Bulan: November 2021

Hujan Di Bulan November

Oleh: Azki Khikmatiar

Aku selalu suka hujan
yang turun di bulan november
Jatuh mengalir memenuhi alam ingatan
Rinai memberai rentetan kenangan
masa lalu yang telah lama membatu
Seperti mesin waktu;
Seakan membawamu kembali padaku
Melewati harihari bersama
Berbagi canda tawa bahagia
Menukar rindu dengan temu
Percakapan tanpa kesimpulan
Menghitung rintik hujan
Dan sesekali ada pertengkaran!

Aku selalu suka hujan
yang turun di bulan november
Mengingat yang seharusnya dilupakan
Melupakan yang seharusnya diingat
Aku mengingatmu lewat puisi
sedang kau mengenalku lewat
hujan di pagi hari, katamu!
Tapi, bukankah kau benci puisi?
Bukankah aku benci hujan di pagi hari?
Ah! Sepertinya kau lupa bawa cinta
dan benci adalah saudara kandung,
katamu; sekali lagi!

Aku selalu suka hujan
yang turun di bulan november
Udaranya membawa aroma basah
Menghapuskan segala gelisah
Hingga pada akhirnya hujan mereda
Puingpuing kenangan menjelma
air mata; merintih menahan perih
Beradu kesedihan dalam kesunyian
Merubah lupa menjadi duka yang
sangat sukar untuk kembali dieja
Ah sudahlah!
Nyatanya, kau telah tiada!

Ruang Hampa, 25 November 2021

Meniru Juru Masak

aldiantara.kata

“Al, kau tau, aku bisa menirukan suara anjing. Kata beberapa orang, ‘kok mirip sekali’”.

“Coba, bagaimana?”

“Entahlah, sekarang aku ragu apa aku masih bisa menirukan. Kalo kamu coba bagaimana bila menirukan suara anjing?”

Aku memberinya alasan, aku tak bisa.

“Coba, ya. Grrrrr. Guukk. Guukk.”

Tertawa.

Hidangan masakan yang lezat. Warung makan yang terletak pada blusuk gang. Mengundang ramai orang. Menukarnya dengan mata uang. Tanpa sekalipun memuji, kepada yang tak berharap. Di mana juru masak?

Tertawalah dan Nikmati Hidup Ini

aldiantara.kata

Buku Paulo Coelho kali ini berjudul, “Saat-Saat Penuh Inspirasi” Jakarta: Gramedia, 2015. Demikianlah seorang penulis besar, seringkali menginspirasi pembacanya tidak mesti dengan sebundel novel yang dikarang secara demikian brilian dan menggugah. Buku ini merupakan kumpulan tweet Paulo Coelho yang dibukukan!

Namun tidak hanya kumpulan tweet-nya saja yang inspiratif, hal keren juga berikut ilustrasi-ilustrasi dalam buku ini yang membantu kita memahami tweet. Ilustrasi di dalamnya dibuat oleh Joong Hwan Hang.

Ah, aku tidak tahu apakah apa yang aku lakukan sesuatu yang melanggar hukum. Namun berikut ini merupakan di antara tweet mengena bagiku ketika membacanya hingga akhir. Sama?

Bagian I: Cinta Tak Pernah Berubah. Manusialah yang Berubah

  1. Lebih baik pernah mencintai dan kehilangan, daripada tak pernah mencintai.
  2. Cinta adalah halusinogen paling dahsyat di dunia. Cinta membuat kita melihat dan mendengar hal-hal yang tidak nyata.
  3. Jalanilah hidup tanpa penyesalan, mencintailah tanpa perlu menjelaskan.
  4. Jangan takut menutup lembaran lama. Kehidupan akan membantumu membuka lembaran baru.

Bagian II: Hindari kata-kata ini, “Suatu hari nanti”, “mungkin”, dan “Seandainya”.

  1. Trend untuk “sempurna dan lebih unggul” telah menjadi disfungsi sosial masa kini.
  2. Dengan menghakimi diri sendiri, kita menyakiti diri sendiri.
  3. Orang-orang hidup hanya untuk menyenangkan orang lain banyak disukai, kecuali oleh dirinya sendiri.
  4. Tidak perlu buku panduan untuk menjadi sukses. Kuncinya adalah orisinalitas.
  5. Orang melihat dunia bukan sebagaimana adanya, tapi sebagaimana diri mereka.
  6. Yakinlah pada jalan yang telah kita pilih, tanpa perlu membuktikan bahwa jalan orang lain keliru.
  7. Jangan melawan orang yang tidak layak menjadi musuhmu.
  8. Waktu bisa menyembuhkan hampir segala sesuatu. Tapi setelah sembuh, kita sudah terlalu tua untuk menikmatinya.

