Penulis: Azki Khikmatiar

Puasa Berpuisi II

Oleh: Azki Khikmatiar

Kasih!
Bulan puasa sudah menyapa kembali
Lihatlah! kisah kita telah bertahan
bertahuntahun bersama sepi
Mengapa waktu berjalan cepat sekali?
Rasanya kita belum selesai memahami
tentang makna sebuah rasa bersalah
Sekarang kita telah menyadari bahwa
semuanya harus kembali indah

Kasih!
Sudah waktunya kita berjalan kembali
Bersama benci yang lebih sering kita cintai
Melampaui sederetan bagaimana
Meneriakkan segenap rasa kecewa
Membela sesak yang sedari lama digariskan
Menyesali pilihan yang dikuasai kehampaan

Kasih!
Mari melanjutkan puisi yang hampir mati
Serangkaian perih ini tak bisa lagi dihindari
Hei! Untuk apa terus menulis puisi?
Bukankah diksi kita selalu berbeda?
Bukankah kisah kita tak pernah sama?
Bukankah kita enggan memberi ruang
pada sebuah kesempatan?
Tanyamu, bertubitubi!

Kasih!
Mengapa harus berhenti menulis puisi
jika luka yang kau beri nyatanya abadi?
Mengapa kita lebih memilih beralih
daripada melatih segala perih?
Mengapa kita saling menyulang bahagia
jika pada akhirnya kita bersulang air mata?
Ah, sudahlah!
Mungkin benarbenar sudah waktunya;
Puasa berpuisi!

Pekalongan, 14 April 2022

Pada Sebuah Akhirnya

Oleh: Azki Khikmatiar

Aku merindukanmu!
Bersama malam yang melebam
Memandang kenang berulangulang
Hingga tenggelam dalam pendam
Berharap keajaiban kembali datang

Hei, sudah berapa lama kau tak lagi ada ?
Lihatlah langit kita semakin jelaga
Dibungkam lara tiada habisnya
Denting telah menjelma hening
Bertemu asing dan tak ada lagi saling

Apakah kau pernah merasa kehilangan ?
Ataukah kau telah berhasil menemukan ?
Semoga kau menemukan segala hal
yang pernah kau sebut sebagai kehilangan
Maaf ! Kali ini aku sungguh kehilangan
Tapi, bukankah kehilangan selalu
membawa pada kesempatan?
Bukankah manusia akan selalu
belajar untuk menjadi terbiasa?

Hei, mungkinkah kita telah sampai
pada sebuah akhirnya ?
Bahwa masingmasing dari kita bertemu persimpangan jalan bernama takdir
Bahwa kita harus menulis ulang
catatan mimpi yang pernah kita sepakati
Bahwa tak perlu ada perpisahan sebab
yang terjadi nyatanya tidaklah abadi

Apakah kau masih merindukanku ?
Ah, sudahlah !
Berbahagialah di sana !

Ruang Fana, 12 Maret 2022

Perihal Pilihan

Oleh: Azki Khikmatiar

Hidup adalah sekumpulan pilihan, katamu!
Memilih apapun yang kau inginkan
Memilih menjalani hidup seperti apa
Memilih bagaimana caranya untuk bahagia
Memilih bagaimana caranya sembuhkan luka
Tapi, kau juga punya pilihan lain;
pilihan untuk tidak memilih!

Hei ! Pernahkah kau kuceritakan tentang
seorang pemuda tanpa masa depan?
Yang terbelenggu pada sebuah
keadaan penuh ketidaberpihakan;
Gaya hidup yang membosankan
Impian yang harus terlupakan
Hingga tak sempat mempunyai pilihan
Katanya; pilihan adalah ilusi !

Apakah kau tahu bagaimana rasanya
hidup tanpa mempunyai pilihan?
Apakah kau tau bagaimana rasanya
menjalani hidup tanpa bertanyatanya?
Tentang apa rencana ke depan?
Bagaimana jika gagal?
Bagaimana jika tak sesuai harapan?
Ah! Persetan dengan semua pertanyaan!

Lagipula, kehidupan yang selalu berjalan baikbaik saja itu kata siapa?

Ujung Jelaga, 26 Januari 2022

Hujan Di Bulan November

Oleh: Azki Khikmatiar

Aku selalu suka hujan
yang turun di bulan november
Jatuh mengalir memenuhi alam ingatan
Rinai memberai rentetan kenangan
masa lalu yang telah lama membatu
Seperti mesin waktu;
Seakan membawamu kembali padaku
Melewati harihari bersama
Berbagi canda tawa bahagia
Menukar rindu dengan temu
Percakapan tanpa kesimpulan
Menghitung rintik hujan
Dan sesekali ada pertengkaran!

Aku selalu suka hujan
yang turun di bulan november
Mengingat yang seharusnya dilupakan
Melupakan yang seharusnya diingat
Aku mengingatmu lewat puisi
sedang kau mengenalku lewat
hujan di pagi hari, katamu!
Tapi, bukankah kau benci puisi?
Bukankah aku benci hujan di pagi hari?
Ah! Sepertinya kau lupa bawa cinta
dan benci adalah saudara kandung,
katamu; sekali lagi!

