Kategori: Bilik Refleksi

Cahaya Bulan

aldiantara.kata

Setiba-tibanya rindu bermandikan cahaya bulan. Terangnya kini tergantikan gemerlap kota. Ia ketika padam, baru terlihat terangnya. Maka kapan suatu sesaat yang dikatakan nanti, mengunjungi kembali pasak-pasak bumi. Mencecap kembali wangi tanah, serta melihat kota sebagai kunang-kunang cerminan langit saat bertabur bintang. Sehening-heningnya, deru nafas memburu kepada puncak. Lalu turun dengan menabung udara-udara gunung, di bilik paru yang tersedia. Wangi belerang, beberapa daun yang luruh tak sengaja untuk mau gugur. Sisanya terjaga pada alam masing-masing. Mengucap permisi, raut kepenatanku diterima alam. Meminta sedikit minum kepada mata air. Tidakkah engkau juga rindu?

Akan Kuberi Jalan Pulang

Martalia A.

Menangisimu adalah kebodohan yang tak mampu kutepis.

Seiring berlalunya waktu, dunia masih belum bisa mengabaikan ingatanku tentangmu.

Lebih tepatnya, tentang kalian yang berani berpijak pada bumi yang harusnya tak pernah keliru.

Sesekali harus kuingat bagaimana pedih rasa ini menggenggam jemari tanganmu.

Saat kau dengan dingin menatap mataku, tapi justru tersenyum hangat padanya.

Semua alasan yang keluar dari mulutmu bahkan berubah dari kepercayaan menjadi keterabaian.

Apalagi bila harus kembali ku terusik pada suaramu yang memekik di depanku, menggelegar bagai kilat yang menyambar tiap kenangan manis kita, menghantui tiap ruang yang ingin sekali kubakar kali ini.

Beberapa kali harus aku akui, aku mencintaimu teramat dalam, hingga akhirnya aku membencimu teramat jauh.

Kebersamaan yang kita bangun dari pagi hingga petang, dari petang hingga siang, dari siang hingga senja berakhir, berulang-ulang dan yang nampak dari akhir semua ini hanyalah tentangnya.

Awalnya aku tak menyangka, bahwa pergi berlalu dari kesakitan ini adalah pilihan yang tepat.

Terlebih, masa-masa awal aku harus berterima kasih pada hujan, yang membawa semua rinduku padamu mengalir pergi.

Masa yang tak ingin lagi aku alami.
Semua hal tentangmu dalam diri ini hanyalah sebongkah trauma yang pelan-pelan akan kuobati.

Tapi sosokmu masih tetap utuh berdiri di sana, berpelukan mesra dengan seonggok raga tak punya rasa.

Memendam semua pemandangan itu dengan kedua mata ini bukanlah hal yang bisa aku lakukan.

Maka pergilah dari hidupku dan berbahagialah jika itu maumu.

Desah nafasmu yang masih bisa kudengar, teduhnya bola matamu berwarna cokelat yang masih bisa kutatap, dua tangan kuat yang biasa memelukku hangat, semua hal tentangmu yang masih bisa kurasakan bekasnya, bawa semua itu pergi bersama semua pahit yang pernah kau beri.

Kau tak perlu kesulitan lagi karena aku dengan senang hati akan memberimu jalan untuk pergi.

Untuk pulang pada tubuh yang katamu jauh lebih baik dari semua indra yang kupunya.

Pada jemari yang katamu lebih nyaman digenggam.

Pada senyum yang katamu lebih manis dikecup.

Pada bahu yang katamu lebih indah direngkuh.

Bukankah pulang adalah satu-satunya jalan yang harus kau pilih? Karena dibandingkan harus mempertimbangkan lagi untuk berjumpa denganmu, aku lebih memilih menjauh dan menghancurkan semua yang tersisa.

Jika akhirnya pada suatu titik kau pikir harus kembali karena tersesat, maka yang bisa kukatakan padamu adalah teruslah berjalan.

Meski entah kau akan bertemu apa dan siapa.