Bagian III: Orang-orang yang selalu patuh dan penurut sangat membosankan

  1. Berapa banyak orang menarik yang kita lewatkan, hanya karena orang tua kita menasihati supaya “jangan bicara pada orang tak dikenal”?
  2.  Kita tak sabar ingin cepat dewasa, lalu menyesal dan merindukan masa kecil kita.
  3. Luangkan waktu sejenak untuk berdoa mengucap syukur. Penderitaan akan berlalu. Sukacita akan bertahan.
  4. Jangan lupa: Kegilaan sesekali membuat hidup lebih berwarna. Orang-orang yang selalu patuh dan penurut sangat membosankan.
  5. Bagiku, tiap-tiap hari ibarat nada musik yang kugunakan untuk menciptakan simfoni kehidupanku.
  6. Waktu yang dinikmati tidak terbuang sia-sia.
  7. Mimpi-mimpi tak mungkin tercapai kalau kita selalu berkata, “Tidak bisa sekarang, saya sedang sibuk.”

Bagian IV: Apa gunanya kebijaksanaan kalau tak bisa diterapkan dalam hidup sehari-hari

  1. Mereka yang telah mengenal kesedihan lebih peka daripada mereka yang tak pernah merasakannya.
  2. Perbuatan baik yang kaulakukan hari ini, akan dilupakan orang besok. Seperti itulah kehidupan. Dan bukan hanya dirimu yang mengalaminya.
  3. Tuhan, bukalah mata kami supaya kami melihat tak ada apa pun yang terjadi secara kebetulan dalam hidup ini.
  4. Jangan menjadi orang yang mencari, menemukan, lalu melarikan diri.
  5. Kata-kata bisa menyakiti, namun mendiamkan juga bisa melukai
  6. Hidup ini singkat, sempatkan diri menyampaikan apa yang selama ini hanya dipendam di dalam hati.
  7. Tertawalah dan nikmati hidup ini
  8. Setelah lama menyetir, baru kusadari bahwa peringatan untuk tidak berhenti di tengah jalan juga berlaku dalam menjalani kehidupan.
  9. Mustahil itu sekadar pendapat.
  10. Ilmu pengetahuan membantu kita membuktikan fakta-fakta, sedangkan intuisi menuntun kita pada penemuan-penemuan.
  11. Kehidupan selalu menunggu sampai terjadi krisis, barulah dia menampakkan diri dalam seluruh kecemerlangannya.
  12. Penemuan-penemuan terjadi saat kita tidak membaca petunjuk-petunjuk yang telah disediakan
  13. Jadilah tuan atas kehendakmu sendiri, dan budak bagi hati nuranimu
  14. Kalau sudah tahu jalur yang harus ditempuh, jangan percaya pada GPS-mu.Rute yang paling singkat adalah yang paling lambat.

Bagian 5: Penderitaan hanyalah sementara. Menyerah berakibat untuk selamanya

  1. Banyak orang takut mengejar mimpi, sebab mereka merasa tidak layak memperolehnya.
  2. Kita memerlukan keberanian untuk menghadapi luka-luka kita dan menyembuhkannya.
  3. Saat kita mengira diri kita sudah siap, ternyata malah sudah terlambat.
  4. Kehidupan mempunyai dua cara untuk menguji tekad kita: 1) dengan tidak terjadi apa-apa; 2) Dengan membuat semuanya terjadi berbarengan.
  5. Saat mengejar apa yang kita cintai dalam hidup ini, jangan mau menerima jawaban “tidak”.
  6. Kesepian, apabila kita terima, adalah anugerah yang akan menuntun kita untuk menemukan tujuan hidup kita.
  7. Takut menderita lebih parah daripada penderitaan itu sendiri.
  8. Orang yang menjalani hidup ini sepenuh-penuhnya, hanya mati satu kali. Orang yang takut, akan mati oleh rasa takutnya hari demi hari.
  9. Banggalah akan bekas-bekas lukamu, sebab semua itu merupakan pengingat bahwa kau mempunyai tekad untuk hidup.

Bagian 6: Penghargaan atas karya kita bukanlah apa yang kita peroleh, melainkan pengalaman yang kita dapatkan.

