Bulan: Februari 2022

Jalan Dewi Sartika

aldiantara.kata

Jalan Dewi Sartika. Salak anjing kepada orang-orang asing. Lampu-lampu yang pernah padam. Kereta malam memecah kesunyian. Ibu paruh baya yang julid. Menanyakanku pergi kemana. “Dasar anak malam. Pulang selalu larut.”
Lagu-lagu pop yang meramaikan keadaan. Jalan Dewi Sartika tak pernah tidur. Apalagi bertanya mengenai penamaannya.
Lalu aku pamit, sembari mengeruk malam-malam yang pernah tertinggal di sana. Akan selalu teringat tentang dinginnya pagi. Serta perasaan yang selalu merasa asing.

Kesugihan

aldiantara.kata

Seketika, melihat alir sungai Serayu. Jembatan yang menjadi penopang batas setiap ujungnya. Kota ini, yang bernama. Wilayah ini yang miliki fajar dan senja. Tempat ini, yang ramai dan sepi. Subur dan luas.

Di Kesugihan, bagaimana cara jelaskan sawah yang membentang. Pada ufuk yang buram, cerobong asap pabrik mengepul menafkahi langit.

Ada padi-padi itu tumbuh. Banyak petani-petani menyulap lahan menjadi pangan.

Tamu itu datang, mengetuk pintu gaib kota. Mendengarkan satu sisa lagu. Lagu dengan lirik yang sama. Pernah menjadi lagu kesukaan. Diselingi dengan percakapan yang asing, rencana yang menguap menjelang pulang.

Kota ini, sepertinya tak membutuhkan kemajuan untuk menjadi asri dan otentik. Ia juga tak perlu tercapture melalui gambar atau kata-kata.

Seperti kebisuan, aku lupa caranya menyapa keadaan. Apa nanti akan mengubah jalannya sejarah. Dikau pernah kemari? Melihat rumah-rumah sebagaimana aku menatap? Mengingatkan kepada masa-masa yang lalu?

Aku hendak menceritakan, bahwa pepohonan meninggi mendekati matahari, meski takkan sampai, ia akan mengering dan gugur, lalu menjadi puisi.

Bagaimana dengan mendoan panas yang dimakan saat perjalanan malam melewati terminal Adipala. Soto Sokaraja di alun-alun yang rela menunggu antri.

Gerimis mengundang kabut, Slarang yang dingin dilepas malam yang menjadikannya liar.

Dahulu kau berkata apa, aku harus menyimpan tanda yang akan kau singgahi. Aku sedemikian sibuk meraba tanah, apa ini bekas jejakmu?

Konon terdapat dua nasib bagi kata-kata. Ia akan terkubur dan menjadi kembang ingatan. Ataukah ia menjadi pesan yang diamini yang lain. Namun aku memilih kata-kata yang terasing dari nasib. Bersembunyi seperti ranting tipis yang enggan dihinggapi burung pagi.

Belum kutemukan titik pada akhir cerita. Zaman menjadi seperti kereta yang akan tiba membawaku berlari. Kini sudah tiba. Asinglah kata-kata. Cerita.

Lonceng Angin

aldiantara.kata

Kita melihat lonceng angin, di sela obrolan. Gemerincing menyambut gelap langit. Pria-pria tua bersepeda berdua dengan topi ayam jago. Kopi tubruk yang sudah hilang panasnya. Candi bangunan lama berdiri ditinggal waktu.

Lalu, drainase di tengah kota yang luput dari perhatian. Air meluap menjadi banjir kecil di pinggir. Terabai sebelum menjadi bah. Kicau-kicau di perkota adalah klakson yang saling bersahutan. Pekerja berjejer di lampu merah. Adakah cinta dari para pekerja itu? Dari jarak yang kupandang dengan mata melankolis ini.

Banyak diksi yang telah menjadi kamus. Lupa cara merangkai kata. Apa sudah tak rindu, atau ia telah membatu, hingga sulit berkata-kata?

Terbang

Martalia A.

Sebuah jeda, mengulurkan tangan
Membungkuk
Menengadahkan tangan
Mengajak menari sekali lagi
Dalam musik yang pernah didengar bersama

Sebuah jeda, menyapa tanpa rasa malu
Menampar satu per satu ketangguhan
Mendobrak setiap inci perlawanan
Kuatnya imun dibentuk, dari perjuangan melelahkan

Ada yang terpaku, tak percaya
Menatap nanar pelukan yang tak lagi dirindukan
Menolak mengenang masa-masa itu

Jauh di lubuk hati
Seorang tangguh sedang berperang melawan masa lalu
Berdiri, jadi pahlawan bagi diri sendiri
Membingkai yang lalu, membantingnya setengah mati

Lalu dia berdiri tegar
Berusaha menahan yang pernah jadi alang
Mengobati diri, membalutnya
Menguasai hati, sebagaimana dia layak dicipta

Jika bertanya, bolehkah angin berembus kembali?
Tidak
Tak ada daun gugur yang melayang lagi
Tak ada debu yang beterbangan lagi
Yang ada aku yang terbang
Menerjangmu
Menghempasmu
Menarik semua rapuh
Menjahitnya

Hebatnya
Tak ada lagi tangan yang mengganggu
Kaki yang mendesak
Napas yang terengah
Bibir yang mengecap-kecap
Seolah semua lambat saling beradu

Tenangnya
Jiwa yang dulunya seserpih abu
Tak lagi tangan terulur mengemis waktu
Semua menuju kehidupan baru
Tanpa dia, yang dengan congkaknya berlalu
Dan hadir tanpa tahu malu

Santunnya
Angin yang meniup tanpa banyak ikut campur
Tanpa meresahkan
Tanpa mengingatkan
Karena hati yang ingin terbang, harus tetap terbang
Melawan nasib, memburu jangkar, melabuhkannya pada … perasaan yang tepat.