Penulis: Aldiantara Kata

Peminat aktifitas sosial, sastra, pemandangan alam, serta obrolan-obrolan di warung kopi. Senang merefleksikan realitas melalui tulisan-tulisan sederhana. Kini masih duduk sebagai mahasiswa magister di salah satu Universitas di Yogyakarta.

World Leprosy Day! Tolak Stigmanya, Bukan Orangnya!

aldiantara.kata

World Leprosy Day! Hari Kusta Sedunia yang jatuh setiap minggu terakhir pada bulan Januari. Adapun penyebab minggu terakhir dipilih sebagai Hari Kusta Internasional lantaran sebagai penghargaan atas belas kasih yang ditunjukkan Mahatma Gandhi pada para penderita kusta. Bahkan 30 Januari mendatang bertepatan dengan peringatan kematian Gandhi pada 30 Januari 1948.

Dilansir dari situs aspirasiku.id, tema untuk Hari Kusta Sedunia 2022 adalah “United for Dignity” (Bersatu untuk Bermartabat). Tema tersebut merupakan seruan persatuan dalam menghormati martabat orang yang pernah mengalami kusta.

Kusta dapat disembuhkan!

Terang saja, meski secara medis agar kusta dapat disembuhkan perlu mengonsumsi obat secara rutin dalam jangka waktu tertentu, namun bila stigma sosial terhadap penyakit kusta begitu tinggi, target Kementerian Kesehatan dalam menarget eliminasi kusta pada tahun 2024 tidak bisa direalisasikan. Terlebih target ini terhalang pandemi covid-19. Dampaknya adalah temuan kasus aktif belakangan ini, khususnya pada tahun 2020, mengalami penurunan tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Tolak stigmanya, bukan orangnya!

Bertepatan dengan peringatan Hari Kusta Sedunia, kbr.id kembali menyelenggarakan acara ruang publik secara daring dengan tema “Tolak Stigmanya, Bukan Orangnya”. Acara ini menghadirkan dua narasumber, yakni dr. Astri Ferdiana mewakili Technical Advisor NLR Indonesia, serta Al Qadri selaku orang yang pernah mengalami kusta, juga sebagai Wakil Ketua Perhimpunan Mandiri Kusta Nasional (Permata). Disiarkan secara langsung melalui YouTube dalam kanal Berita KBR.

Tema acara ini menarik sebab seakan mempertegas bahwa ketika seseorang terpapar kusta, sejatinya dengan mengonsumsi obat secara teratur, penyakit akan dapat disembuhkan. Namun stigma sosial yang meresahkan terhadap para penderita kusta akan menghambat penanganan penyakit tersebut.

Host dalam acara ini, Ines Nirmala, membuka acara ini dengan memaparkan fakta-fakta menarik, di antaranya menyebutkan bahwa penyakit kusta, khususnya seiring dengan terjadinya pandemi covid-19 cenderung diabaikan. Indonesia menempati negara tertinggi ketiga di dunia dalam kasus kusta. Sebagian masyarakat cenderung abai dan kurang waspada, namun stigma negatif terhadap para penyintas tetap tinggi. Sementara penularan terus terjadi, disabilitas yang diakibatkan oleh penyakit kusta semakin tinggi.

Al Qadri sebagai OYPMK (orang yang pernah mengalami kusta) menceritakan pengalaman ketika ia terpapar kusta. Ia terpapar kusta ketika masih berusia enam tahun kisaran tahun 1980-an. Saat menginjak SD, ia diketahui pada lututnya terdapat bercak pertanda kusta. Ia pun dilaporkan kepada pihak sekolah agar tidak lagi berangkat sekolah dengan alasan yang diada-adakan, seperti belum cukup umur.

Al Qadri menceritakan bahwa seiring tersebar informasi bahwa ia terpapar kusta, sebagian besar masyarakat semakin takut, mereka menjauh. Diskriminasi menjadi sangat nyata. Tidak hanya dirinya yang mendapat stigma buruk dan diskriminasi, bahkan keluarganya pun juga ikut terdiskriminasi. Ia susah bergaul dengan usia sebaya. “Sakit kusta tidak seberapa, tapi sakit diskriminasi begitu terasa.” Ujar Al Qadri.