  1. Dua kesalahan yang mungkin kita lakukan dalam perjalanan: 1) tidak memulai; 2) Tidak menuntaskan
  2. Mimpi-mimpi dan cinta hanyalah kata-kata semata sampai kita memutuskan untuk menjalaninya.
  3. Saat kedua kakimu sudah lelah, berjalanlah dengan hatimu, tetapi janganlah berhenti.
  4. Tekunilah jalanmu. Meski langkah-langkahmu tak pasti, meski seandainya kau tahu kau bisa berbuat lebih baik daripada yang kaulakukan saat ini.
  5. Debar-debar dan rasa cemas dalam bertualang, lebih baik daripada seribu hari yang tenteram damai.
  6. Kalau ingin aman, jadilah orang biasa-biasa saja. Kalau ingin menjadi yang terbaik, bersiap-siap menahan serangan.
  7. Dunia ini berada di tangan orang-orang yang mengambil risiko menjalani mimpi-mimpi mereka.
  8. Saat-saat ajaib Anda adalah hari ini, akankah Anda menghargainya atau melepaskannya begitu saja?
  9. Pergilah lebih jauh daripada rencana semula. Raihlah rembulan. Anda akan terheran-heran sendiri dengan hasilnya.
  10. Jalan itu tercipta setelah Anda memutuskan untuk melangkah

Bagian VII: Hidup ini ibarat memasak, sebelum memilih apa yang kita suka, kita mesti mencicipi dulu semuanya.

  1. Cinta ibarat hujan. Turun tanpa suara, datang tiba-tiba, tapi sanggup membuat sungai meluap.
  2. Para pembenci sesungguhnya adalah pengagum-pengagum yang bingung dan tidak paham mengapa orang-orang menyukai kita.
  3. Ada tiga tahap dalam hidup ini: masa kecil, masa dewasa, dan “kau tampak hebat!”
  4. Zombi adalah orang-orang yang bersama kita, tetapi sibuk sendiri bersama ponselnya.
  5. Air mata baik untuk jiwa, seperti tanaman membutuhkan hujan

Sebatas Bayangan

Martalia A.

Kau berdiri dengan wajah menengadah mentari, seketika jiwaku tersihir oleh terik yang terbaca.
Aku masih di sini, berusaha tidak terpukau, tapi hatiku terlanjur jatuh terlalu dalam
Berusaha mengorek setiap lekuk wajah dan tubuhmu, mencari bagian kosong yang mungkin pantas untuk dipijaki oleh rasa ini.
Terbayang bagaimana kau bertutur begitu lugas, ketika aku bahkan tak sanggup mencerna tiap jeda kata.
Terpikir bagaimana kau membentuk angan, sedang aku hanya mampu terpojok dan terasing dalam bayang-bayang, dan memandang angan-anganmu.
Terlalu berat jikalau aku mendekati setiap tafsir pikiranmu, sedang aku bahkan tak tahu apa itu buku atau sesepele melucu.
Mungkin memang sudah takdirku di sini, bersemayam pada balik bahumu yang kekar
Bersenandung lirih tiap kali kau bernyanyi, tertawa kecil tiap kali kau bercanda, dan memandang kagum tiap kali kau bercerita.
Kenyamanan ini tumbuh mengakar pada tiap sisi diri, terlalu sulit memantaskan hingga mungkin yang terbaik adalah aku berteman dengan lantai dan tanah
Bila kau ingin mencari arah yang benar, aku bisa mencarikan cara terbaik bagaimana sebaiknya kau melangkah.
Meski mungkin, itu bukan langkah yang tepat untuk pesta yang tepat
Sejauh ini di titik aku terpaku, mendengarkan tuturmu tentang bagaimana dunia berseteru, atau ketika alam ini mulai bertingkah.
Kau dengan berbagai pustakamu melegenda, sedang aku hanya mampu tersenyum pada tiap sisi matamu yang tajam.
Tuan…
Aku mengaku… telah tergoda menggapaimu.
Tuan…
Aku tahu, aku hanya bayang-bayangmu.
Aku tahu, aku hanya gelap saat terang dan tiada saat petang.
Dan wujudku memang hanya sebatas.
Sebatas yang memandang, dan sebatas yang terbuang

Lagu Musim Penghujan

aldiantara.kata

Reda-reda musim penghujan adalah gerimis
Dingin-dingin musim kemarau adalah udara yang tetap panas
Panas dingin kerinduan adalah kemarau yang merindukan musim penghujan

Anak-anak yang bermain di lapangan diludahi hujan. Bermain sesekali menyeka basah wajah, gatal mata, serta asin keringat sendiri hampiri tepi lidahnya.

