Bulan: Juni 2022

Cahaya Bulan

aldiantara.kata

Setiba-tibanya rindu bermandikan cahaya bulan. Terangnya kini tergantikan gemerlap kota. Ia ketika padam, baru terlihat terangnya. Maka kapan suatu sesaat yang dikatakan nanti, mengunjungi kembali pasak-pasak bumi. Mencecap kembali wangi tanah, serta melihat kota sebagai kunang-kunang cerminan langit saat bertabur bintang. Sehening-heningnya, deru nafas memburu kepada puncak. Lalu turun dengan menabung udara-udara gunung, di bilik paru yang tersedia. Wangi belerang, beberapa daun yang luruh tak sengaja untuk mau gugur. Sisanya terjaga pada alam masing-masing. Mengucap permisi, raut kepenatanku diterima alam. Meminta sedikit minum kepada mata air. Tidakkah engkau juga rindu?

Akan Kuberi Jalan Pulang

Martalia A.

Menangisimu adalah kebodohan yang tak mampu kutepis.

Seiring berlalunya waktu, dunia masih belum bisa mengabaikan ingatanku tentangmu.

Lebih tepatnya, tentang kalian yang berani berpijak pada bumi yang harusnya tak pernah keliru.

Sesekali harus kuingat bagaimana pedih rasa ini menggenggam jemari tanganmu.

Saat kau dengan dingin menatap mataku, tapi justru tersenyum hangat padanya.

Semua alasan yang keluar dari mulutmu bahkan berubah dari kepercayaan menjadi keterabaian.

Apalagi bila harus kembali ku terusik pada suaramu yang memekik di depanku, menggelegar bagai kilat yang menyambar tiap kenangan manis kita, menghantui tiap ruang yang ingin sekali kubakar kali ini.

Beberapa kali harus aku akui, aku mencintaimu teramat dalam, hingga akhirnya aku membencimu teramat jauh.

Kebersamaan yang kita bangun dari pagi hingga petang, dari petang hingga siang, dari siang hingga senja berakhir, berulang-ulang dan yang nampak dari akhir semua ini hanyalah tentangnya.

Awalnya aku tak menyangka, bahwa pergi berlalu dari kesakitan ini adalah pilihan yang tepat.

Terlebih, masa-masa awal aku harus berterima kasih pada hujan, yang membawa semua rinduku padamu mengalir pergi.

Masa yang tak ingin lagi aku alami.
Semua hal tentangmu dalam diri ini hanyalah sebongkah trauma yang pelan-pelan akan kuobati.

Tapi sosokmu masih tetap utuh berdiri di sana, berpelukan mesra dengan seonggok raga tak punya rasa.

Memendam semua pemandangan itu dengan kedua mata ini bukanlah hal yang bisa aku lakukan.

Maka pergilah dari hidupku dan berbahagialah jika itu maumu.

Desah nafasmu yang masih bisa kudengar, teduhnya bola matamu berwarna cokelat yang masih bisa kutatap, dua tangan kuat yang biasa memelukku hangat, semua hal tentangmu yang masih bisa kurasakan bekasnya, bawa semua itu pergi bersama semua pahit yang pernah kau beri.

Kau tak perlu kesulitan lagi karena aku dengan senang hati akan memberimu jalan untuk pergi.

Untuk pulang pada tubuh yang katamu jauh lebih baik dari semua indra yang kupunya.

Pada jemari yang katamu lebih nyaman digenggam.

Pada senyum yang katamu lebih manis dikecup.

Pada bahu yang katamu lebih indah direngkuh.

Bukankah pulang adalah satu-satunya jalan yang harus kau pilih? Karena dibandingkan harus mempertimbangkan lagi untuk berjumpa denganmu, aku lebih memilih menjauh dan menghancurkan semua yang tersisa.

Jika akhirnya pada suatu titik kau pikir harus kembali karena tersesat, maka yang bisa kukatakan padamu adalah teruslah berjalan.

Meski entah kau akan bertemu apa dan siapa.

Meski akan bagaimana ujung duniamu nantinya.

Meski aku tak yakin masihkah ada dia yang menunggu di sana.

Meski mungkin aku bisa saja mengejarmu,

Tapi bagiku… memberimu jalan pulang akan lebih membahagiakanku.