Adapun Al Qadri mulai pengobatan setelah sembilan tahun kemudian. Pada rentang tersebut orang tuanya gencar mencari penawar baik medis maupun tradisional, namun kondisi ketika itu tidak semudah mendapat obatnya pada masa sekarang. Sementara kondisinya sudah memburuk di mana jari-jemarinya sudah ada mulai mengalami luka. Pengalamannya itulah yang membuat Al Qadri kini menjadi seorang aktivis yang memperjuangkan hak-hak yang dialami oleh penyintas kusta.

Menurut Al Qadri, masih banyak penderita kusta yang enggan mengakui bahwa dirinya terkena kusta karena tingginya stigma. Orang yang terpapar pun seringkali enggan diajak bergabung dalam komunitas. Stigma negatif semestinya jangan sampai membatasi ruang gerak penyintas. Bahkan penyandang disabilitas kusta lebih berat daripada penyintas disabilitas lain, ia akan mengalami double stigma. Bahkan, masih menurut Al Qadri, Di Sulawesi Selatan, kusta dibuat sumpah untuk meyakinkan seseorang akan sesuatu.

Terkait dengan penyakit kusta ini, dr. Astri mengatakan bahwa bila kusta terlambat dideteksi dan tangani, dampaknya akan menyebabkan disabilitas, seperti pada mata, jemari tangan dan kaki. Tanda-tanda kusta pada umumnya muncul bercak di kulit bisa berwarna merah atau putih, berbeda dengan panu. Bercak sebagai tanda tersebut mati rasa bila mendapat sentuhan. Apabila mendapat tanda tersebut pada organ tubuh, segera mungkin dikonsultasikan kepada puskesmas atau rumah sakit terdekat agar segera dipastikan apakah tanda tersebut merupakan kusta atau bukan.

Dalam rangka menangani tingginya stigma negatif terhadap para penyintas, dr. Astri menyampaikan bahwa stigma itu kompleks. Untuk menanganinya perlu upaya komprehensif dan konsisten. Dr. Astri bercerita sebelumnya pada tahun 2020 di suatu daerah, sebagian masyarakat dan tenaga kesehatan mereka mau bergaul dengan OYPMK, uniknya mereka tetap menjaga jarak, sebagian dari mereka tidak mengizinkan penyintas untuk tinggal di kos, menikahkan anak mereka, atau mempekerjakan mereka.

Dengan demikian, bagi dr. Astri, pentingnya kerja sama dengan semua elemen masyarakat. Pada dasarnya adalah dengan membangun kesadaran  bahwa OYPMK memiliki hak yang sama, baik pada kesehatan, pendidikan, hukum, politik, bahkan hak hidup. OYPMK sama dengan kita. Sama-sama manusia. Tidak berbeda dengan kita. Parahnya ada yang sampai  OYPMK yang dicap negatif masyarakat, juga memberi cap negatif kepada dirinya sendiri. Di samping itu, untuk mengurangi stigma negatif ini, perlunya melakukan kampanye kesadaran, misal melalui media talkshow, media massa, hingga advokasi pimpinan daerah agar bersama-sama memperhatikan penyakit kusta dan penyintas kusta di masyarakat.

Sementara itu, cerita Al Qadri semakin meyakinkan bahwa kusta sudah ada obatnya dan dapat disembuhkan bila segera ditangani sebelum terjadinya keterlambatan penanganan hingga menyebabkan disabilitas. Al Qadri yang mengikuti program pengobatan kusta hingga tuntas bahkan tinggal bersama empat saudaranya dalam satu rumah, namun tidak satu pun hingga kini yang terpapar kusta. Ia menikah dengan seorang perempuan yang juga OYPMK. Ia dikaruniai dua anak, diberi asi oleh seorang Ibu yang kakinya diamputasi lantaran kusta, namun hingga pendidikan kedua anaknya tuntas, tidak ada yang terkena kusta.

Menurut dr. Astri Ferdiana, cara mencegah penyakit kusta adalah dengan memutus rantai penularan. Di antara upayanya dengan mendorong pasien kusta untuk berobat sesegera mungkin ke puskesmas, lalu mendapat dukungan sosial agar penyintas semangat dalam upaya berikhtiar sembuh. Harus didorong untuk konsisten meminum obat hingga tuntas. Adapun orang orang yang hidup di lingkungan penyintas kusta, terdapat pula obat pencegahan terhadap penyakit kusta dengan dosis obat sekali minum.