Aku selalu suka hujan
yang turun di bulan november
Udaranya membawa aroma basah
Menghapuskan segala gelisah
Hingga pada akhirnya hujan mereda
Puingpuing kenangan menjelma
air mata; merintih menahan perih
Beradu kesedihan dalam kesunyian
Merubah lupa menjadi duka yang
sangat sukar untuk kembali dieja
Ah sudahlah!
Nyatanya, kau telah tiada!

Ruang Hampa, 25 November 2021

Sebatas Rela

Oleh: Azki Khikmatiar

Setelah segalanya berakhir pucat pasi,
Belum puaskah kau membuatku terus
menulis puisi?
Memungut kata demi kata yang tercipta
dari sebuah lara menuju sebatas rela
Menyusun asa yang telah lama putus
Merajut kabar dari debar yang barbar
Berulang kali; lagi dan lagi!

Seringkali sesuatu yang kuyakini
tak kunjung bisa kau pahami
Amarah terbelah tak tau arah
Rumah berubah tak lagi indah
Ramah merekah bersama gelisah
Melangkah dengan berdarahdarah
Kemudian jatuh hingga menyisakan
segenap luka yang tak kunjung sembuh

Dan kau tau bukan?
Segalanya sempat begitu rapuh
Sebelum kau menjadikannya utuh
Sepertinya kita samasama terjebak
Pada rasa takut yang menyeruak
Pada getir yang telah lama terukir
Ah! Barangkali ini adalah takdir!
Dan untuk yang terakhir kalinya,
Izinkan aku mengabadikanmu
dalam katakata; diantarakata!

Slawi, 26 Oktober 2021

Monolog Hari Lahir

Oleh: Azki Khikmatiar

Pada hari ini, dua puluh enam tahun lalu
Aku dilahirkan tepat pukul duabelas siang
Kehidupan menyapaku dengan raguragu
Takdir dituliskan bersama doadoa panjang
Mengapa semua orang tertawa?
Padahal aku terus menangis!
Sial! Aku belum mengerti apapa kala itu!

Dua puluh enam kali sudah,
Aku berjalan sejauh kaki melangkah
bahkan seringkali tanpa arah;
Berkenalan dengan diantarakata
Bertemu sebuah jalan bahagia
Mengharmonikan muasal sesal
Menyatukan enigma rasa
Menikmati hiruk pikuk malam minggu
Menghitung hujan di kota
Diajak berziarah ingatan
Terjebak dalam labirin hampa
Dipaksa untuk hidup normal
Kembali ke kampung asing
Hingga memutuskan puasa berpuisi
Padahal aku menganggap segalanya
adalah akhir yang belum selesai
Dan aku masih mengingat semuanya!

Pada hari ini, dalam setiap tahunnya
Aku merenungi sisasisa usia
yang semakin mendekati alpa
Ternyata semakin dewasa, isi kepala semakin sesak dengan tanda tanya
Mimpi mana yang belum menjadi nyata?
Masalah apa yang belum selesai?
Mau menjalani hidup seperti apa?
Mau jadi apa atau mau jadi siapa?
Apalagi yang harus dikejar?
Apalagi yang harus dicari?
Apalagi yang harus dikorbankan?
Apalagi? Apalagi? Dan apalagi?
Lantas, mau sampai kapan?

Dua puluh enam tahun, aku telah belajar
banyak hal, tapi semakin banyak aku belajar
justru semakin banyak aku tak mengerti
Aku belajar mencintai banyak orang,
tapi orangorang yang kucintai justru membenciku pada akhirnya
Aku belajar membenci banyak orang,
tapi orangorang yang kubenci justru mencintaiku pada akhirnya
Aku belajar menjadi orang baik, tapi
orangorang menganggapku jahat
Aku belajar menjadi orang jahat, tapi
orangorang tak menganggapku baik
Dasar bedebah!
Mengapa semua ini membingungkan?

Hari ini, aku berdiri mengenang semuanya
Melihat pada masa yang telah lalu
dan aku belum menemukan sesuatu
yang bisa kubanggakan
Sebentar!
Memangnya manusia diharuskan untuk mempunyai sesuatu bernama kebanggaan?
Bagaimana jika satusatunya sesuatu yang bisa dibanggakan adalah ketidakbanggaan?
Ah, sudahlah! Lupakanlah!

Moga, 30 September 2021

Ziarah Ingatan II

Oleh: Azki Khikmatiar

Kota bahari adalah sebuah ingatan
yang tak mampu kuziarahi sendiri
Jawaban yang kita cari selama ini
adalah sebuah siasia tak bertepi
Katakata yang tercipta diantarakita
hanya merupa luka diantarakata

Cerita panjang yang pernah
kita buat berdua, berakhir singkat
sebelum sebuah sepakat
Rasa cinta yang pernah
kita rawat dengan segenap harap,
harus layu bersama cemburu
Citacita besar yang pernah
kita semogakan berdua, satu
persatu hampa melebihi jelaga
Ah! Semuanya abadi dalam pusara!

