Bulan: Juli 2021

Kampung Asing!

Oleh: Azki Khikmatiar

 

Kampung halamanku
adalah keterasingan!
Tempat aku dilahirkan
tapi tidak dibesarkan!
Tempat aku mengerti
tapi tidak mencari arti!
Tempat aku kembali
tapi tidak untuk pergi!

Kampung halamanku
adalah keterasingan!
Sawahsawah perlahan
ditanami rumah mewah
Udara desa tercemar
berbagai kepentingan
Jalanan digilas tergesa
demi harta dan tahta

Kampung halamanku
adalah keterasingan!
Orangorang merasa muak
dengan kekhawatiran
Seakan punya banyak waktu
dengan terus merajut retak
Mengumpulkan kemungkinan
di antara banyak jalan bercabang

Kampung halamanku
adalah keterasingan!
Sebentar!
Apakah kampung halamanku
benarbenar menjadi asing?
Atau janganjangan aku yang
terlalu sering merawat hening?
Ah! Sudahlah!
Sepertinya bukan kampung
halamanku yang asing;
Justru akulah keterasingan itu!

Rumah Puisi, 28 Juli 2021

Self Healing dengan Berpuisi di Iran

aldiantara.kata

 

Perkumpulan pecinta puisi yang berasal dari berbagai kalangan

Perihal yang dimaksud self-healing dengan berpuisi di Iran adalah berdasarkan pengalaman yang dibagikan oleh seorang penyair, Annie Finch, melalui artikel yang ditulisnya berjudul, “An Evening with Forugh: Iranian Poetry Night” diterbitkan di Poetry Foundation.

Dalam kunjungannya ke Iran, Ia pernah diajak untuk ikut sebuah acara suatu komunitas kecil yang berkumpul sebulan sekali untuk menghargai, membaca dan menikmati puisi bersama-sama. Secara bergantian masing-masing perkumpulan melingkar itu membacakan satu puisi terjemahan (ketika itu karya penyair Iran Forugh Farrokhzād) dan satu puisi bebas.

Hingga seorang perawat dalam perkumpulan itu berkata kepada Annie Finch, “Di AS, jika seseorang sedang stres, mereka disuruh duduk di sebuah ruangan dan bermeditasi. Dalam budaya kita, mereka disuruh membaca puisi.” Uniknya dalam perkumpulan itu mereka bukan hanya para penyair, melainkan berasal dari berbagai kalangan profesi, dari perawat hingga eksekutif bisnis.

Annie Finch memang tidak menamakan aktivitas perkumpulan kecilnya sebagai self-healing. Namun kita dapat melakukan hal serupa dengan mengapresiasi karya-karya sastra baik sebagai self healing atau mengasah kepekaan perasaan diri kita.

Perihal self healing dan beberapa teknis diantaranya

Penulis mengutip pandangan dari Qubisa, self-healing merupakan sebuah proses penyembuhan luka batin atau mental yang dilakukan secara mandiri. Penyebabnya beragam, seperti trauma masa kecil, kecemasan yang berlebihan, kegagalan yang membuat diri down, dan sebagainya.

Terdapat berbagai teknik yang dapat dilakukan dalam melakukan self-healing. Sesuatu yang dapat dilakukan misalnya dengan memberikan sugesti positif kepada diri sendiri. Peristiwa atau pengalaman yang diterima sebagai kegagalan merupakan pelajaran berharga di mata kehidupan. Berbicara dengan diri sendiri dengan lembut dan mengatur nafas dengan baik menjadi salah satu teknik self-healing yang dapat dilakukan.

Terlalu sibuk memikirkan orang lain dengan membanding-bandingkan pencapaian kerapkali menjadi ‘aktifitas spontan’ yang tak disadari. Daripada membanding-bandingkan pencapaian alangkah baiknya mengalihkan kepada kekuatan diri sendiri dan mengembangkannya, sebab proses berkembang setiap-tiap orang tentu berbeda. Ayolah, ini tidak mudah. Siapapun tentu secara alamiah pernah bercermin melalui kehidupan orang lain!

Dengan memberi waktu untuk diri sendiri beristirahat dan melakukan hal-hal yang disukai setidaknya menjadi teknis alternatif dalam melakukan self-healing.

Selain itu, berpikir dengan kesadaran penuh, menerima kenyataan tanpa ada penolakan atau penghakiman terhadapnya lalu melepaskannya seiring berjalannya waktu.

