Kategori: Bilik Refleksi

Tafsir terhadap Waktu

Pada momen aku menangkap tatapmu, menatapku, yang tak berjarak, maka bagaimana engkau menafsirkan waktu, yang kini tak bisa kau peluk? Sayangnya, aku tebak engkau lupa mencatat bagaimana detak-detak jam pada malam itu, saban waktu, menggubah kata-kata.

Almanak pada dinding, di mana beberapa hari engkau lupa mengguratkan tanda pada masa yang telah lalu. Catatan-catatan kecil, mengenai kapan aku baru saja menukar lampu, kapan engkau baru saja mengucap rindu, yang tentu saja tak tertulis pada pinggir angka almanak itu.

Bagaimana jika tak perlu nyalakan lampu sementara waktu, purnama yang sinarnya akan segera masuk begitu aku menyibakkan tirai.
Engkau mau aku menyalakan flashlight yang kuarahkan pada dinding kamar, tubuh yang segera menjadi wayang-wayang siluet. Kita bisa memulai cerita mengenai manusia-manusia yang takut akan sebuah ruang terbuka. Pada perjalanan, kesendirian.

Sinar purnama yang masuk begitu engkau menyibakkan tirai, menerangi mawar yang dingin di atas sebuah vas yang engkau isi dengan air. Merahnya yang nampak berwarna hitam, oleh bayang-bayang malam. Engkau tak perlu membandingkan mana yang lebih terang antara purnama malam ini dengan firasat yang kerap engkau khawatirkan.

Apa yang engkau tafsirkan mengenai waktu?
Jika suatu hal yang muncul pada benakmu, maka sesuatu itulah yang tak boleh engkau utarakan tepat pada jarum yang bernama kebenaran, yang segera cepat-cepat engkau alihkan. Ia harus lekas tenggelam. Gelap itu, bukankah penyair yang kau kagumi itu katakan, melindungi semua warna, semua rahasia?

Bukankah dinding kamar ini adalah opium yang menekan rasa sakit sementara? Bahkan pada sebuah ruang yang kedap dari kebenaran, justru kita takut kepada kejujuran.

Maka apa yang engkau tafsirkan mengenai waktu? Premis-premis yang dapat dikalkulasikan sebagai kepastian? Atau sebagai proyeksi-proyeksi kemungkinan, yang tiba sebagai dejavu.

Artifisial

Lirik menarik yang mengusik didengar setelah jeda. Kertas yang berisi lirik-lirik lagu yang huruf-hurufnya tercetak kecil terurai dibaca sembariku mendengarkan nada-nadanya. Dulu rasanya seorang selalu membaca kertas lirik sembari mendengarkan kaset lagu. Kini seperti sia-sia. Tiada saat teduh yang membuat seorang tertegun menikmati seni itu. Yang indah itu.

Apalagi bait dari seorang penyair asing, yang kini tak lagi dirapal, dihafal, dibahas, didebat, yang diejek diksi susunannya, yang diberi nada, yang menggugah. Seni kata-kata (puisi) harusnya tidak bisa jadi artifisial. Sebab ia adalah inti, yang tidak bisa ditiru.

Seorang mendengarkan lagu yang dianggapnya baik, ia lalu jalankan aplikasi untuk identifikasi. Sesekali, jika ingat, ia akan titip sejarah-sejarah pada sebuah kolam bernama ingatan. Sementara liriknya bisa kita jumpai pada buku digital yang bisa ditamui saban waktu.

Sementara, kepada kantung waktu pula kita semestinya menitipkan keajaiban-keajaiban itu, lalu kita berada pada jeda keheningan. Membiarkan keindahan itu menubuh melalui selipat jarak. Karena lupa kepada jarak dan jeda itu sendiri, seni menjadi sesuatu yang bising, yang terulang-ulang hingga jemu. Dan kita tak bisa menikmatinya lagi.