Aku rindu, melihatmu yang menyandarkan kepala, kepada daun jendela. Bola mata yang berwarna cokelat, abaikan aku pemerhati jalan tatapanmu, yang sepi.

Aku masih mencari sunyi. Dengarkan teman yang bercerita perihal yang lain, yang memutar ulang lagu-lagu menjelang tidur. Atau rokok yang masih tersisa setengah.

Temanku, Ombo, bercerita bahwa kehidupan adalah belantara yang tak bisa diterka titik akhirnya. Pria paruh baya, tiba-tiba menceritakan kesendiriannya setelah berpisah dari istri dan anak semata wayang. Seakan memulai lagi kehidupan dari awal. Kembali kepada orang tua, yang menerima anak tanpa syarat. Cerita-ceritanya membuat temanku merasakan kenikmatan rokok seakan saat pertama kali.

I’ve said it too many times and I still stand firm
You get what you put in and people get what they deserve.
Still I ain’t seen mine, no I ain’t seen mine
I’ve been givin’, just ain’t been gettin’

Kid Rock, Only God Knows Why.

Lagu-lagu musim penghujan. Lagu-lagu yang seseorang putar menjelang malam. Dalam reda atau derasnya naung musim penghujan. Titik terang cerita tersimpan. Abadikan sebuah fragmen melalui kata-kata. Kesan mengena yang berbeda dibalik setiap lagu.

Apakah berarti seorang pluviophile? Istilah bagi pecinta hujan. Bisa ya dan tidak. Namun petrikor selalu menjadi petanda tergesa. Agar mencari tempat bernaung. Menemukan lawan bicara atau melanjutkan aktivitas. Atau pikiran yang tak henti dibersamai masa lalu.

Wiper mobil menyeka kaca. Antri kendaraan. Mengganti lagu yang tepat. Turut bernyanyi menebalkan lirik-lirik populer. Atau melodi lagu yang ditunggu-tunggu. Eargasm. Menikmati lagu. Dengan sangat. Ada cerita antara kamu, lagu dan musim penghujan? Boleh aku turut mendengarkan?

Televisi masih menyiarkan berita-berita. Kau tahu bahwa mendengarkan musik adalah kebebasan yang patut disyukuri. Meskipun lagu-lagu musim penghujan tidaklah mesti lagu-lagu populer yang bisa didengar lalui media streaming. Ia juga berarti puisi-puisi yang seorang gubah sebagai upaya mengabadikan waktu.

Taliban membunuh dua tamu pernikahan yang kedapatan mendengarkan musik  bulan Oktober lalu. Lagu penyampai pesan dengan indah nan teduh harus berhadap senjata pembunuh.

Bersyukur di negeri ini aku masih dengan bebas dengarkan lagu.

Sungguh bicara denganmu tentang segala hal yang bukan tentang kita. Selalu bisa membuat semua lebih bersahaja… Malam jangan berlalu. Jangan datang dulu terang. Telah lama kutunggu. Kuingin berdua denganmu.

Payung Teduh, Mari Bercerita.

Yakin tetap tidak mau bercerita? Mengenai kapan terakhir menikmati sebuah lagu. Pesan-pesan terselubung yang membawamu kepada suatu waktu. Ada kalimat yang belum selesai. Diksi yang belum mengena kepada maksud. Outline lisan maupun tulisan yang belum rapi tersusun. Tentang ia yang bersemayam pada permadani ingatan. Nyaman dan tak tersentuh.

Tanyakan kepada gugup bagaimana bertanya melalui mata. Mencuri pandang. Momen yang kerap terlewatkan. Terlalu cepat ucapkan pamit.

Lizzy McAlpine malah sudah duduk di atas meja. Setelah mengetahui aku telah lama menatap jendela menatap langit yang melulu mendung. Ia membantuku berkata, melalui nada pada Pancakes for Dinner.

And what was that song about?
I’ll try to hide the way i feel.
But i’ll just wanna shout.
What do i have to lose right now?
I Wanna eat pancakes for dinner.
I wanna get stuck in your head.
I wanna watch a TV show together
And when we’re under the wheather we can watch it in bed.
I wanna go out on the weekends.
I wanna dress up just to get undressed.
I think that I should tell you this.
In case there is an accident.
And I never see you again.
So please save all your questions for the end.
And maybe I’ll be brave enough by then
”.

