus mempertemukannya dengan tokoh berikut ide dari ‘Dewa ilmu sosial’ seperti Paulo Freire, Antonio Gramsci Hingga Michel Foucault. Eko telah menemukan pasangan hidup sebenarnya: buku dan tulis menulis.

Bagi Eko, ‘Takkan pernah ada wahyu yang begitu progresif dan mendorong manusia untuk memeluk pengetahuan, kecuali perintah iqra…Maka saya memahami iqra sebagai perintah yang punya makna beraneka: meminta kita untuk tak menanggalkan kegiatan membaca, terus mendorong kita untuk membaca dalam kondisi apa saja dan jadikan bacaan sebagai ibadah utama. Melalui membaca saya benar-benar merasa punya iman.’

Buku Eko Prasetyo ini tidak saja kaya akan informasi, melainkan juga kritik sosial. Tanpa tiang pengetahuan, maka pengajian hanyalah ekspresi dogma dan doktrin. ‘Tak membuat ummat menjadi kritis dan pintar, tapi ngawur dan bodoh. Semua kreasi manusia dianggap bid’ah.’ Kebanyakan orang meyakini ajaran yang buta pada toleransi. Lebih banyak lagi orang yang percaya kalau agama tugasnya menghakimi.’

Eko juga mengkritik mengenai kondisi pendidikan sekarang. ‘Sekolah-sekolah agama dengan bayaran tinggi menjamur di mana-mana. Kerapkali metode mereka hanya hapalan dan disiplin buta. Tradisi pengetahuan yang membekali dengan kesadaran kritis dan kesangsian sirna. Anak-anak dilatih jadi pasukan penghafal yang gampang sekali diarahkan untuk membela maupun memusuhi yang berbeda. Pusat-pusat perbelanjaan yang memanfaatkan agama sebagai sentimen untuk meraup pelanggan. Bisnis agama apapun kini menghasilkan laba yang tinggi seiring dengan melonjaknya basis kelas sosial umat. Maka umat menjadi konsumen yang gila pada apapun yang berbau agama, film, kosmetik, busana hingga tempat kediaman.’

Semua hal di atas bagi Eko lantaran kita memang tak lagi mengamalkan iqra. ‘Mustinya beragama berarti merubah keadaan. Iqra merupakan jembatan kita memahami kitab suci. Diperkenalkan kita tentang potensi diri. Diberitahu tentang ancaman. Sekaligus disampaikan pada kita harapan. Melalui perantaraan Iqra kita jadi manusia yang memahami hakikat, peran dan fungsi. Itulah para utusan Tuhan yang menjadi monumen perubahan sosial. Iqra bukan kegiatan membaca saja melainkan aktivitas progresif yang menumbuhkan kesadaran paling militan.

Iqra tak lagi sebagai perintah ‘membaca’ tapi ‘mengubah, mengilhami dan menerangi’ jalan sejarahnya.’