Meski akan bagaimana ujung duniamu nantinya.

Meski aku tak yakin masihkah ada dia yang menunggu di sana.

Meski mungkin aku bisa saja mengejarmu,

Tapi bagiku… memberimu jalan pulang akan lebih membahagiakanku.

Wordgasm

aldiantara.kata

Meski demikian, tidak terhitung di mana waktu terbuang hanya untuk tertegun tidak kuat meladeni kata-kata pada sebuah buku. Pernahkah? Ketika asik membaca, engkau berhenti pada suatu titik kalimat. Lebih dalam dari sekedar berdialog.

Seorang yang hanya mengandalkan quote atau kalimat kunci pada sebuah buku, tidak akan memahami bagaimana konteksnya. Ada perjalanan yang harus ditempuh, sebelum menuju debur ombak laut, atau matahari senja di Pantai Selatan. Jalanan lurus, belokan tajam, hingga rusak jalan yang mengganggu.

Sesaat berdiam. Membaca sekali lagi. Pikiran bersama alam imaji berkedut seperti mengeluarkan hormon dopamin. Melegakan. Apakah ketika senyum-senyum sendiri kala membaca, kemudian tertahan, aku berpegang kepada titik. Pikiran seperti meledak! Rasanya, apakah jika pada fase itu seseorang merekamnya, akan termasuk menjadi video porno? Apa istilah yang tepat untuk menjelaskan orgasme saat membaca? Setelah menemukan kata-kata yang ajaib, kalimat yang mengena, kalimat yang sungguh indah. Rasanya yang diperlukan hanya keintiman antara pembaca dan kata-kata. Buku-buku preman bertatoo-kan stabilo warna. Menjadikannya garang? Pembaca lain mungkin takkan mengerti, mengingat gurat warna yang bersetubuh dengan kata-kata begitu subjektif.

Kadang seperti tak sabar hendak menceritakan pengalaman intim tersebut kepada orang-orang. Apa ‘orgasme’ semacam itu bisa diperoleh dengan perilaku exhibis saat membacanya ketika berada di transportasi umum, atau kedai-kedai yang penuh asap tembakau? Penulis sastra yang kubaca mungkin tak menyangka bila aku menjadi salah satu pembacanya di masa mendatang, 100 tahun di mana ia menuliskannya. Bahkan mungkin orang-orang pada masanya tak begitu tertarik pada karyanya.

Ah masa iya fase kedut ini menjadi sebab mengapa seseorang kerap tak selesaikan sebuah buku. Egosi sekali, ya? Padahal seisi buku belum ceritakan semuanya. Sudah lemas.
Jadi, pernahkah? Lalu, istilahnya?

Kekhawatiran

aldiantara.kata

Seseorang terbiasa berjalan-jalan menikmati apa yang baru saja terlintas pada benaknya: sebuah ide! Tangkap. Tuliskan. Sudah beberapa kali ia melakukannya. Segera ia menuliskan kepada… Ya, kadang hanya pada aplikasi catatan di henpon, atau secarik kertas di mana ia menuliskan… apa saja. Pokoknya tidak boleh sampai ia menguap begitu saja. Pening lho memikirkan ide yang sempat hinggap, namun ketika diri tak sigap, lantas saja ia menguap. “Tadi apa, ya?”

Si paling banyak ide!
Hari itu ia menulis ide, hari itu pula seringkali ia merasa puas, lalu baru memeriksa catatannya beberapa hari, minggu, hingga bulan kemudian! Seketika membaca, lupa konteksnya. Atau tak bisa membaca tulisannya sendiri.

Bila ide itu mengetuk pintu pada pagi, di sanalah, biasanya ia tak akan menginap. Ia memang tak lupa mengisi buku tamu, bubuhkan tanda tangan kehadiran dan alamat. Tentu saja tidak hanya satu tamu saja yang berkunjung.