Tidak ada ‘pada akhirnya’ pada tulisan ini. Perjalanan baru sebatas tanya kepada koma, belum sampai kepada titik. Barangkali menyembunyikan rasa adalah kepengecutan untuk tidak memilih. Untuk tidak memutuskan.

Kepada, nya, yang membuatku mengejar hingga membutuhkan jeda waktu. Atau, nya, yang zahir menyayangiku, mencemburui.

Kepada, nya, yang mulai mencintai sedari waktu yang menunggu ‘halal’. Atau, nya, yang menemaniku dalam lelah.

Nasib Lampu Tua

aldiantara.kata

Lampu tua yang tak beranjak ganti. Tak menyala. Ia sama seperti tiga dekade lalu. Buka atap besi penutupnya. Siapa tahu masih menyimpan pesan-pesan percakapan lampau. Rahasia-rahasia yang seharusnya tertutup rapat-rapat.

Pagi-pagi pria bertato dengarkan lagu shalawat menjaga tempat wisata. Penangkaran kuda sudah tidak ada pada jogging track yang perlihatkan pemandang Merapi. Seringkali tertutup mendung awan musim penghujan. Taman itu kini ditumbuhi rerumput liar yang tumbuh setinggi genang air banjir ibukota.

Bayi-bayi milenial terlahir cantik rupawan. Terawat baik gizi cukup terpenuhi. Jangan kusam siapa tahu masih kecil sudah komersil. Dapat endorse susu formula. “Masih muda sudah kaya.” Hebat, hebat. Ajarkan banyak hal. Bisa pada banyak bidang.

“Ayo ada ide bisnis apa?” tanya bayi kepada bayi lain di Posyandu.

“Kita jangan cuma bisa tangis dan tawa.” Masih di taman kanak sudah pandai berdagang. Biar cepat mandiri.

“Hebat lho anakku, padahal masih sekolah dasar tingkat awal sudah bisa buat start up.” Banyak bisanya, usia masih muda.

Pada masa ini, tidak sibuk adalah aib. Menikmati waktu adalah kelambanan. Aku mencari penangkaran kuda, yang sudah pindah tempat. Agar membawaku terpacu balap-balap hidup yang memacu adrenalin, katanya itu.

Namun, penjaga wisata yang ada jogging track nya itu, bertato, yang pada paginya dengarkan siraman rohani, yang istrinya sedang hamil sedang duduk menghadap utara itu, berkali-kali bilang kalau penangkaran kuda sudah pindah. Bekasnya ditumbuhi rerumput yang tumbuh dengan ajaib tanpa disadari. Apa dengan berkuda aku dapat menahan laju waktu. Sementara lampu tua sudah tak menyala. Ia pasrah ditinggal waktu yang menjadikannya padam.

Kejuaraan bulutangkis tuan rumah digelar tanpa penonton. “Ayo. Kuatkan lagi doanya.” Warganet benar-benar serius mendoakan negerinya yang terkena smash paceklik.

Spasi Kata

aldiantara.kata

Bapak bilang di dalam kamar ada Ibu sedang berdoa. Kecoa merayap hendak masuki kamar. “Tolong cabut nyawa binatang itu”. Kupukuli, dengan ijuk sapu. Namun tak mati-mati. Berada di dalam ruangan. Di luar banjir menggenangi jendela. Apakah di dalam sedang kuliah? Ini bencana, atau sedang berada di dalam kapal selam. Puing-puing kayu berserak. Apa ada kapal pecah.

Aku terbangun sedikit gelisah. Baju untuk bertemu dipakai arungi kelabu mimpi. Matahari sudah pergi. Aku kira pagi. Buku terjatuh di bawah ranjang. Kuselamatkan ponsel. Ia tidak jatuh. Namun saat kuperiksa tidak ada pesan apa-apa.

Ada telepon.

Aku sengaja tak berpura-pura waras dengan membenarkan suara.

“Kau dari mana?” Tanyanya.

“Mengembara. Menerka makna. Bahkan yang tak dianggap bermakna sekali pun”.

Telepon ditutup. Saksikan berita di layar kaca. Aku membaca spasi di antara kata-kata. Tidak ada yang masuk kepala. Mereka mengoceh pada jarak di antara jiwa. Mimpi seperti spasi di antara runtut rutinitas. Ia bisa kosong, bisa juga terisi kembali revisi. Aku seorang pembaca buku. Namun jenuh dengan kata-kata. Kubaca saja spasi. Menulis spasi selalu mudah.

