Penulis: Azki Khikmatiar

Perihal Pilihan

Oleh: Azki Khikmatiar

Hidup adalah sekumpulan pilihan, katamu!
Memilih apapun yang kau inginkan
Memilih menjalani hidup seperti apa
Memilih bagaimana caranya untuk bahagia
Memilih bagaimana caranya sembuhkan luka
Tapi, kau juga punya pilihan lain;
pilihan untuk tidak memilih!

Hei ! Pernahkah kau kuceritakan tentang
seorang pemuda tanpa masa depan?
Yang terbelenggu pada sebuah
keadaan penuh ketidaberpihakan;
Gaya hidup yang membosankan
Impian yang harus terlupakan
Hingga tak sempat mempunyai pilihan
Katanya; pilihan adalah ilusi !

Apakah kau tahu bagaimana rasanya
hidup tanpa mempunyai pilihan?
Apakah kau tau bagaimana rasanya
menjalani hidup tanpa bertanyatanya?
Tentang apa rencana ke depan?
Bagaimana jika gagal?
Bagaimana jika tak sesuai harapan?
Ah! Persetan dengan semua pertanyaan!

Lagipula, kehidupan yang selalu berjalan baikbaik saja itu kata siapa?

Ujung Jelaga, 26 Januari 2022

Hujan Di Bulan November

Oleh: Azki Khikmatiar

Aku selalu suka hujan
yang turun di bulan november
Jatuh mengalir memenuhi alam ingatan
Rinai memberai rentetan kenangan
masa lalu yang telah lama membatu
Seperti mesin waktu;
Seakan membawamu kembali padaku
Melewati harihari bersama
Berbagi canda tawa bahagia
Menukar rindu dengan temu
Percakapan tanpa kesimpulan
Menghitung rintik hujan
Dan sesekali ada pertengkaran!

Aku selalu suka hujan
yang turun di bulan november
Mengingat yang seharusnya dilupakan
Melupakan yang seharusnya diingat
Aku mengingatmu lewat puisi
sedang kau mengenalku lewat
hujan di pagi hari, katamu!
Tapi, bukankah kau benci puisi?
Bukankah aku benci hujan di pagi hari?
Ah! Sepertinya kau lupa bawa cinta
dan benci adalah saudara kandung,
katamu; sekali lagi!

Aku selalu suka hujan
yang turun di bulan november
Udaranya membawa aroma basah
Menghapuskan segala gelisah
Hingga pada akhirnya hujan mereda
Puingpuing kenangan menjelma
air mata; merintih menahan perih
Beradu kesedihan dalam kesunyian
Merubah lupa menjadi duka yang
sangat sukar untuk kembali dieja
Ah sudahlah!
Nyatanya, kau telah tiada!

Ruang Hampa, 25 November 2021

Sebatas Rela

Oleh: Azki Khikmatiar

Setelah segalanya berakhir pucat pasi,
Belum puaskah kau membuatku terus
menulis puisi?
Memungut kata demi kata yang tercipta
dari sebuah lara menuju sebatas rela
Menyusun asa yang telah lama putus
Merajut kabar dari debar yang barbar
Berulang kali; lagi dan lagi!

Seringkali sesuatu yang kuyakini
tak kunjung bisa kau pahami
Amarah terbelah tak tau arah
Rumah berubah tak lagi indah
Ramah merekah bersama gelisah
Melangkah dengan berdarahdarah
Kemudian jatuh hingga menyisakan
segenap luka yang tak kunjung sembuh

Dan kau tau bukan?
Segalanya sempat begitu rapuh
Sebelum kau menjadikannya utuh
Sepertinya kita samasama terjebak
Pada rasa takut yang menyeruak
Pada getir yang telah lama terukir
Ah! Barangkali ini adalah takdir!
Dan untuk yang terakhir kalinya,
Izinkan aku mengabadikanmu
dalam katakata; diantarakata!

Slawi, 26 Oktober 2021

Monolog Hari Lahir

Oleh: Azki Khikmatiar

Pada hari ini, dua puluh enam tahun lalu
Aku dilahirkan tepat pukul duabelas siang
Kehidupan menyapaku dengan raguragu
Takdir dituliskan bersama doadoa panjang
Mengapa semua orang tertawa?
Padahal aku terus menangis!
Sial! Aku belum mengerti apapa kala itu!

Dua puluh enam kali sudah,
Aku berjalan sejauh kaki melangkah
bahkan seringkali tanpa arah;
Berkenalan dengan diantarakata
Bertemu sebuah jalan bahagia
Mengharmonikan muasal sesal
Menyatukan enigma rasa
Menikmati hiruk pikuk malam minggu
Menghitung hujan di kota
Diajak berziarah ingatan
Terjebak dalam labirin hampa
Dipaksa untuk hidup normal
Kembali ke kampung asing
Hingga memutuskan puasa berpuisi
Padahal aku menganggap segalanya
adalah akhir yang belum selesai
Dan aku masih mengingat semuanya!

