Penulis: Marta

Kota Tua

Oleh: Martalia A.

Di bawah awan abu dan langit yang mengharu
Kurasuki dalam-dalam teduh matamu
Jemari saling berlindung di antara rangkulan pelataran
Bibir terkunci,
Tiada yang bersuara kecuali para penggembira

Hanya ada sentuhan angin dingin
Dan sesekali gerimis menggelitik
Pipi tiba-tiba basah
Bersaing dengan gedung tinggi nan tua yang mulai bermandikan hujan

Desember,
Desar sembilu berjalan, kataku
Menyeret penuh berisik
Pedih membalut bisik
Langkah sulit dicapai karena terlalu pelik

Demi mata yang pernah saling menatap
Demi tawa yang kerap bersautan waktu itu
Tidak ada yang bisa menumpahkan gundah
Selain mengenang dan mengulangi isak kenangan

Trotoar yang kini sepi
Bangunan lawas yang tak bisa dibersamai
Menghirup udara yang tak lagi wangi
Rintik yang bukan tentang kita kini

Manusia menyebut itu rindu
Jarak yang terbentang ratusan kilometer
Bukankah benar khayal bila dilalui dalam sekejap
Sedang ingatanmu tentang hari kemarin sulit terucap

Apa kabarmu
Pernahkah menghirup keterbatasan kita
Di kota yang baru
Di tempat yang asing buatku
Pernahkah mengingat elegi kota tua

Tempat kita berlarian mengejar mentari
Menutup kaki dengan langit sore
Memekikkan canda tanpa pernah berpikir waktu akan berlalu
Menadah hujan, mengupas mendung, menari di bawah cerahnya lagu

Kota tua
Sampai bertemu di lain waktu
Di hari yang mungkin tak akan mungkin terbayangkan
Dengan rindu yang sangat sulit terbayarkan

Sebatas Bayangan

Martalia A.

Kau berdiri dengan wajah menengadah mentari, seketika jiwaku tersihir oleh terik yang terbaca.
Aku masih di sini, berusaha tidak terpukau, tapi hatiku terlanjur jatuh terlalu dalam
Berusaha mengorek setiap lekuk wajah dan tubuhmu, mencari bagian kosong yang mungkin pantas untuk dipijaki oleh rasa ini.
Terbayang bagaimana kau bertutur begitu lugas, ketika aku bahkan tak sanggup mencerna tiap jeda kata.
Terpikir bagaimana kau membentuk angan, sedang aku hanya mampu terpojok dan terasing dalam bayang-bayang, dan memandang angan-anganmu.
Terlalu berat jikalau aku mendekati setiap tafsir pikiranmu, sedang aku bahkan tak tahu apa itu buku atau sesepele melucu.
Mungkin memang sudah takdirku di sini, bersemayam pada balik bahumu yang kekar
Bersenandung lirih tiap kali kau bernyanyi, tertawa kecil tiap kali kau bercanda, dan memandang kagum tiap kali kau bercerita.
Kenyamanan ini tumbuh mengakar pada tiap sisi diri, terlalu sulit memantaskan hingga mungkin yang terbaik adalah aku berteman dengan lantai dan tanah
Bila kau ingin mencari arah yang benar, aku bisa mencarikan cara terbaik bagaimana sebaiknya kau melangkah.
Meski mungkin, itu bukan langkah yang tepat untuk pesta yang tepat
Sejauh ini di titik aku terpaku, mendengarkan tuturmu tentang bagaimana dunia berseteru, atau ketika alam ini mulai bertingkah.
Kau dengan berbagai pustakamu melegenda, sedang aku hanya mampu tersenyum pada tiap sisi matamu yang tajam.
Tuan…
Aku mengaku… telah tergoda menggapaimu.
Tuan…
Aku tahu, aku hanya bayang-bayangmu.
Aku tahu, aku hanya gelap saat terang dan tiada saat petang.
Dan wujudku memang hanya sebatas.
Sebatas yang memandang, dan sebatas yang terbuang

Rumah

Oleh: Martalia A.