Kabari jika nada-nada itu berkemul pada selimut waktu sementara, lalu kita kembali kepada percakapan-percakapan klasik, dengan senang hati aku akan menikmati lagu yang berisi kecanggungan-kecanggungan, sembari kulihat kedua matamu yang berputar menjemput bait-bait percakapan selanjutnya. Pada suatu waktu tanpa kita terka. Meski akan terlupa. Fragmen yang akan menjadi masa lalu itu tetap bisa kita jemput melalui lagu yang akan membawa kita kesana.

Engkau menjuluki seorang sebagai penyair, barangkali ia hanya mengunjungi makam ingatannya.

Benjamin dan Kopiah Bapak

Setelah engkau perhatikan lama-lama, di atas meja belajar, terserak dokumen-dokumen serta buku-buku. Juga sticky note bekas yang sudah selesai kutipan-kutipannya diketik ulang pada sebuah komputer tua, yang sering meminta restart.

Seorang yang memanggilmu “Ben”, Benjamin. Anak lelaki harapan Ibu yang lucu. Kau perhatikan lamat-lamat, di samping headset yang sudah tak berfungsi sebelah. Tidak untuk kali ini kau perhatikan kopiah yang sudah pudar warnanya, yang biasa dipakai Bapak untuk sembahyang malam, ada yang mengusikmu membersihkannya.

Ternyata kau malah temukan secarik kertas yang semula kau kira merupakan potongan matsurat di sela-sela kopiah. Kertas usang yang merupakan sisa lembar jawab ujian perguruan tinggi, yang digunakan untuk menulis puisi-puisi Bapak. Penuh coretan memilih diksi, memilin kata. Sebelum ia disusun dan menjadi kata-kata digital yang diketik dengan tangan Bapak sendiri, tanpa perlu Ibu tahu, untuk siapa sebenarnya puisi-puisi Bapak.

Bait-bait puisi milik Bapak terbuat dari tatapan Bapak yang melihat ceruk mata berwarna cokelat Ibu, saat Ibu melihat gerimis di beranda. Secarik kertas yang berisi bait puisi yang tak sengaja terambil di sela-sela kopiah itu berjudul, “Benjamin dan Leila Azhar, saat kalian masih berupa ide”

Kepada Leila Azhar, anak perempuan harapan Bapak yang cantik. Tidak biasanya selepas witir, Bapak berzikir. Malah memegang kopiahnya, mengambil secarik kertas, lalu menggubah puisi. Tak hanya soal kerinduan Bapak dalam pisah jarak dengan Ibu. Tak jarang pula cerita-cerita Bapak yang saksikan ragam peristiwa di layar kaca.

Bapak kadang meminta Leila untuk menuliskan untuknya puisi-puisi Sapardi. Atau Aan Mansur, atau Bakdi Soemanto, atau Amir Hamzah, atau Rendra, atau penyair-penyair yang terdengar asing namanya. Setelahnya, giliran Benjamin diminta Ibu membacakan untuknya puisi sebelum tidur, yang kemudian merengek meminta dibikinkan susu. Sembari mendengarkan suara tik tak keyboard komputer tua milik Bapak yang belum selesaikan tulisannya untuk media massa.

Sebab, Benjamin dan Leila Azhar adalah perwujudan dari ide-ide itu sendiri, yang sudah saatnya kembali dari lamunan Bapak yang menafsirkan senyum Ibu dalam nyenyak kembang tidurnya. Masuklah pada secarik kertas di sela kopiah itu.

Sebagaimana Sebuah Nama

Rencana yang tiba menjadi embun. Pada suatu takdir yang kita tenun. Di belantara sepinya malam, serta tirai jendela yang tertutup setengah.

Serta cuaca malam hari, hujan yang tetiba turun menggoda waktu. Pintu yang telah terkunci rapat. Meja kerja yang penuh penanda rencana.

Malam yang kian dingin. Bangunkan pengelana-pengelana yang mencari jawaban kegelisahan.