Cobalah sesekali berjalan jalan pada waktu di antara gelap fajar menuju terang pagi. Atau waktu antara istirahat malam menuju larut. Kedua waktu itu memiliki udara yang sama-sama dingin. Menenangkan. Terlebih jalanan yang sepi, hingga tersisa beberapa orang saja yang masih tertegun dalam perenungannya. Tentu saja terlebih dahulu kita harus berhasil membuat kita menikmati perjalanan tersebut dengan sedikit melepaskan beban pikiran kita. Banyak aksara yang bisa kita jumput, melalui jalan-jalan tadi. Tentu awalnya kita akan kebingungan dalam menyusunnya. Tidak mudah mengejawantahkan kepada kata-kata. Sesekali kita akan teringat dengan siapa kita pernah melalui sebuah jalan. Sesekali kita akan rindu dengan siapa kita banyak habiskan waktu. Semua ada, sebelum tersadar kita berada di kota yang lain. Menerawang melalui jalan-jalan rekam ingatan.

Namun, bila ide itu singgah pada waktu malam. Rasakan! Tidak bisa tidur. Dengan sedikit sesal, banyak ekspektasi bagaimana menjadikannya wujud! Sembari khawatir ide yang dianggap brilian sekalipun nasibnya akan bertumpuk sebagaimana halnya draft dan kumpulan konsep yang lupa akan konteksnya. Lalu untuk apa? Semua ide pernah memiliki keyakinannya sendiri sebelum diperdaya lupa. Lalu, seseorang takut untuk menjadi yakin kepada dirinya sendiri. Adakah ide-ide itu hanya menjadi sebuah cerita kepada teman, bahwa seseorang pernah memiliki ide ini dan itu, tanpa pernah ada usaha untuk menjadikannya wujud? Lalu dengan menceritakannya, nafsu kita seakan-akan telah terpuaskan karena merasa kita berhasil menjadikannya ada, dan menjadi?

Seseorang dengan ide, menilai dirinya tertimpa suatu wahyu, menjadikannya gigil. Cemas. Apa yang mesti ia perbuat agar ia tak segera menganggapnya sebagai omong kosong. Cukupkah dengan keyakinan bahwa hidup itu hanyalah membayar rencana-rencana, menyerahkannya kepada waktu agar digadaikan kelak sebagai jalan takdir? Namun bagaimana seseorang itu tak jua bisa terpejam karena tak percaya kepada kuasa waktu. Andai jika ide itu tidak dapat dihukumi mewujud atau gagal. Ia tidak dapat dinilai atau bahkan dihakimi. Kalau begitu, bagaimana jika kita pahami bahwa ide adalah rahmat yang mesti kita terima dan syukuri. Selalukah ada alasan mengapa diri kita pantas untuk mendapatkan ide dan bertanggung jawab?

Seseorang terbiasa berjalan-jalan di tempat menikmati apa yang baru saja terlintas pada benaknya: sebuah ide! Tangkap. Ia masih berjalan di sebuah kamar kecilnya. Nampak gelisah. Ia belum jua tertidur selama tujuh hari tujuh malam. Lalu ia duduk… Seketika terdengar ada yang mengetuk pintu kamar mandi, sementara ia yakin bahwa ia seorang diri di rumahnya. Pintu kamar mandi mandi berderit terbuka…. Seseorang muncul…. Dirinya sendiri!

Dalam Dekap Kata, Bakdi Soemanto

aldiantara.kata

Tidak bisa tidur malam ini? Bagaimana jika kubacakan puisi Bakdi Soemanto.

Jika saja nasib baik belum kunjung menghampiri, atau mengenai kesempatan emas yang terlalu cepat berlalu. Maka jangan terlalu cepat untuk memetik sesal, berputar arah ke belakang. Percaya saja kepada waktu. Sambil merapal doa yang terhimpun dari harap dan cemas.