Sudah terlalu lama masalah kusta ini ada di sekitar kita, sudah terlalu lama pula stigma terhadap penyintas kusta teramat tinggi. Padahal obat sudah ada dan kusta dapat disembuhkan. Mari tolak stigmanya, bukan orangnya. Kusta dapat disembuhkan, sekali lagi. Menuju zero leprosy!

Hihi Akhir Tahun

aldiantara.kata

Hihi. Sudah akhir tahun. Mau berharap apa lagi?
Hihi. Awal tahun. Rencana-rencana apa lagi?
Hihi. Awal tahun. Waiting list mengejek
Hihi. Waktu bergulir dengan cepat tanpa mau menunggu.
Hihi. Tak ada apa-apa lagi, selain
Menatap orang dengan iri
Aku juga sama. Hihi.

Kini sudah memasuki page 25 of 365. 300 tweet di Twitter. Tak trending lagi. Tiada lagi peduli. Maka dengan kilat kita akan memasuki page 365 of 365, hingga page 1 of 365 kembali. Namun tiada yang berarti. Rencana-rencana yang masuk keranjang status. Sesal-sesal yang tiada guna.

Hihi. Sudah akhir tahun. Anggap saja begitu.

Lupa introspeksi lagi. Percepatan waktu yang gila. Kita sedang lupa. Kita akan lupa.

Di mana Penamu?

aldiantara.kata

Di mana penamu. Itu dicari kala ide datang menghadang. Agar tak lekas menguap. Tentukan outline-outline yang terbayang sekelibat. Rencana yang sebagai bayang muncul menjadi petunjuk arah. Di mana penamu. Tak ada waktu berkunjung pada rumah rencana. Rencana marah hingga ia pandai berkelit. Rencana-rencana menjadi pemukiman yang kosong. Saling menunjuk, saling meninju.

Di mana penamu. Apa ia muncul sebagai luap panggilan jiwa. Upaya abadikan waktu. Makna kata yang tenggelam. Tersampai setelah lama berada pada palung kedalaman. Kata-kata memerlukan waktu untuk mengurai jubahnya. Kata-kata menggandeng waktu yang tepat untuk diterima pendengarnya. Itu sebab seorang tak cukup mendengar kata-kata hanya sekali. Kata-kata menyihir para pecinta yang sedang mabuk. Hingga menyerpih pada inti jantung tanpa mengenal rasa ampun. Endap mendendam. Ada yang kata-katanya tetap terjaga, atau menghindar dari rasa sakit.

Di mana penamu. Rencana-rencana berfigurakan outline-outline tulisan yang buram. Kau tak tahu lagi konteksnya. Temali yang tak kunjung ditemukan pangkalnya. Tak tahu harus berawal dari mana.

Di mana penamu. Menulis melalui pikiran kini seperti mengukir di atas air. Tapaknya hanyut di bawa aliran yang bermuara kepada tanya. Dedaun yang menari bermain hujan. Pintu rumah yang belum sempat ditutup. Buku-buku berserak di atas meja, lampu padam, memaksa mendengar suara rintik membisik gelisahnya. Gadis yang hanya memperlihatkan punggungnya, lalu menoleh ke kiri, mencari tangan yang biasa ia genggam. Kau menjadikan senja itu sebagai outline yang akan kau abadikan melalui tulisan. Namun, di mana penamu?

Di mana penamu. Mulai mencari dibawah cangkir yang membentuk lingkaran sesaat gelas panas terangkat. Kau memilih untuk menyeruputnya sesaat, ketimbang memperhatikan basah kopi yang membentuk lingkaran di atas piring kecil cangkir. Manis, bukan.

Di mana penamu. Tergerak untuk menulis sebuah tulisan?

Sudah terlalu lama pena mengering tintanya. Ia tak berayun, terbujur kaku di samping kaki meja menghadap timur laut. Pena yang membentuk aksara, tersulap menjadi alinea. Menggagas ide anyar yang dirasa belum pernah dilakukan sebelumnya. Seperti, adakah yang menjilat sisa kopi di atas piring kecil yang membentuk lingkaran. Adakah yang benar-benar baru di bawah matahari.

Di mana penamu. Sekali pun adalah jemari yang mencari topik tren pada twitter. Atau menepi di Jalan Solo untuk menuliskan diantarakata baju yang bercerita, “Hidup kadang tidak memberikan apa yang kau mau, bukan berarti kau tidak layak mendapatkannya, melainkan lantaran kau layak mendapat lebih banyak.” Atau slogan, “Utamakan Bahasa Indonesia”

Di mana penamu. Apa yang berpendar pada alam pikiran.