Sudah bertahun-tahun aku melangkahkan kaki dalam kesulitan yang tiada berarti. Menyadari bahwa mungkin hal yang membuatku gagal ini akan berlalu dan punya waktu. Terus menggerakkan setir kehidupan ke barat, timur, ke segala penjuru mata angin. Tapi kesadaranku untuk bangkit dan mengenal suatu pencapaian tak bisa terendus cikalnya. Apa mungkin aku yang terlalu congkak? Terlalu sombong hingga lautan yang ingin kujadikan tempat mengarung malah menyiratkan segaranya. Atau terlalu bodoh sampai-sampai tidak tahu bahwa semesta memang sedang murka padaku.

Pagi ini aku menalikan sepatuku, sangat rumit. Simpul yang biasanya kupakai, hari ini tiba-tiba tidak lagi mampu menguatkan tapak kakiku. Aku terheran-heran. Tidak biasanya juga kemeja yang kupakai lusuh. Bahkan biasanya selalu rapi tak ada lipatan satu pun yang tampak. Aku terus mengeluh, tapi entah pada siapa dan apa. Dengan cara yang bagaimanapun aku tak tahu.

Kuambil kunci kendaraanku, lalu menyelempangkan tas seperti biasanya. Harusnya hari ini cerah, tapi tampaknya langit sedang menggerutu padaku. Apakah harusnya aku tak pergi? Tidak, aku harus terus berjalan. Aku pun berlalu dari pintu yang selalu melambaikan salam jumpa padaku. Menghela napas amat berat karena mungkin lagi dan lagi aku tak berhasil. Benar dugaanku, hujan deras mulai menampakkan dirinya. Kurelakan tubuhku basah, terombang-ambing angin yang merasuk sampai ke paru-paru. Rasanya sungguh menggigil.

Harus bagaimana lagi? Harus ke mana lagi? Apakah pantas aku terus berusaha untuk berjalan. Sedang tubuhku tidak sanggup menggapainya. Guntur menggelegar, aku amat butuh tempat berteduh. Aku butuh kehangatan. Aku butuh pelukan. Aku ingin kenyamanan yang memelukku setiap kali aku sakit dan terluka.

Aku ingin… pulang.

Meski harus terseok-seok sembari memaksa diriku menelusuri jalan lagi. Setidaknya itu jalanku pulang. Jalanku untuk melepaskan semua kecongkakan, kebodohan, kerumitan hidup. Dan kembali bersandar pada kehangatan. Di tengah peliknya jalan menuju sukses yang diharapkan, setidaknya ada rumah untuk pulang.

Hidup dengan Waras

Oleh: Martalia A.

Deru ombak terdengar merdu
Saling saut-menyaut menemaniku yang bersimpuh menatap langit
Awan menari-nari di atas sana, tersenyum padaku yang senantiasa membalasnya
Kemarin aku menulis kiat-kiat hidup dalam kewarasan
Di tengah berita perjumpaan manusia dengan kematian silih bergantian
Hidup untuk hari ini, bertahan demi besok
Tidak mudah menjadi tegar di tengah kebisingan jalan dan semarak manusia yang saling bersahutan. Berisik sekali
Di sana orang bergurau, di sana orang menangis mengharu biru, di sana orang terdiam dengan tatapan kosong

Aku?
Aku di sini, bersimpuh pada kedamaian
Kakiku kutekuk membelakangi pasir, enggan dia untuk julur
Dadaku membusung ke depan, menuju lautan yang luas dan mengebas
Kuhirup aroma air, mengembuskan napas yang kutahan dalam-dalam
Syukurlah, aku masih kuat bernapas
Aku masih bisa mencium aroma garam
Aku masih bisa merasakan kasarnya pasir dan kerikil pantai

Di sana, di antara dunia dan tempat yang tinggi, orang berusaha kuat melawan rintangan
Rintangan yang menjadi duka semua manusia hari ini
Apa kabar burung di langit? Sudahkah menjalankan tugasmu hari ini?
Tentang apa yang menjadi berita utama surat kabarmu hari ini?
Kerelaan, jawabnya
Benar. Banyak orang sedang menguatkan hati akan kerelaan hari ini

Aku?
Aku masih kuat untuk berbagi empati pada mereka yang dilanda haru
Karena sebaik-baiknya laku, adalah dengan mendoakan yang terbaik untuk semuanya
Semoga akan datang hari yang lebih baik dan lebih baik dari hari ini
Hari yang kita jumpai ini akan berlalu
Ombak akan menggulung membawa kesedihan ini ke lautan
Pergi bersama sebongkah kerinduan
Kenangan tentang masa sulit yang pernah kita lalui bersama
Dalam kiat yang kutulis kemarin, salah satunya adalah soal mimpi
Bahkan di antara gugurnya daun-daun hijau di sekitar kita, kita masih boleh bermimpi