Sebutkan saja judul-judul puisi yang kau suka. “Rumputan dan Topan”, “Hujan Turun Rintik-Rintik”, “Kata”, “Jari”, “Kabut”, “Ruang”, “Hujan”, “Persiapan Pentas Drama”, “Surat”, “Ulang Tahun”, “Rumah Di Desa Pathuk, Wonosari”, “Dekap”, “Ledek Munyuk”, “Tikar”, “Doa”, “Jarak”, “Jendela”, “Di Lapangan Terbang, Di Tengah Hari”, “Penyair”, “Sepeda”, “Bibir”, “Natal Muram”, “Sartre”, “Diskusi Ilmiah”, “Gelas Biru”, “Pernyataan”, “Berhenti di Sini Saja, Tuhan”, “Sepuluh November”, “Doa Pagi”, “Doa Malam”, “Sajak Bayang-Bayang”, “Kaliurang”, “Sajak Gugur”, atau “Balpen”.

Ia mulai melakukan screening lagu-lagu, untuk sebuah nyanyian yang benar-benar hendak ia dengarkan. Ia mulai membaca bait-bait lama, untuk membawa pesan-pesan yang tertinggal pada masa lampau, untuk mengusapi kesepian-kesepian yang datang belum lama ini.

Menulis adalah cara kerja alam, yang rahasia, ia ilmiah, rasional, terkadang tiba-tiba membuahkan pesan. Mau menangkap maknanya? Berkenan sejenak berdiam, mendengarkan kata-kata yang berpendar di kepala.

Meski tak semuanya dapat kau rangkai menjadi untai kalimat. Tetap ia menjadi pergulatan.

Rasanya, berkunjung ke kota lama, hanyalah menebalkan diksi-diksi puisi lama. Kata yang menjadi bait puisi, merenggangkan letak, memberi ruang kepada di antara kata yang baru. Bekas jejak penyair-penyair. Diksi bernas puisi-puisi, memberi ragam pelajaran. Bukan berarti cemas gelisah yang diturunkan. Tentu saja, katakan bila setiap penyair memiliki ruang dan waktu yang berbeda.

Segera aku bacakan puisi berjudul “Dekap” karya Bakdi Soemanto,

kamu tengadah
bibirmu merah merekah
dadamu rapat
siap masuk dalam perangkap dekap
ketika cium gemuruh mendarat landai
dan tubuh gemetar
hidup dan mati
tak bisa dibedakan
ujung bedil yang bisa muntahkan peluru
dan puting susu yang gemas di ujung lidah
terhirup dalam kemabukan dan tahu

di atas plafon itu
cecak bercerecek
tahukah dia
kesejatian dunia tak pernah mulus
selama kehidupan adalah abu dan debu
.
[1986]

Dihimpunnya puisi-puisi pilihannya dalam sebuah buku “Kata”. Kusimpan baik-baik maknanya dalam diri. Biarkan katanya, tak perlu mendikte atau klaim penafsirannya. Kata menjadi simbol kemerdekaan itu sendiri.

Bakdi Soemanto, Kata: Antologi Puisi 1976-2006 (Yogyakarta: Penerbit Bentang, 2007)

Hilir Mudik

aldiantara.kata

Jelaslah, perjalanan menuju kampung halaman, kita bisa melihat pohon kelapa lagi, dari jendela kereta. Anak-anak kecil yang mewarnai gambar. Bahasa-bahasa asing bersahut sapa riang menghubungi kawan. Setelah sekian lama mendekam pada penjara-penjara pribadi. Keluarlah hingar keramaian. Sepi yang sesungguhnya.

Ah, jalanan semalam yang biasanya lengang. Kini berani ramai, jajakan banyak jajanan. Patroli-patroli yang purna tugasnya. Jarak-jarak terpangkas memungkas takut. Kini kita bisa lebih dekat, lebih mesra. Tidak apa-apa untuk terdiam menunggu larut. Biar kopi tak terburu kita menghabisi. Semut-semut pun sepertinya rindu mengerubungi makanan kita. Atau suara jangkrik mewarnai malam. Kini kita bisa merencanakan untuk bertemu? Tanpa rasa takut?