Suara Dua

aldiantara.kata

Kau mengiringi nyanyianku dengan lembut. Suara agak melengking sembari menerka-nerka lirik acakku. Aku bernyanyi mengeping sepi.

Kita bertanya mengenai jalan menuju pesisir. Mengapa kepada alam, jalan yang jauh, kita berencana habiskan waktu. Apa tidak kepada kafe-kafe, jarak yang dekat, kita duduk berbagi cerita.

“Tergantung ceritanya.” Jawabmu.

Apa ada tempat-tempat yang layak menjadi penanda suatu kesedihan kala diri yang tak beranjak dari rasa khawatir. Tak akan dikunjungi lagi. Namun kau menjawab, apa ada suatu tempat yang bebas dari cerita dan peristiwa. Tempat-tempat memang bebas nilai. Namun ingatan para pengunjung kerap meninggalkan bekas yang abstrak.

Jalan jauh menuju pantai sepi dari pemukiman. Nyiur hijau kelapa, sisi-sisi bukit yang sunyi, angin kuat laut selatan.

“Nyanyikan aku sebuah lagu.” Pintamu.

Kau mengiringi dengan suara dua. Terkadang kita meminta angin untuk menjadi instrumennya. Atau suara klakson-klakson kendaraan dengan intonasi yang tak ramah, dim lampu pemeriah malam. Bertukar lagu-lagu pada penghujung tahun yang kerap diputar.

Tiba-tiba seseorang bernyanyi nada perlahan. Suara dua tiba menyempurnakan.

Jangan-Jangan

aldiantara.kata

Jangan-jangan “pengetahuan” adalah seburuk-buruknya penemuan. Tidak memberikan pilihan ketiga dari dua yang baru ditemukan. Pilihan ketiga lahir dari tangan kearoganan yang memecah-belah.

Jangan-jangan “pendidikan” adalah jerat pengekang yang kejam. Stereotipe yang menjadi tinta berwarna tegas yang menuntut. Manusia dipaksa memilih jalan yang tersedia, yang ternyata bukan minatnya. Apa dengan tidak memilih adalah pilihan yang buruk? Memang kenapa bila aku jurusan kesehatan sementara aku tak bisa jadi dokter? Bila aku jurusan agama sementara aku tak berkenan menjadi pengkhotbah? Bila aku jurusan pendidikan sementara aku tak berkenan menjadi guru di institusi? Mengekang dan menjerat. Menuntut.

Fiktif

aldiantara.kata

Bila dengan cerita fiktif, keadaan akan menjadi membaik, maka apa yang kusaksikan media streaming, adalah kefiktifan. Biar menjadi cermin diri yang tak nyata. Agar tak menjadi iri. Kemudian tersadar. Bahwa aku sendiri yang akan menjalani kehidupan ini. Tanpa harus menjadi mereka.

Mereka tidak ada. Meski dengan unggahan-unggahan yang baru. Menjadi tontonan. Begitu pula mereka menilai, imaji-imajiku yang fiktif. Liar.

Atraksi Sembur Api

aldiantara.kata

Atraksi sembur api di lampu merah. Segmen ketiga setelah manusia silver dan boneka mampang. Manusia silver di bawah terik panas dan deras hujan. Sebagian berwarna silver, kulihat masih berbaju merah. Cekikik bergerombol di bawah jembatan janti mengabai dingin. Boneka mampang gilirannya melepas tutup kepala lalu membakar rokok.

Si atraksi api? Apa? Saban pagi digoda hujan. Mereka hanya dibekali mereguk dan menyembur api. Tanpa sedikit pengetahuan pun tentang cuaca mendung dan jadwal hujan kapan tiba. Api akan padam, atraksi takkan asik lagi.

Langit beratraksi api. Basyar berhamburan. Abu vulkanik tinggalkan duka. Lantas siapa yang menyembur hujan. Beratraksi berpura melawan api dari awang-awang.

Kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperbudak jabatan – Iwan Fals, Bongkar

Suara Untuk Indonesia Bebas Kusta

aldiantara.kata

Penyintas Kusta Bisa Sembuh!