Ide-ide belum kunjung tertidur. Sebagaimana kata-kata. Sebagaimana suatu tanya. Sebagaimana sebuah nama.

Kereta Tak Berhenti Lama

Belajar mengenai pentingnya visi itu, sama seperti mendendangkan lagu Naik Kereta Api ciptaan Ibu Sud.

Ayo kawanku lekas naik, keretaku tak berhenti lama.”

Tiba pukul berapa, ia siap berangkat tepat pada waktu. Tak lama dibuat menunggu kecuali dengan alasan jelas.

Ya memang begitu, lagu kereta selalu didendangkan untuk anak-anak, daripada lagu naik bus yang popular (sudah ada?)

Selalu ada perenungan-perenungan dalam setiap perjalanan. Asal seorang mau mencatatnya. Ide yang kerap datang tidak tepat waktu, seperti moda bus malam, yang menjanjikan lagu-lagu lawas, sekaligus keheningannya pada waktu larut.

Juga seperti rindu, yang datang tak pernah tepat waktu, namun seorang tak pernah terlambat untuk menaikinya, pikiran yang selama ini berpendar menjelajahi ruang dan kenangannya.

Pidato Pemimpin Partai yang Enggan Aku Sebut Namanya

“Ini bagaimana, kok tidak ada suaranya?” dengan tiba-tiba, menunjukkan kepadaku, seorang kakek, memicingkan matanya, meski telah berkacamata, layar gawainya yang sedang memutar video berisi pidato seorang pemimpin partai yang enggan aku sebut namanya.

Maka aku melihat kepada layar gawai, di mana terdapat simbol bebunyi yang masih dibiarkan sunyi. Aku menyentuhnya. Suara pidato dipenuhi dengan gemuruh tepuk tangan.

Suara pidato pemimpin partai tersebut memenuhi seisi ruang tunggu halte yang memancing perhatian penumpang yang menunggu bus kota yang datang tak dapat dikira-kira.

Aku melanjutkan membaca sebuah manuskrip yang berisi syair-syair.

Rupanya kakek sebelahku sedari tadi memperhatikan apa yang sedang kubaca. Sesekali ia menyapu keningnya yang berkeringat.

Ia berkata, “Bagaimana bisa engkau tak mampu mendengar suara-suara dalam keindahan puisi yang kau baca? Sementara bait-bait di dalamnya berikan kepada kita suara-suara nurani yang tak mampu didengar oleh seorang yang belum dihinggapi cinta?”

Di rumah itu mereka tinggal berdua.
Bertiga dengan waktu. Berempat dengan buku. Berlima dengan televisi. Bersendiri dengan puisi.

“Suatu hari aku dan Ibu pasti tak bisa lagi bersama.”
“Tapi kita tak akan pernah berpisah, bukan?”
Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma.” (Puisi Joko Pinurbo-Jendela)

Claw Machine

Suara, “Lima ribu?” baru saja pecah pada pikiranku, mengingat seorang lelaki paruh baya yang membeli koin-koin untuk bermain claw machine pada pukul sepuluh malam.

Sesekali ia melenguh, boneka yang ia capit, harus terjatuh. Aku masih membenarkan tas berisi kudapan malam yang baru saja kubeli pada sebuah toko kecil yang jauh dari tempatmu berada kini.

Pria tersebut sesekali, kuperhatikan membenarkan tas yang menyelempang pada bahunya yang lebar, lalu ia menghitung sisa-sisa koin tersisa untuk kemudian bermain lagi.

“Lima ribu?” sebagaimana suatu tanya, yang kemudian membuatku teringat, tentang siapa yang berujar tanya, malam itu, yang baru kuingat malam ini, ternyata merupakan suara kasir penjaga yang memastikan pria tersebut hendak bertransaksi membeli koin-koin claw machine untuk kemudian memainkan “dadu”-nya.