Rasanya aku hendak menaburi bunga kepada segala penjuru. Pada alir sungai, pada kursi taman yang lama lengang. Sekian lama berdebu, kini akan banyak khalayak yang akan singgah. Dengan daun-daun gugur yang telah lebih dulu memberi sapa kepada sepi. Matur suksma. Pandemi telah menciptakan banyak rindu dan harapan. Sebanding dengan kehilangannya.

Masih adakah tempat berpulang? Atau ia menjadi sesaji waktu yang harus dibayar. Hilir mudik. Sanak keluarga. Menahun terpisah jarak. Lupa cara menyapa. Segan untuk memulai kembali. Ada yang diam-diam rindu. Namun kembali memutar stream video lucu, ketimbang menulis surat dengan bubuh tanda tangan. Dunia kini banyak cara pengalihan. Menghilangkan sikap berani menghadapi. Bersembunyi dibalik akun-akun anonim. Mengamini quote-quote bertebaran.

Angsa-angsa di atas danau. Beburung berkoloni penguasa udara. Sepertinya pandemi telah berakhir. Jalan lebar terbuka. Saatnya berbagi keuntungan? Di tengah duka yang telah kita sepakati. Di tengah duka yang kita rayakan.

Saku Jaket

aldiantara.kata

Apa yang berada pada saku jaketku? Tebak. Sejak diskusi malam itu, perjalanan di mana air mata menjadi kemarau. Tawamu adalah unggun yang kedapkan suara malam. Kayu bakarnya adalah kata-kata. Apinya adalah suara kita yang menyambung pesan.

“Ada apalagi, ya?” tanganmu merogoh masuk ke dalam.

“Masker!” ujarmu setengah tertawa.

Astaga. Masker siang tadi. kugunakan menutupi berita-berita koran hari ini.

Aku bertanya kepadamu sesuatu, setelahnya kita turun dari kendaraan. Bisakah air mata datang sebagai permulaan. Membayar di awal segala sepi, rindu yang membuncah, atau sakitnya kehilangan. Sisa-sisanya biar kita dapat menari, tanpa membayar akhirnya.

Cinta tak pelak sebagai komersil. Ia harus pandai menawar dan membayar. Siapa gerangan datang membawa penawaran tender janjikan bahagia. Datang pula jaminan sedikit rugi dan duka.

Kita duduk di angkringan. Mengambil nasi teri dan sate brutu. Nyatanya kau mengambil sumber pedas sambal itu, sate brutu tak buatku lupa. Lalu kita membayar harganya masing-masing tanpa saling memberi beban.

Kopi jos yang terjaga hangatnya oleh arang. Pada cangkir yang sama sembari kau perhatikan tanganku yang gatal oleh gigit serangga malam. Memerhatikan malam, kereta melintas. Sungai kecil yang jingga airnya terpantul lampu jalan. Puaskah gerangan abadikan waktu melalui potret kamera? Menyimpan segala hal yang hampiri meski sekejap. Mengunggahnya dengan potret buram. Ungkapkan caption kata-kata meski aku hendak bertanya. Lengkung senyum yang bahkan cukup menjadi jawaban.

Gerangan sedang apa? Meminta air pada bibir-bibir yang lama mengering. Pelabuhan bahu telah bersandar pesiar yang menambat sementara.

Kau kembali merogoh saku jaketku, sebuah pesan yang paling rahasia terbaca.

Tuhan, Aku Deadlock

aldiantara.kata

Yang meminta ampunan. Kuat bersimpuh termangu lalu lalang mereka yang telah lekas berdoa. Melalui dinding di mana Engkau mendengar lirih suara pinta. Sekejap aku berpikir aku hendak menjadi orang yang kuat menghadapMu. Pandai bercerita mengakui keakuan yang shagir dan daif. Namun pintu rumah ibadah segera ditutup. Hanya kesepian di episentrumnya yang membuat diri tak nyaman. Semua sudah pergi setelah pintanya terpanjat. Masjid kembali dingin. Menunggu waktu yang berjalan maju menuju bunyi beep kumandang adzan. Doa-doa template. Draft doa dan pinta yang sama. Barangkali Engkau adalah Maha Penyabar, dari skrip doa yang membosankan. Aku memeluk lututku. Engkau masih kuat untuk tetap mendengar?