“Suara Untuk Indonesia Bebas Kusta”. Slogan tersebut tertulis pada baju yang digunakan Rizal Wijaya ketika memandu Talkshow Ruang Publik KBR yang kusimak melalui kanal YouTube KBR. Acara tersebut diselenggarakan pada tanggal 20 Desember 2021 yang mengundang narasumber Dr. dr. Sri Linuwih Susetyo, SpKK (K) selaku Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen (Kusta) Indonesia PERDOSKI serta Dulamin selaku Ketua Kelompok Perawatan Diri (KPD) Kec. Astanajapura Cirebon.

Tema acara ini menarik, yaitu, “Yuk, Cegah Disabilitas Karena Kusta!”. Tanda seru yang menandai akhir tema tersebut menandakan penyakit tersebut perlu mendapat perhatian khusus. Upaya penanganan penyakit kusta memang mendapat tantangan tersendiri mengingat stigma tinggi yang diarahkan masyarakat kepada penyintas. Bahkan sebagian masyarakat ada yang menyebut kusta sebagai penyakit kutukan. Dilansir dari blog Kementerian Kesehatan, “kusta merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang menyerang kulit, saraf tepi, jaringan dan organ tubuh lain (kecuali otak) dan menimbulkan kecacatan atau disabilitas.”

Penyakit kusta dapat disembuhkan. Namun fakta tersebut berhadapan dengan realita di lapangan berdasarkan survei terkait banyaknya diskriminasi yang dialami penderita kusta baik di lingkungan keluarga, maupun di sarana dan pelayanan publik, seperti dipisahkan dari pasangan (diceraikan), dikeluarkan atau tidak diterima di pekerjaan, ditolak di sekolah, tempat makan, tempat ibadah, pelayanan kesehatan, dan fasilitas umum lainnya.

Hal-hal tersebut pada faktanya seringkali menghambat penemuan kasus kusta secara dini, pengobatan penyintas, serta penanganan permasalahan medis yang dialami oleh penderita maupun orang yang pernah mengalami kusta. Upaya menghilangkan stigma tersebut tentu membutuhkan komitmen dan kesepahaman baik dari penderita maupun masyarakat. Penyakit kusta kiranya perlu mendapat perhatian khusus, sebab bagi para penyintas penyakit ini, dalam proses penyembuhannya, perlu konsumsi obat yang tidak bisa tertinggal barang sehari dalam jangka waktu yang cukup lama. Sementara itu, kondisi saat ini perhatian medis masih terfokus dalam penanganan Covid-19. dr. Udeng dari pihak organisasi NLR, menjelaskan bahwa pemeriksaan kusta harus dilihat secara langsung oleh dokter atau pihak medis untuk memastikan apakah seseorang terkena kusta atau tidak. Adapun melalui telemedisin hanyalah upaya membantu saja. Telemedisin hanya membantu mengarahkan, selebihnya perlu pemeriksaan lebih lanjut dengan diperiksa dengan kapas, gangguan fungsi saraf, dan lain-lain.

Selanjutnya, setelah menyimak Talkshow Ruang Publik KBR, penulis merasa tepat kiranya Ruang Publik KBR mengundang kedua narasumber sebagaimana tersebut di atas. Narasumber Sri Linuwih mewakili pihak dokter yang menangani penyakit kusta, sementara Dulamin mewakili penyintas dan yang mengetahui kurang lebih keadaan di lapangan terkait kondisi para penyintas.

Cerita Dulamin sangat menarik!

Cerita menarik Dulamin justru diketengahkan setelah obrolan begitu mengalir. Dulamin bukan sekedar seorang yang mewakili dari Kelompok  Perawatan Diri (KPD) terhadap penyakit kusta, melainkan dirinya sendiri merupakan seorang penyintas kusta. Bahkan ketika beliau sudah berusia 35 tahun dan memiliki anak. Hal ini bukan soal keterlambatan dalam pemeriksaan ke dokter. Ketika Dulamin memeriksakan diri ke dokter, justru dokter tidak melihat apa yang dikeluhkan Dulamin sebagai penyakit kusta. Namun setelah beberapa tahun barulah diketahui bahwa apa yang dideritanya merupakan penyakit kusta.