Aku?
Aku ingin menjadi harapan. Harapan bagi mereka yang bahkan sudah lelah untuk berharap
Aku ingin menjadi udara. Bagi mereka yang sudah terengah-engah untuk menghirup
Aku ingin menjadi terik. Bagi mereka yang menggigil di antara angin
Aku ingin merangkulmu, yang sendirian menghadapi ribuan kehilangan
Aku ingin menjadi hari esok. Yang cerah, indah, penuh kegembiraan
Deru ombak terdengar merdu
Seperti kataku tadi, mari hidup dengan waras
Mari berdoa yang terbaik untuk hari yang akan berganti

Benang Takdir

Oleh: Martalia A.

 

Apa kamu percaya benang takdir?
Benang yang mengaitkanmu denganku, yang melilit hati kita, yang menautkan keduanya
Dari sekian banyak warna, kau memilih warna merah. Itu keberanian, katamu
Aku tahu betul kenapa kau memilih nya tapi, bagiku itu tidak berarti apa-apa
Bagiku, warna apapun yang kau pilih, tidak akan mengubah pendirianku padamu
Keberanian memaksa kita untuk tetap saling menyapa meski bibir dibungkam untuk bersuara
Keberanian membawamu melangkah padaku, padahal jalanan amat terjal dan penuh batu
Tak apa terluka, dalihmu waktu itu

Awalnya aku bahagia, baik-baik saja dengan segala yang kita miliki
Meski untuk mendapatkannya, kakiku harus terseok-seok bergesekan dengan bumi
Perlahan, benang di tanganku semakin erat dan semakin kuat
Tanganku sakit. Aku bertanya kenapa
Rupanya kau menariknya, kau membuatku terus bertautan denganmu
Sekuat tenaga, ke mana pun arah kau tertawa
Tapi sakit
Benang ini melilit terlalu tajam
Jangan menariknya terlalu kencang tanganku terluka, ujarku
Kau berhenti
Menunduk
Terdiam

Kau menyeka air matamu yang awalnya hanya sebuah sembab
Aku mendekat, kita berdekatan. Kuturut seka tangismu dengan tanganku yang penuh luka
Semakin kuseka, semakin kau tidak berhenti menangis. Tanganku yang terluka turut serta membasuh wajahmu
Semakin kuobati laramu, semakin kuberusaha, semakin tampak nelangsa dirimu
Rasanya, memang aku tidak pantas
Sejak awal harusnya kita tidak pernah bermain benang untuk membalut kedua tangan kita
Aku yang salah mengajakmu pergi ke toko benang, aku yang salah membiarkanmu membelinya untuk kita

Hari ini, mari kita pergi ke toko gunting. Akan kubelikan gunting tertajam yang ada di dunia ini untukmu.
Kau bebas melepas benang kita kapan saja. Benang ini tidak seharusnya melilit kita. Jika kau berjalan jauh ke depan persimpangan sana, akan ada orang lain, yang tanpa harus membelinya akan mengaitkan benangnya padamu. Salahku mencegahmu
Kau melihat etalase, bertanya, kenapa aku harus memilih gunting? Aku tak mau memutusnya
Pilih saja, jawabku. Bukan untuk memutus. Itu hadiah. Konon katanya gunting logam itu mahal harganya
Kau tersenyum senang, seperti mendapatkan cincin pertunangan
Logam apapun tak masalah, tak harus cincin, ujarmu
Aku membatin dengan menahan sakit. Meminta maaf pada ribuan kenangan yang seharusnya tak kugantungkan pada benang kita
Aku menuju kasir, membayarnya
Mana guntingku? Tanyamu
Belum sempat aku menjawab, tanganku segera menyembunyikan benda itu di dalam lenganku. Jangan sampai kau tahu gunting itu ada di sana
Nanti saja. Akan kupoles lebih cantik
Lagi-lagi kau tersenyum senang
Lagi-lagi aku semakin yakin, inilah saat yang tepat