Self-healing dengan berpuisi di Iran dan apresiasi sastra

Perkumpulan lingkaran kecil sebagaimana dalam cerita Annie Finch, masing-masing bergiliran dengan membacakan puisinya dengan lantang.

Hal yang membuat terkesan dalam kegiatan itu, di mana orang-orang di perkumpulan lingkaran kecil begitu ramah dan menghayati setiap puisi yang dibacakan. Annie Finch menceritakan ketika ia membacakan puisinya, beberapa dari mereka menangis terharu.

Bahkan hal menarik lain, tak satu pun dari orang-orang ini akan menyebut diri mereka penyair (meskipun ada satu novelis dan satu penerjemah di antara mereka). Meskipun mereka berasal dari profesi yang berbeda-beda, mereka adalah pembaca dan pecinta puisi.

Baca juga: Doa untuk Bli Jerinx

Pada penghujung malam, puisi-puisi dibacakan menjadi lagu diiringi dengan gendang dan rebana. Annie Finch sangat terkesan dengan kekuatan puisi yang menyatukan orang-orang dan menyentuh ke tempat kemanusiaan yang sama.

Aktivitas apresiasi puisi di Iran, sebagaimana yang ditunjukkan pengalaman Anne Finch pada satu sisi dapat digunakan sebagai salah satu alternatif self-healing, namun pada sisi yang lain menunjukkan suatu kritik kepada kita perihal apresiasi sastra di Indonesia.

Segelintir orang hanya mengenal Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, WS. Rendra padahal masih banyak sastrawan-sastrawan dengan karya brilian yang kekuatan puisinya sangat relevan dengan kehidupan masa kini, atau bahkan untaian kata-kata indahnya mengobati kepiluan.

Di samping itu, di antara faktor kurangnya apresiasi sastra menurut penulis adalah pelajaran sastra kalah populer dibanding kedokteran dan jurusan-jurusan eksakta. Menekuni sastra tak menjamin demi kehidupan yang lebih layak. Membaca sastra identik dengan kegalauan masa remaja, religiusitas, atau pemandangan alam dengan makna yang sempit.

Self-healing dengan berpuisi sebagaimana pengalaman Annie Finch menjadi alternatif yang mengasyikkan. Penulis cenderung merefleksikan pengalaman Annie Finch di atas dengan drama Korea When Wheater Is Fine (2020) yang dibintangi Park Min-young dan Seo Kang-joon yang sekilas sudah penulis saksikan.

Di antara salah satu episodenya menunjukkan di sebuah toko buku kecil, suatu komunitas klub buku duduk pada sofa yang melingkar, berbagai jenjang usia dari anak, remaja hingga paruh baya secara bergantian membacakan kutipan sastra, sementara yang lain dengan khidmat mendengarkan.

Sebentuk cara mengapresiasi sastra dengan demikian sejatinya tidak terlalu tampak ‘serius’, namun menjanjikan obrolan yang cenderung berfaidah ketimbang harus menghabiskan waktu di warung kopi dengan bergunjing. Tidak mesti harus secara bergantian membacakan puisi. Dapat pula diakali dengan bercerita buku apa yang telah dibaca hari ini, kata-kata apa yang terngiang membekas di benak pikiran.

Apa dalam circle pertemanan kita terlalu sering bercanda? Apa yang asik itu harus selalu yang mengundang tawa tak henti?

Self-healing dengan berpuisi sejatinya punya musuh abadi, ketika ada yang mengomentari karya sastra seseorang dengan ungkapan, “lebay”.

Percayalah pada setiap kata, ia terlahir dari keadaan yang nyata. Percayalah pada setiap diksi, ia datang mewakili setiap perasaan yang segan diucapkan.

Boneka Mampang

aldiantara.kata

 

Boneka mampang kian banyak jumlahnya. Boneka Upin yang sudah lusuh seperti sedang bersiap Olimpiade Tokyo cabor kartun moral.

Di halte yang menjadi tempat teduh depan rumah sakit, aku berjemur. Para perawat datang untuk pergantian shift. Tak ada orang yang berjalan kearahku, karena tak ada bus kota. Bus pengangkut karyawan beroperasi saban pagi. Angkutan kota banyak menepi menunggu sesak penumpang lalu jalan.