Penulis menangkap bahan refleksi yang bisa diambil adalah bahwa Dulamin menjadi jembatan penghubung antara pengetahuan medis dirinya sebagai penyintas dalam rangka memberikan edukasi penyintas lain agar dapat dengan telaten merawat dan mengobati luka akibat penyakit kusta yang dideritanya agar nampak bersih dan tidak menjijikan. Dulamin juga dalam Talkshow menceritakan dirinya yang mengedukasi para penyintas (sekitar 20 penyintas) agar menyesuaikan perilaku hidup agar penyakitnya tidak menular kepada orang lain. Misal Dulamin mengatakan bahwa ketika tangannya yang terkena kusta, maka ketika hendak mengambil sesuatu, hendaknya menggunakan sarung tangan.

dr. Sri Linuwih menjelaskan bahwa meskipun indikasi penyakit kusta mengarah kepada disabilitas, namun hal ini bisa dicegah dengan mengedukasi para penyintas. dr. Sri Linuwih menjelaskan bahwa Penyakit kusta dapat mengarah pada disabilitas lantaran kuman-kuman dari penyakit ini menyerang kepada saraf, hal ini yang menyebabkan mati rasa dan tidak disadari, pada akhirnya mengarah kepada cacat. Beliau juga menganjurkan agar segera memeriksakan ke dokter ketika menemukan bercak merah atau putih pada bagian kulit, satu atau banyak, atau ketika keadaan mati rasa. Maka hendaknya segera memeriksakan ke dokter, baik umum atau spesialis agar segera dipastikan apakah hal tersebut indikasi kepada penyakit kusta atau bukan. Adapun gejala bercak-bercak hingga cacat membutuhkan beberapa tahun. Sehingga sebelum terjadi disabilitas, penting untuk segera memeriksakan diri ketika menemukan gejala-gejala penyakit kusta tersebut.

Pentingnya Dukungan Terhadap Penyintas Kusta!

Tidak ada seorang pun manusia kiranya yang berencana untuk mendapatkan penyakit. Dengan demikian, seorang penderita suatu penyakit pada dasarnya merupakan ujian kehidupan. Namun, apa jadinya bila seorang penyintas yang bertekad untuk sembuh justru mendapat stigma negatif hingga perlakuan diskriminasi dari sosialnya. Penyakit kusta bisa disembuhkan! Namun demikian, upaya ini perlu didukung oleh semua pihak. Selain dirinya sendiri agar bertekad untuk sembuh, terutama keluarga harus memberi dukungan secara penuh. Sementara itu, kesadaran untuk mengedukasi penyintas kusta, sebagaimana yang dilakukan oleh Dulamin, sangat penting semangatnya untuk ditularkan. Edukasi dan dedikasi yang ia berikan, hal ini sedikit banyak tentu sebagai bentuk upaya mengentaskan stigma negatif sebagian masyarakat yang belum tercerahkan perihal penyakit kusta. Ayo, Indonesia bebas kusta. Penyakit Kusta bisa disembuhkan!

Camilan Tiga Buah

aldiantara.kata

Apa beda antara emosi tersirat yang tertuang dalam bait puisi, dengan puisi emosional yang tertahan pada kata-katanya. Dalam bait-bait, di sana berada ke“Sial, Ah, dan Anjing”an. Namun juga di sana ada bait-bait tanpa tanda seru, sepi tanda tanya, seperti mengutuk kekejaman terhadap korban HAM yang tak kunjung mendapat keadilan negerinya. Seperti puisi-puisi Sapardi yang bercerita mengenai Marsinah dalam Ayat-Ayat Api.

Camilan tiga buah. termakan dan meremah. Dengan cara apa kau memungutinya. Tercecer pada hari ini. Remah lain pada malam nanti. Remah potongan besar pada tahun depan? Remah-remah lain berada di bus malam menuju perbatasan kota. Sesaat setelah mendengar lagu musim penghujan yang selalu diputar berulang.

Lagu yang didengar pada musim penghujan. Bait puisi yang terngiang. Sirna. Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa seorang pun dari kita mampu menahannya.

Souvenir

aldiantara.kata

Cinta seharusnya tak dibicarakan, Juwita
tetapi kau dengarkan
Dari dada retak seorang penyair, cinta meneriakkan namamu.

-Mohammad Ali R, “Teriak Cinta”

Akhirnya, memiliki waktu juga. Membaca puisi, tanpa dikejar atau mengejar deadline tugas yang tak kian surut. Apakah waktu benar-benar bisa dimiliki. Mu yang berlari. Ku yang diburu atau memburu.

Seberapa tahan membaca sebuah puisi hingga tuntas. Dari sekian upaya menyerah dalami makna.