Tepat kau berbalik, tepat kau menunjuk arah matahari, tepat kau berjalan menarik benang kita
Aku yang harusnya berjalan mengikutimu, kini terdiam. Tautan semakin kencang membelenggu
Perih semakin kurasa lagi. Aku tak kuasa mengguntingnya
Tapi aku harus. Aku harus merelakanmu. Sebelum hatiku runtuh perlahan-lahan
Tanganku yang lain mengambil gunting dari lengan diam-diam. Kuhitung dalam hati, mencoba meresapi perpisahan kita
Makin kuhitung, makin tak bisa berhenti
Kapan aku harus memutusnya?
Namun… ketika gunting ini bergerak mendekati sang benang, belum sempat ia menggerus takdir kita, benang itu putus…
Putus
Putus
dan putus….melayang mengikutimu yang berlari mengejar matahari
Bayang-bayangmu gelap. Tubuhmu tak kentara. Hatiku terlalu silau tak mampu melihatmu berlalu. Aku bertanya kenapa, kenapa belum sempat kuputus tapi kau buru-buru pergi
Rupanya, orang di ujung persimpangan itu menyapamu. Benang yang tanpa kau beli itu tampak manis, warnanya putih
Wah, indah sekali. Ungkapmu
Aku meringis, menggenggam kuat-kuat tanganku dengan benang-benang putusnya
Kenapa? Aku bahkan belum mengguntingnya

Orang di ujung persimpangan itu menatapku, mengangkat tangannya, dengan benang yang bertaut denganmu. Ketika kau berlari mengejar matahari, benang itu tak menjeratnya. Dia terus memanjang, tanpa ada ujungnya
Dasar
Ternyata begitu hukum takdir
Tanpa harus kuputus, jika memang bukan jalan kumemilikinya, benang itu memang akan putus ketika semakin ditarik kuat. Benang itu bisa putus kapan saja
Tanpa harus kuberusaha atau berdoa
Benang takdir tak pernah salah menempatkan dirinya di mana
dan memang bukan di tangan kita

Selamat jalan, ujung benangku. Aku tahu kenangan kita masih tergantung rapi di sana, berlekatan dengan lukaku
Yang ketika kau mengangkat tanganmu, kau akan mengingatku sebagai lara di masa lalu
Sedang aku, melihatmu sebagai sakit yang sulit untuk kuobati
Perlukah aku ikut membelikan benang putih itu untukmu, atau hanya di sini meratapi punggungmu pergi
Benang takdir kita tertawa, menertawakan pikiran jahatku
Bodoh. Benang itu tidak dijual. Tidak untuk kalian
Kuberbalik arah, memunggungi takdirmu. Mencari benang-benang baru untukku lekatkan padaku, tapi kenapa belum ada yang seindah benangmu.

Onegai, Modotte Kudasai

Oleh: Martalia A.

 

Judul buku: Kudasai
Penulis: Brian Khrisna
Penerbit: Mediakita
Deskripsi Fisik: 456 hlm. 19 cm.

“Pada akhirnya kau benar-benar hilang. Tepat di saat aku sedang butuh-butuhnya.  Salahku; menggantungkan bahagia pada seseorang yang pernah kukira akan selalu ada.”

Deep. Kutipan dari sebuah novel milik Brian Khrisna yang aku baca di wattpad sekitar satu tahun lalu dan berhasil membuatku takjub dengan diksinya yang quotable. Aku memutuskan untuk melanjutkan membaca beberapa chapter. Dan sialnya, mulai menikmati alur cerita dengan pembawaan narasinya yang dikemas dengan bahasa sederhana namun penuh makna dan diselingi lelucon absurd dari si tokoh utama laki-laki, Chaka. Chaka Ranchaka.

Pada chapter “I Belong to You” di mana chapter tersebut memberikan informasi bahwa novel Kudasai sudah terbit, yang artinya novel tersebut sudah dibukukan dan mau tidak mau aku harus membelinya karena penasaran dengan alur ceritanya yang selalu membuat hati berdebar setiap kali membaca bab demi babnya. Maaf, agak berlebihan tapi memang begitu. Selang beberapa waktu, aku menemukan buku Kudasai di salah satu perpustakaan umum di Yogyakarta. Buku dengan ketebalan 456 halaman, aku baca dalam waktu sehari.