Pria tersebut tuna wicara. Berpakaian berbeda, dengan tas yang sama, lenguhan yang sama.

Aku tetap membeli susu untuk malam itu, dengan tas berisi kudapan malam yang kurapikan pada bidang kendaraan, sembari melihat pria paruh baya tersebut memainkan claw machine. Malam itu. Dengan sisa koin-koin yang dengan erat ia genggam.

Aku pulang. Ke rumah.

Ia tercapit oleh keinginannya, kerinduannya, kesepiannya, serta angannya yang membuatnya datang, sekaligus. Malam itu.

Ibu Hendak Pergi Ke mana?

Dalam sebuah lampiran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, yang dibuat oleh seorang mahasiswa (calon guru) anonim, ia melampirkan soal ujian yang harus dijawab oleh siswa-siswanya.

Di dalamnya tertulis,

Ibu hendak pergi ke pasar membeli dua kilogram jeruk, tiga kilogram alpukat, satu kilogram tomat dan cabai, serta tiga kilogram beras. Tidak ada ungkapan tanya, seperti, “Berapa?” pada cerita ini. Karena Ibu tidak memiliki uang.

Ibu hendak pergi ke pengajian di masjid desa. Namun melalui kabar angin yang entah dapat dipercaya atau tidak, Ibu mendengar di serambi kiri dan kanan masjid, suara ustaz-ustaz bersahut-saing mengambil hati jemaah. Ibu tidak jadi berangkat, Ibu memutar pengajian melalui YouTube.

Ibu tidak kemana-mana. Tidak membeli apapun. Namun Ibu merenung bagaimana caranya memenangkan kehidupan?

Tentang

Tentang susunan kata pada lirik lagu, yang sedang kita baca, sudah menjadi takdirnya ia akan dicintai menjadi nada. Kemudian menyentuh sudut memori pendengarnya.

Tentang sebuah sabda Nabi, mengenai larangan melukis dan membuat patung. Dahulu sempat dilarang lantaran umatnya belum sembuh dari syirik. Apakah menjadi pantas bila sabda tersebut kini menjadi hidup. foto-foto caleg menjadi sembahan-sembahan baru.

Lalu hujan sore tadi, menyeka air mata pada senyum-senyum palsu pada foto jajar baliho.

Tentang pengetahuan yang dicari melalui penelitian. Apakah ia tercipta dari ruang dialektika yang hangat, atau suatu kerja sunyi yang tiba-tiba tercipta.

Hujan yang Datang Tepat Waktu

Apakah masih sama tafsirannya, tentang kereta api, sepeda yang terparkir menjadi pagar, pematang di belakangnya, di antara waktu yang memburu. Di antara candi-candi yang tak pernah sepi dari peziarah.

Bagaimana tentang hujan, yang tiba waktu petang, apakah rintiknya, pernah, singgah, menjadi rintikmu, yang kini jadi rintikku, menakali tubuh kita, juga membasahi kata-kata di dalamnya, yang tak sempat terucap.

Bukankah kelabu langit, ialah sama abu nya dengan pertanyaan “kapan temu itu?” yang tidak ada pada deretan angka almanak pada dinding dingin itu. Barangkali engkau sudah pandai berkilah, bahwa akhir-akhir ini, rintik-rintik yang selalu kusebut-sebut, di mana ia selalu membawa kawannya yang berisik bernama angin, tidak pernah datang terlambat, selepas sembahyang Asar.

Apakah masih sama tafsirannya, tentang rasa sepi, sebuah temu yang selalu mencari ujung temali, batas akhir, meminta kita untuk pulang.

Bagaimana tentang rindu, yang tiba sebagai temaram, apakah masih aku dalam bayang setengah gelapmu itu, dalam dekap, yang tak perlu kata-kata di dalamnya, yang hendak diucap.

Bukankah parau suaramu, yang susah untuk menjelaskan itu, adalah keindahan, ketimbang engkau mudah menitip lewat sebuah lagu.