Pada hari ini, dalam setiap tahunnya
Aku merenungi sisasisa usia
yang semakin mendekati alpa
Ternyata semakin dewasa, isi kepala semakin sesak dengan tanda tanya
Mimpi mana yang belum menjadi nyata?
Masalah apa yang belum selesai?
Mau menjalani hidup seperti apa?
Mau jadi apa atau mau jadi siapa?
Apalagi yang harus dikejar?
Apalagi yang harus dicari?
Apalagi yang harus dikorbankan?
Apalagi? Apalagi? Dan apalagi?
Lantas, mau sampai kapan?

Dua puluh enam tahun, aku telah belajar
banyak hal, tapi semakin banyak aku belajar
justru semakin banyak aku tak mengerti
Aku belajar mencintai banyak orang,
tapi orangorang yang kucintai justru membenciku pada akhirnya
Aku belajar membenci banyak orang,
tapi orangorang yang kubenci justru mencintaiku pada akhirnya
Aku belajar menjadi orang baik, tapi
orangorang menganggapku jahat
Aku belajar menjadi orang jahat, tapi
orangorang tak menganggapku baik
Dasar bedebah!
Mengapa semua ini membingungkan?

Hari ini, aku berdiri mengenang semuanya
Melihat pada masa yang telah lalu
dan aku belum menemukan sesuatu
yang bisa kubanggakan
Sebentar!
Memangnya manusia diharuskan untuk mempunyai sesuatu bernama kebanggaan?
Bagaimana jika satusatunya sesuatu yang bisa dibanggakan adalah ketidakbanggaan?
Ah, sudahlah! Lupakanlah!

Moga, 30 September 2021

Ziarah Ingatan II

Oleh: Azki Khikmatiar

Kota bahari adalah sebuah ingatan
yang tak mampu kuziarahi sendiri
Jawaban yang kita cari selama ini
adalah sebuah siasia tak bertepi
Katakata yang tercipta diantarakita
hanya merupa luka diantarakata

Cerita panjang yang pernah
kita buat berdua, berakhir singkat
sebelum sebuah sepakat
Rasa cinta yang pernah
kita rawat dengan segenap harap,
harus layu bersama cemburu
Citacita besar yang pernah
kita semogakan berdua, satu
persatu hampa melebihi jelaga
Ah! Semuanya abadi dalam pusara!

Apakah kau masih bersedia
menziarahi segala ingatan
tentang kita, sekali lagi? Katamu.
Berdalih bahwa segala sesuatu
yang terjadi antarakita adalah takdir
Mengutuk perpisahan yang tercipta
dari jarak yang tak kunjung berakhir
Dasar pecundang!
Mengapa kau datang setelah
yang tersisa hanya sebuah kenang?
Bukankah kita bisa saling mengingkari
daripada kembali mengeja arti?
Ah! Tak perlu lagi basabasi!
Semuanya mati tanpa kompromi!

Kota Bahari, 1 September 2021

Gadis Mimpi Jelita!

Oleh: Azki Khikmatiar

 

Pada malam yang jelaga
Aku bermimpi bertemu
gadis berkacamata
Beraut jelita penuh tanya
Mempunyai lesung pipit
dengan mata sedikit sipit
Sungguh mempesona!
Laksana rembulan kala purnama
yang menerangi bumi manusia
Cahayanya mendamaikan jiwa
siapapun yang memandangnya

Kau! Gadis di mimpi itu!
Sepotong tawa kecilmu membuat
senyum lamaku kembali merekah
Tatap matamu seakan merupa
rumah tempat aku merebah lelah
Candamu yang candu tumpah ruah
laksana perayaan paling meriah
Ah! Semuanya begitu indah!

Ketika aku menjelma malam jelaga
kau menjelma gadis mimpi jelita
Menghirup harap dalam dekap
Menyapa sepiku diantarakatamu
Membawa pelita dalam gulita
Merawat renjana dalam nestapa
Ah! Apakah ini yang disebut cinta?

 

Jatinegara, 7 Agustus 2021

Kampung Asing!

Oleh: Azki Khikmatiar

 

Kampung halamanku
adalah keterasingan!
Tempat aku dilahirkan
tapi tidak dibesarkan!
Tempat aku mengerti
tapi tidak mencari arti!
Tempat aku kembali
tapi tidak untuk pergi!

Kampung halamanku
adalah keterasingan!
Sawahsawah perlahan
ditanami rumah mewah
Udara desa tercemar
berbagai kepentingan
Jalanan digilas tergesa
demi harta dan tahta

Kampung halamanku
adalah keterasingan!
Orangorang merasa muak
dengan kekhawatiran
Seakan punya banyak waktu
dengan terus merajut retak
Mengumpulkan kemungkinan
di antara banyak jalan bercabang

Kampung halamanku
adalah keterasingan!
Sebentar!
Apakah kampung halamanku
benarbenar menjadi asing?
Atau janganjangan aku yang
terlalu sering merawat hening?
Ah! Sudahlah!
Sepertinya bukan kampung
halamanku yang asing;
Justru akulah keterasingan itu!