Lantas, apa yang membuat novel ini begitu menarik? Alur cerita! Di sini penulis menyinggung topik feminisme dan anti-patriarki ke dalam ceritanya dengan alur yang cukup unik dan tidak mudah ditebak. Siapapun yang membacanya akan merasa seperti sedang menaiki wahana roller coaster, dibuat tertawa sampai terbahak-bahak, sesaat kemudian dalam waktu yang bersamaan dibuat menangis tersedu-sedu, emosi lalu terdiam sembari mencoba mencerna percakapan antar para tokoh. Penulis sangat lihai dalam mencampuradukkan perasaan pembacanya.

Novel karya Brian Khrisna ini mengisahkan seorang laki-laki bernama Chaka yang hanya memiliki dua keahlian, yakni memasak dan bernafas, harus terjebak dalam kontrak pernikahan bersama seorang alpha female bernama Twindy pemimpin sebuah firma arsitek terkemuka yang sangat mandiri, kaya raya, dan memiliki ego tinggi. Selama dua tahun pernikahan, Chaka yang bekerja mengelola café milik Twindy tidak pernah berani melawan Twindy yang cenderung lebih mendominasi. Chaka selalu mengalah dan lebih banyak mengurus urusan rumah tangga. Meskipun Chaka diperlakukan seperti berada di neraka, diam-diam Chaka mulai menyayangi Twindy sebagai istrinya yang menjadi tulang punggung dalam rumah tangga mereka.

Suatu hari, sosok masa lalu Chaka kembali hadir di kehidupannya. Anet, mantan kekasihnya yang ia tinggalkan begitu saja karena harus menikahi Twindy. Segala permasalahan antara Chaka dan Anet yang belum selesai menjadi titik awal konfilk dimulai. Sekelumit permasalah datang dan mengharuskan Chaka harus bertanggungjawab dengan pilihan rumit antara memilih istrinya, Twindy atau Anet, mantan kekasihnya.

“Kau tidak akan pernah mengerti tentang sakit hati, hingga suatu hari kau berdiri di depan seseorang yang begitu kau sayangi, lalu kau dipaksa untuk mau menerima sebuah kenyataan, bahwa kesempatan untuk kembali bersamanya itu tak lagi ada”

Penokohan yang kuat dan karakter yang khas dari setiap tokohnya adalah hal yang menarik dari novel ini. Karakter Chaka yang supel, ramah dan mudah bergaul membuat orang lain bahagia dengan tingkah konyolnya Namun,di saat mantan kekasihnya, Anet, hadir, sosok Chaka yang ceria dan humoris, hilang begitu saja, seperti kehilangan jati dirinya. Karakter Twindy yang dingin, galak, dan memiliki ego tinggi membuatnya tampak keras kepala. Bagi Twindy, sebagai alpha female, yang terpenting dalam hidupnya adalah seseorang yang selalu ada untuknya, bukan seseorang yang mempunyai segalanya. Karakter Anet, yang tampak baik, lugu, manis, selalu menerima kekurangan Chaka apa adanya, membuat hati pembaca bungkam tak bisa marah dengan kehadirannya sebagai penyebab retaknya hubungan rumah tangga Chaka dan Twindy.

Novel ini memiliki judul unik yang diadopsi dari bahasa Jepang, memiliki arti yang cukup mendalam, Kata ‘Kudasai’ bentuk verba bantu yang memiliki arti “Tolong, lakukan untuk saya”. Setelah selesai membaca novelnya, baru akan paham mengenai makna dari kata Kudasai dengan isi bukunya. Sekelumit permasalahan datang membuat para tokoh harus berhadapan dengan kehilangan, perpisahan, terluka dan kekecewaan. Dari tokoh Chaka, Twindy, dan Anet aku banyak belajar perihal kepedulian, meredam ego, kesederhanaan dan ketulusan dalam membangun sebuah hubungan. mencintai dengan sederhana. Pesan moral yang kutangkap dari penulis adalah mencintai itu bukan perihal siapa yang ‘paling’, tapi perihal siapa yang ‘saling’.

“Rumah tangga itu bukan sekadar soal siapa yang paling, tapi juga siapa yang saling.” – Chaka Ranchaka

Bagaimana, hati sudah tergerak dan tertarik untuk membacanya?