Pun jika hanya membaca puisi-puisi souvenir. Puisi tidaklah hanya. Ia adalah jelmaan kerumitan kehidupan manusia yang disampai secara indah, bahkan sekali pun kelam. Puisi tidaklah cuma. Puisi paduan ragam indera yang disampai melalui aksara. Pun jika membaca puisi-puisi souvenir. Puisi bukanlah pun. Ia adalah aksara-aksara pembawa suatu pesan penyair dalam lingkup tempat dan zamannya.

Ya, aku sedang membaca puisi souvenir. Tanpa hanya, cuma, dan pun.

Penyair menahan waktu. Ia menuliskan tempat tinggal dan tanggal setelah bait terakhir. Jejak di mana penyair merebahkan aksara-aksaranya. Meski bukan sebagai nama jalan. Namun sebagai jelmaan ingatan yang sangat pribadi. Melibat indera penglihat, pendengar, perasa.

Seperti manuskrip yang akan dikenang tiga windu mendatang. Tercecer. Bahkan puisi-puisi souvenir tak membutuhkan ISBN. Dengan ikhlas bercerita. Entah telah berapa gelas kopi yang telah dihabiskan. Gelas kecil minuman yang tak lebih memabukkan ketimbang kecamuk alam pikirannya. Atau sesi bercinta yang tak membutuhkan jeda.

“Sudahlah. Kau membual seperti politisi. Cepat ceritakan puisi-puisi di dalamnya.” Kau tak sabar hendak kubacakan.

Puisi Mohammad Ali R, Wajah Temaram.

Sayup-sayup wajah sore hampiri beranda
Senja perlahan melambaikan siluet
Angin sepoi menggoyang barisan padi
Temaram laksana keredupan hati

Di bawah lampu-lampu neon kedai kopi
Sepi seakan tak terbendung lagi
Kibarkan bendera tentang malam
Kau menjelma secarik puisi kesepian

Aku dengan sisa-sisa rindu yang kau telantarkan
Merenggut makna atas kemerdekaan
Tak gentar aku bak darah juang
Meleleh di bawah kumandang adzan

Sisa ampas kopi selalu tersia-siakan
Meratapi siksa tuan penikmat
Kau ingin datang
Atau, sebatas menjadi bayangan.

Bantul, 25 Maret 2018

Kau menyeka mata. Barista mulai bersiap-siap close order. Suara kendaraan terparkir berhambur pergi beralih. Ada yang pergi menuju bulan. Atau bersarang pada dahan pohon. Mencari kunang-kunang, atau tongeret yang terenggut habitatnya. Polisi menyisir kedai-kedai kopi memberi suplai yang kurang asupan tembakau. Mereka berteriak, “Sastra-sastra koran mulai membosankan.”

Puisi Mohammad Ali R, Kisah

Baru saja aku pergi meninggalkan senyummu
Aku bersaksi atas keindahannya
Aku ingin waktu yang kekal
Diam tak berderak
Ketika aku tiada,
kau tetap indah,
bahkan selamanya
Tak jadi masalah,
Aku tertimbun kisah.

Yogyakarta, 02 Januari 2019

Kau malah menguap. Namun tetiba panik. Petrikor menyeruak. Jemuran katamu belum sempat dibakar. Tinggalkan noda darah kala membunuh sepi. Aku menenangkan. Sesekali biarkan hujan gemas lantaran ada yang tak bisa ia padamkan. Ada yang tak bisa dikendalikan, termasuk sirine ambulans yang kini mulai terdengar nyaring bersahutan.

“Bagaimana bila kita melanjutkan membaca puisi ini di atas sapi?” tawarku.

Kau menolak. Aku menuntun sapi sendirian akhirnya. Kau malah digendong monyet Kaliurang yang kerap mengambil mendoan dan meminum susu di kafe Warung Ijo.

Lalu sampailah kita di Jalan Karbala. Matamu tertuju pada buku puisi souvenir, alamat memintaku membacakan puisi lagi.

Puisi Mohammad Ali R, Getarmu

Lihatlah kemari,,,!
Kau merasakannya, bukan?
Semuanya abadi menjadi kata-kata
Ada namamu, bersemayam di sini

Aku hanya tak ingin jatuh cinta
Ada luka yang sama,
Perih yang sama
Keduanya menyayat habis
Enyahlah aku.

LKIs, 23 Oktober 2018

Jaswadi-jaswadi sisa berserak di Jalan Baru. “Mengapa?” tanyamu. Rahim enggan dulu dibuahi. Apa karena takut bakal calon menjadi aparat penutup jalan menjelang tahun baru, atau menjadi pemberontak yang akan ditembak mati.