Rumah Puisi, 28 Juli 2021

Akhir yang Belum Selesai!

Oleh: Azki Khikmatiar

 

Sementara setiap detik
adalah menyalahkan hidup
di hadapan kebenaran yang cekik
Menghancurkan mimpimimpi yang
telah dibangun selama ratusan hari
Memporakporandakan kesadaran
yang bungkam dalam cengkram
Katanya; hidup ini sangat kejam!

Sementara setiap hari
adalah berjalan tanpa keyakinan
di antara langkah kaki yang gontai
Melewati jalanjalan panjang yang
dipenuhi oleh likaliku luka menganga
Menyebrangi jembatan keraguan
yang terhenti tanpa kepastian
Katanya; hidup ini penuh kesiasiaan!

Sementara setiap bulan
adalah mengutuk seluruh nasib
di antara orangorang yang bernasab
Membandingkan kehidupan dengan
atau tanpa sebuah kepemilikan
Mempertanyakan keadilan Tuhan;
Mengapa semua ini harus terjadi?
Mengapa nasib tak berpihak pada orangorang yang tak bernasab?
Katanya; hidup ini sungguh tak adil!

Sementara setiap tahun
adalah memelihara sesal
diantarakata yang tertulis pada lembaranlembaran tak bermata
Duka menjalar menuju rahim puisi
hingga abadi dalam ingatan pucat pasi
Membunuh kebahagiaan yang sebenarnya
terlahir dari anak ketidaksiapan
Katanya; penyesalan selalu berdatangan!

Sementara setiap kapanpun
adalah tak pernah sampai pada akhirnya
Seperti mengisi jawaban yang rumpang
Tumpang tindih tanpa ketidakpastian
Menuju pangkal yang seakan kekal
Ah! Dasar bedebah!
Apakah setiap akhir pasti selesai?
Apakah setiap awal pasti memulai?
Katanya; ini adalah akhir yang belum selesai!

 

Babarsari, 26 Juni 2021

Penghujung Mei

Oleh: Azki Khikmatiar

 

Di penghujung mei
Tak ada lagi puisi tercipta
Belati enggan menusuk hati
Merupa luka tak kasat mata
Sebermula hanyalah ada
Sementara akhir melebihi tiada

Di penghujung mei
Diksi berantakan kemudian mati
Pena tumpul berlumuran darah abadi
Lembaran putih menahan jerih
Diantarakita hanya sekadar diantarakata
Kehilangan tangis tanpa air mata

Di penghujung mei
Waktu berputar sebegitu lambat
Tapi aku ingin berteriak dengan lembut!
Mengapa puisi membutuhkan rumah?
Menghancurkannya dengan sangat ramah
Palung sebagai tempat untuk pulang
Singgah tak pernah menjelma sungguh
Pernah berakhir dalam sebuah punah

Di penghujung mei
Pagi berontak dalam benak
Siang berulang lantas hilang
Malam berlalu dengan muram
Ah! Sial!
Aku masih terpenjara
dalam bual!

Kota Ikhlas, 31 Mei 2021

Puasa Berpuisi

Oleh: Azki Khikmatiar

 

Hari ini,
Adalah kala pertama kita bertegur sapa
Dua tahun lalu, sebelum kau menjelma alpa
Saat dimana aku belum mengenal luka
Kau datang menawarkan renjana
Mendefinisikan cinta sebagai kita
Hingga aku percaya pada katakata
Diantarakata; diantarakita, katamu!

Hari ini,
Adalah kali pertama kau mengajariku menulis puisi dengan diksi favoritmu
Satu tahun lalu, aku hanyalah si bodoh
yang sama sekali tak mengerti puisi
Aku mencoba menulis dan terus menulis walaupun tintaku telah lama habis
Mengeja bahagia menjadi diksi yang tak ada apaapanya jika dibandingkan diksimu
Diksi kita berbeda; cerita kita tak sama, katamu!

Hari ini,
Adalah kala pertama kau memahat luka
Membuatku mulai mengerti semua kata yang sering kau sebut sebagai muara sukma
Bahwa cinta, bahagia, renjana, luka, alpa adalah bagian terbaik dari katakata
Terimakasih!
Akan kutulis semua ingatan tentangmu dengan tinta berlumuran darah pada lembaranlembaran yang masih memerah
Dasar bodoh!
Mengapa kau alpa begitu cepat?
Padahal aku belum selesai memahamimu
Andai kau bisa hadir sedikit lebih lama
Akan kubuatkan kau ribuan puisi hingga
kau berhenti menangis!
Mungkin, memang sudah waktunya;
Puasa berpuisi.
Ah, andai saja!

 

Papringan, 17 April 2021