Apakah kau masih bersedia
menziarahi segala ingatan
tentang kita, sekali lagi? Katamu.
Berdalih bahwa segala sesuatu
yang terjadi antarakita adalah takdir
Mengutuk perpisahan yang tercipta
dari jarak yang tak kunjung berakhir
Dasar pecundang!
Mengapa kau datang setelah
yang tersisa hanya sebuah kenang?
Bukankah kita bisa saling mengingkari
daripada kembali mengeja arti?
Ah! Tak perlu lagi basabasi!
Semuanya mati tanpa kompromi!

Kota Bahari, 1 September 2021

Gadis Mimpi Jelita!

Oleh: Azki Khikmatiar

 

Pada malam yang jelaga
Aku bermimpi bertemu
gadis berkacamata
Beraut jelita penuh tanya
Mempunyai lesung pipit
dengan mata sedikit sipit
Sungguh mempesona!
Laksana rembulan kala purnama
yang menerangi bumi manusia
Cahayanya mendamaikan jiwa
siapapun yang memandangnya

Kau! Gadis di mimpi itu!
Sepotong tawa kecilmu membuat
senyum lamaku kembali merekah
Tatap matamu seakan merupa
rumah tempat aku merebah lelah
Candamu yang candu tumpah ruah
laksana perayaan paling meriah
Ah! Semuanya begitu indah!

Ketika aku menjelma malam jelaga
kau menjelma gadis mimpi jelita
Menghirup harap dalam dekap
Menyapa sepiku diantarakatamu
Membawa pelita dalam gulita
Merawat renjana dalam nestapa
Ah! Apakah ini yang disebut cinta?

 

Jatinegara, 7 Agustus 2021

Kampung Asing!

Oleh: Azki Khikmatiar

 

Kampung halamanku
adalah keterasingan!
Tempat aku dilahirkan
tapi tidak dibesarkan!
Tempat aku mengerti
tapi tidak mencari arti!
Tempat aku kembali
tapi tidak untuk pergi!

Kampung halamanku
adalah keterasingan!
Sawahsawah perlahan
ditanami rumah mewah
Udara desa tercemar
berbagai kepentingan
Jalanan digilas tergesa
demi harta dan tahta

Kampung halamanku
adalah keterasingan!
Orangorang merasa muak
dengan kekhawatiran
Seakan punya banyak waktu
dengan terus merajut retak
Mengumpulkan kemungkinan
di antara banyak jalan bercabang

Kampung halamanku
adalah keterasingan!
Sebentar!
Apakah kampung halamanku
benarbenar menjadi asing?
Atau janganjangan aku yang
terlalu sering merawat hening?
Ah! Sudahlah!
Sepertinya bukan kampung
halamanku yang asing;
Justru akulah keterasingan itu!

Rumah Puisi, 28 Juli 2021

Akhir yang Belum Selesai!

Oleh: Azki Khikmatiar

 

Sementara setiap detik
adalah menyalahkan hidup
di hadapan kebenaran yang cekik
Menghancurkan mimpimimpi yang
telah dibangun selama ratusan hari
Memporakporandakan kesadaran
yang bungkam dalam cengkram
Katanya; hidup ini sangat kejam!

Sementara setiap hari
adalah berjalan tanpa keyakinan
di antara langkah kaki yang gontai
Melewati jalanjalan panjang yang
dipenuhi oleh likaliku luka menganga
Menyebrangi jembatan keraguan
yang terhenti tanpa kepastian
Katanya; hidup ini penuh kesiasiaan!

Sementara setiap bulan
adalah mengutuk seluruh nasib
di antara orangorang yang bernasab
Membandingkan kehidupan dengan
atau tanpa sebuah kepemilikan
Mempertanyakan keadilan Tuhan;
Mengapa semua ini harus terjadi?
Mengapa nasib tak berpihak pada orangorang yang tak bernasab?
Katanya; hidup ini sungguh tak adil!

Sementara setiap tahun
adalah memelihara sesal
diantarakata yang tertulis pada lembaranlembaran tak bermata
Duka menjalar menuju rahim puisi
hingga abadi dalam ingatan pucat pasi
Membunuh kebahagiaan yang sebenarnya
terlahir dari anak ketidaksiapan
Katanya; penyesalan selalu berdatangan!

Sementara setiap kapanpun
adalah tak pernah sampai pada akhirnya
Seperti mengisi jawaban yang rumpang
Tumpang tindih tanpa ketidakpastian
Menuju pangkal yang seakan kekal
Ah! Dasar bedebah!
Apakah setiap akhir pasti selesai?
Apakah setiap awal pasti memulai?
Katanya; ini adalah akhir yang belum selesai!

 

Babarsari, 26 Juni 2021