Tuhan, bukankah di luar terdengar begitu gaduh? Kian samar sekali mana perkara baik dan buruk. Sementara aku duduk, mengadu. Saat aku berbisik malu meminta suatu, apa takdirku bak dadu. Angka hasilnya rahasia. Hasilnya diterima sebagai suatu keadilan?

Tuhan, aku deadlock. Aku hendak bercerita, namun Engkau Maha Mengetahui. Mesjid ini, mungkin seperti halnya gua hira yang sepi dan sejuk. Tidak banyak manusia-manusia kuat yang tengil sepertiku, kan, Tuhan? Mumpung, masalahku sedang banyak, Kemaha Mendengar-Mu, tidak kusadari Engkau telah meracik jawaban.

Simbol-simbol agama kini menjadi kontestasi perlombaan. Berlomba mencari pengikut. Hingga menjadi abu-abu kala ia hidup berpedoman agama atau menyembah keakuannya sendiri. Semua hal tak bisa ditahan. Semua hendak diraih sendiri. Dimakan sendiri. Menjadi si paling. Membuncah. Kekerasan. Angan mengawang menjauhkan yang dekat. Ambisi-ambisi runyam. Debar dada menghadapi waktu.

Tuhan, keresahan seperti apakah yang pernah berpendar dari orang-orang mulia yang membuat-Mu mengangkatnya sebagai seorang utusan? Sepertinya mereka tak ingin menjadi apa. Menggembala ternak dengan penuh kasih. Atau berdagang dan melakukan pengembaraan panjang. Berlaku adil hingga membebaskan perbudakan. Membela yang lemah dan yang direndahkan secara sosial. Menjadi pemaaf dan menahan untuk tak bergunjing, menutup rapat-rapat segala aib.

Bila norma-norma petunjuk suci ini serupa halnya lampu-lampu mengatur jalan, maka aku lebih gandrung melihat Ibu yang meneduhkan anaknya dari panas. Atau para pelajar yang nampak murung bergelut pada buku dan berita-berita populer. Atau lukisan yang luput dari gradasi warna. Atau perekonomian rumah-Mu yang menjadi mata air masyarakatnya.

Rumah-Mu, agar tidak menjadi tempat jatuhnya air mata duka.

Tiba sesaat nanti waktu berbuka puasa, apakah hidangan langit sebagaimana Rumi katakan dalam puisi, sudah siap? Sudah memasak takdir apa hari ini? Bisa sedikit tambahkan kecap, menjaga agar hidangan tidak terlalu asin tersaji. Anak-anak berlari berlomba tiba di Sungai Bengawan Solo, melayarkan perahu-perahu kertas yang berisi doa-doa.

Akankah hidangan langit hanya dinikmati segelintir golongan. Serakah, berebut. Apakah jatah-jatah duka benar-benar Engkau bagi secara merata, selaras, dan adil? Aku termangu menunggu panggilan menghadap-Mu. Serupa takbir, mengajak menghadap, mengapa tetap enggan berbagi yang mereka punya. Bukankah tiada Tuhan selain-Mu, melebihi materil juga sesembahan-sesembahan yang dibuat oleh diri.

Saat Engkau turun nanti menuju langit dunia, berkenan mampir ke kedai kopi langganan? Kopi susu tubruk dengan cangkir merah. Aku bisa carikan tempat bebas asap rokok.

Hujan yang Ramah kepada Turis

aldiantara.kata

Hujan belum beranjak dari senja kita. Ia tiba dari hafalan kita terhadap senja serta mendung langit. Apakah sebab ia merasa sepi, hingga masih bertaut pada musim kemarau, yang seharusnya kunjung tiba.