Pertemuan Sekali Lagi

aldiantara.kata

Bila kamu benar-benar peka, ucapan yang meyakinkan itu dapat diperoleh hanya dengan membaca bahasa mata. Tatapan.

Seorang Ibu paruh baya menceritakan bagaimana ia telah berpisah raga dengan kekasihnya. Beruntung sekali bukan seorang yang dapat mencintai dan ditakdirkan untuk menikah.

Dekat lekat biasanya bekerja bersama membangun sebuah usaha. Tiba-tiba harus bekerja sendiri. Dahulu bila dihinggap bosan, biasanya mereka menjalankan sepeda motor menyusuri jalanan yang padat dari arah timur ke barat.

Mengamati hujan di beranda, yang mulai membasahi kebun, serta lapang tempat anak-anak bermain bola. Bila sudah mulai amat deras, kekasih memintanya untuk masuk ke dalam rumah.

Rekan-rekan datang berbela sungkawa memberondong pertanyaan. Buatnya menceritakan secara berulang kronologi duka. Susah lupa. Meluap memburu temu. Kapan bertemu lagi? Kehidupan bergulir panjang. Waktu melambat. Orang-orang memberi nasihat agar mengingat-ingat keburukannya.

Apakah ketiadaan kekasih dapat membuat pecintanya jatuh cinta sekali lagi?

Ia berjalan sengaja melewati pusara. Membunyikan klakson sebagai sapaan. Saat itu ia merasa kekasihnya hadir memberi jawaban.

Dalam waktu dan ruang yang lain, mereka bertemu. “Kok pergi lama sekali.”

Dihampiri, dipeluknya. Lekat-lekat. Tanpa percakapan.

Aku kini mengerti, ucapan yang meyakinkan itu dia hendak katakan: rindu. Sedalam itu. Sebenarnya.

Jalan Setapak Menuju Mata Air

aldiantara.kata

Kerendahan Hati

– Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan kecil
Tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air
Tidaklah semua orang menjadi kapten tentu harus ada awak kapalnya
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya dirimu
Jadilah saja dirimu
sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Latar sebab mengutip puisi kerendahan hati karya Taufik Ismail di atas sederhana. Aku merindukan adik kecilku di kampung halaman. Aku meminta foto. Namun Ibuku mengirimkan video tugas sekolah adik untuk membacakan sebuah puisi.

Entah intuisi seperti apa yang mendorong Taufik Ismail untuk tergerak menulis puisi indah itu. Tanpa perlu membacanya berulang-ulang, puisi tersebut sederhana namun memiliki makna yang dalam.

Garis-garis takdir memang seperti halnya celah jalan air yang bercabang. Kepada muara yang satu, manusia memiliki peran dan jalan yang berbeda, namun tetap sebaiknya memberi manfaat kepada sesama.

Membaca puisi kerendahan hati karya Taufik Ismail berulang-ulang dapat juga sebagai obat bagi batin. Kerasnya persaingan dalam hidup, seringkali membuat manusia jengah. Hal yang menurutku sebuah nasib malang adalah seorang yang menginginkan kepada nasib ‘baik’ orang lain, tanpa dibekali pengenalan terhadap potensi diri sendiri. Keadaan itu kerap membuat lupa setiap-tiap diri sejatinya membawa peran yang unik bagi kehidupan.

Sayangnya, ada sebagian orang tak berhenti beraktivitas agar tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Ia takut memulainya dari awal, merintis jalan sunyi yang terlanjur ditumbuhi rumput liar yang meninggi.

Puisi sebagai mantra, menjadi kabar baik bila menjadi bahan bacaan bagi siswa-siswa di sekolah. Lihatlah puisi itu ditulis oleh adikku dengan tulisan tangan, kemudian dibacanya beberapa kali hingga akhirnya ia bacakan sebagai tugas sekolah.

Puisi kerendahan hati karya Taufik Ismail juga menunjukkan bahwa berbicara puisi berarti berbicara lika-liku hidup. Ia tidak sesempit berbicara tentang patah hati, menyek-menyek atau soal ‘cinta’ yang bikin geli membacanya. Puisi bisa juga menjelma sebagai teman pribadi dan rahasia.

Jadilah saja dirimu
sebaik-baiknya dari dirimu sendiri.