Namun kali ini kita berdua melewati lampu merah. Jalan kian sempit, mobil terparkir sembarang menghalang bahu jalan. Ditambah sirine bukan ambulan. Pengiring mobil mewah. Bus-bus trans harus menepi, membawa banyak penumpang. Harus mengalah menebalkan dada yang tabah.

Melalui spion yang terbuat dari bintang jatuh, kau sedang mengamati antologi puisi souvenir itu. berjudul, “Kau” ilustrasi cover karya Chocohanis, memegang sebatang rokok dengan asapnya yang mengandung ragam tragedi manusia.

Puisi Mohammad Ali R, Orang Beragama

Orang beragama itu
Layaknya orang ngopi, lhoo
Boleh tidak suka kopi orang lain
Tapi, hanya berhak kritis atas kopinya sendiri

Orang beragama itu
Layaknya orang ngopi, lhoo
Boleh memesan rasa apa saja
Tapi, tak berhak memaksakan rasa yang ada

“Wah. Ternyata tidak hanya soal puisi cinta.” Ujarmu.

Aku tak bergeming.

“Orang bersenggama itu…” Imbuhmu dengan ujaran yang menggantung.

“Apa?”

Kau tak bergeming.

Kau malah mengalihkan tak melanjutkan gumamanmu sendiri. “Bahkan kopi merupakan media yang netral untuk membahas apa pun di kota ini. Tidak hanya soal cinta, bahkan soal agama. Mungkin juga kopi begitu tabah mendengarkan apa pun dari penikmatnya. Dengarkan puisi-puisi Ali yang lain perihal cinta.”

Kopi yang seharusnya sudah terminum, tak terminum.
Terus-terusan aku mengaduknya, ingin kutemukan bayangan meski tak serupa denganmu.

Oooh. Ujaran kita memang hanya jeda membaca puisi itu. Tapi tak lain adalah kekaguman. Kedalaman. Kena!

Lalu, kita beranjak ke dalam api. Mengetuk pintu untuk bersembunyi dari dingin malam. aku bercerita kepadamu bahwa puisi souvenir juga berasal dari cecer status WhatsApp. Banyak orang berkata-kata, namun sebagian enggan menamainya puisi.

Puisi Hasvirah Hasyim N, Dua Centang Biru

Malam itu aku tak dapat tidur, Yono
di langit kamar tikus-tikus riuh sekali
seperti sedang turnamen futsal

Kadang juga aku terjaga
sebab sekitarku
seperti banyak sekali makhluk halus yang
menjawil-jawil
semakin kupejamkan mata
semakin nyata kurasa bergidik

Di lain waktu
kudapati mataku terang sekali
kutuduh kopilah penyebabnya
aku kelebihan kafein, Yono
dadaku terus berdebar

Butuh bermalam-malam
untuk dapati diriku tiba pada kesadaran
agar berhenti menyalahkan apa pun
telah sampai pemahamanku
bahwa yang menghantuiku tak lebih
karena rinduku padamu

Bagaimana kabarmu?
Bila sempat tolong balas satu saja dari sekian pesanku yang masuk di WhatsApp-mu

“Atau… syahdunya puisi tanpa judul.” Kau bersiap membacakan dengan teduh.

-Puisi Dyah Putri M

Sayang…
Aku ingin menjadi ‘Rumah’
tempatmu berpulang
dari letihnya setiap aktivitasmu

—2 Agustus 2019

“Kau yakin malam ini kita akan tidur di dalam api?” Tanyaku, melihatmu yang sudah berkali-kali menguap.

“Ini tidak akan lama. Dengarkan puisi-puisi singkat M. Saifullah…”

Saat malam
rindu itu jadi dogma, Siti
Tidak usah kamu lawan
Izinkan dia menang

—5 September 2018

Seandainya, aku bisa selalu duduk di sini
Di sampingmu, Siti
Buat apa harus menunggu kematian
Untuk sampai ke surga?

—21 April 2019

Beruntungnya diri kita, Kekasih. Bisa sedikit mendapat bocoran rahasia dari kota yang menjadi klasik dari syair-syair yang tumbuh sebagai daun gugur. Tak banyak orang berkesempatan membacanya. Apalagi memahaminya. Sebab puisi souvenir tak diterbitkan. Ia hanya diberikan Penerbit Contradixie kepada pelanggan-pelanggannya. Beruntung!