Jalan menuju nol KM seperti merayakan kebebasan dari pandemi. Mereka berpesta dan mengadu polemik. Soal politik hingga kitab suci. Jengah sepertinya berdebat melalui layar-layar gawai. Sebagian kelompok beradu strategi mengklaim atas penguasaan agamanya. Mereka menutup mata terhadap perbedaan-perbedaan yang sejatinya manis.

Hujan.

Hujan di kota ini. Bagaimana ada, tempat populer dan tidak. Padahal nafkah hujan tak pandang tujuan turun. Entah kepada pendatang luar kota atau mereka yang telah lama menetap. Penjaja menawarkan jas hujan berwarna-warni, seperti kerlap lampu juga kerlip ragam bunyi bersahutan.

Hujan, seperti ramah kepada turis. Mau menepi, setelah mencium aroma jahe susu?

Atau duduk pada kursi yang telanjur basah. Sambil bercerita tentang bagaimana kehidupan berikan berkat kepada kita. Bakpia yang dicari keberadaannya. Atau penjual baju oleh-oleh kota yang semua sudah pindah ke satu lokasi. Tidak pada sepanjang jalan biasanya. Mungkin turis datang bergiliran, saling membuat janji dan membayangkan pada waktu yang dipikirkan jalanan akan lengang.

Tidakkah kau merasa sekalipun bosan pada kota ini? Suatu tanya yang kualamatkan kepada tiap pengisi hiruk pikuk yang entah apakah setiap mereka sama, setiap harinya.

Namun nampaknya aku keliru, sebuah tanya menyusul, “Memang siapa yang bukan turis? Kita semua adalah turis!”

Pengembara. Yang turut berteduh. Kota ini milik siapa, berikut berkat kenang-kenang. Siapa yang mengaku memiliki?

Tuan Tanah

aldiantara.kata

Fajar telah tiba. Setelah pernah mencekam. Ratusan purnama sinarnya terangi malam. Pergolakan rimba dari kaum-kaum yang enggan membuka jalan dengan rasa adil. “Bergantian. Zaman sudah berubah.”

Tiba saatnya muda-mudi merawat dengan rasa hormat. Dapatkah beri rasa kepercayaan? Atau masihkah kepentingan yang belum temui titik pangkal kedalaman. Hingga tesesat, kalap dan khawatir terhadap masa-masa lalu yang pernah jaya?

Bagaimana dengan tawaran utopis untuk memakmurkan bersama-sama secara adil. Tidak dengan cara serakah hingga zalim terhadap yang papa. Apa arti dari kehormatan yang berasal dari cara-cara yang keruh. Sementara yang papa perut lapar membersihkan piring-piring sisa.

Tidak ada tuan tanah di sini. Bagaimana jika kita menghapus rasa memiliki, yang enggan berbagi? Lelah bukan hendak pertahankan semua. Melihat kebaruan adalah suatu ancaman. Melihat dengan curiga, mencuri kehormatan tahta, yang sejatinya bukan miliknya.

Sebagian orang bersukacita menanti pagi. Sinar purnama yang dikiranya adalah mentari pagi yang sama eloknya. Sembari membayangkan dingin pagi dan hangat sinar yang memberi kekuatan kepada jiwa.

Namun, tuan tanah palsu meyakinkan khalayak tidak ada pagi. Jika kelam malam adalah bentuk kesyahduan, mengapa masih memerlukan fajar. Tidak ada kekacauan pada malam. Ini hanyalah sebatas cuaca buruk yang wajar terjadi.

Ada orang yang mempersiapkan fajar. Ada yang enggan untuk menyambut sifat kehidupan yang dinamis. Ada yang berkerumun memanggil dengan panggilan akrab. Sementara yang tak terpanggil, mereka menggigil. Berpeluk dengan kata-kata. Mereka tersisihkan.

Siapa berani melawan hukum alam. Masa akan berganti. Kelaliman akan terbaca. Cahaya nampak cerah di langit, menuju pagi. Bagaimana jika kita membaca puisi?