Aku seperti boneka tanpa kostum, yang ikut berjoged terhibur di selatan lampu merah. Musiknya terdengar dari kejauhan. Pemimpin negeri dengan plat merah 1 datang gunakan ‘boneka’ yang berjalan ke arah kota, boneka keras seperti tangannya yang besi membawanya bersama iring-iringan yang suara sirinenya kalahkan musik di lampu merah. Suaranya menakuti masyarakat yang belum berani menghadang dan bertanya, “Memangnya kerja, ya? Kok buru-buru amat.” Sementara pada dinding rumah sakit bersandar boneka mampang dengan kartun yang tak kukenal duduk, dengan sebuah ember kecil di depannya berharap kasih. “ember harapan”, agar pelawat berkenan bersumbang recehan.

“Kamu kenapa ngga joged?”
“Jangan-jangan kamu buzzerp yang dibayar agar tidak berjoged?”

Ia tak bergeming.
Ah, lucunya. Iring-iringan yang membawa pemimpin negeri itu harus berpapasan dengan ambulance. Sirine beradu. Tak ada yang mau mematikan, tak ada mau mengalah. Siapa mau duluan. Siapa lebih penting. Siapa mau meminta maaf?

Tanpamu

Oleh: Nurhidayah

 

Sepertinya semesta belum mengabulkan keinginanku
Jarak kerap kali menjadi dinding pemisah antara kau dan aku
Tersemat butiran rindu yang berserakan nan menjalar dalam nalar
Kita hanya bisa berpeluk dalam khayal

Hampa bersangkar dirongga dada
Sepi melanda jiwa
Seolah gulita mencekam malam
Asa yang kurajut kian tenggelam

Tanpamu!

Doa untuk Bli Jerinx

aldiantara.kata

 

Jerinx dan kontroversi

Siapa yang belum pernah memaki Jerinx? Bergetar kaki kita bila dihujani cacian. Dingin penjara padahal belum kita cecap. Tapi keadilan sosial memang memerlukan sedikit darah yang terpecah dipinggir bibir, sebelum akhirnya kita mati tersenyum puas  setelah lelah berjuang. Hingga tiada lagi seorang ibu dan bayi dikandung yang meninggal ketika hendak melahirkan, terhalang peraturan rumah sakit menjerat. Siapa tahu melalui anak yang akan lahir akan muncul pemimpin adil. Seakan hendak dikata Tuhan, “Dunia memang memiliki muara akhir.”

Terlepas dari segala kontroversinya sebagai tokoh yang memiliki banyak pengikut militan, bagiku Jerinx menggunakan suaranya dengan benar. Berani untuk berbeda, demi mengikuti panggilan hatinya sendiri mengkritik ketidak-adilan dan penyimpangan.

Ia dianggap sebagai musuh masyarakat sebab menentang arus mainstream dengan mengatakan bahwa Covid-19 merupakan konspirasi. Disamping penuturannya yang cenderung menggunakan kata-kata yang kasar menyebabkan ia diduga melakukan ujaran kebencian kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan mengatakan ‘Kacung WHO’ yang menyebabkannya masuk penjara. Banyak framming media dan komentar warganet yang seakan terjebak dengan penuturannya yang kasar dan penampilan fisiknya yang dipenuhi tato.

Pada satu sisi Jerinx memang layak dikritik. Salah satunya dari sifatnya yang emosional dan penyampaian pendapatnya yang keras dan cenderung kasar. Terlepas dari kepercayaannya yang mengatakan bahwa covid-19 merupakan konspirasi elit global, namun pada sisi yang lain, aksi sosial dan apa yang disuarakannya akhir-akhir ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Ketika orang-orang berjuang untuk hidup di bawah ancaman kematian dan aturan pembatasan wilayah, Jerinx dan kawan-kawannya mengadakan aksi sosial dengan membagi-bagikan pangan gratis selama lebih dari dua bulan untuk warga Bali yang membutuhkan. Jerinx juga menyuarakan kasus ibu-ibu hamil yang keguguran hingga meninggal dunia lantaran prosedur rumah sakit yang rumit pada awal pandemi.

Jerinx antara BTR, RUU Permusikan serta Lirik Lagu Sarat Kritik

Sementara itu, tidak pada kali ini saja Jerinx bersuara. Sebelumnya ia menjadi buah bibir masyarakat dalam perjuangannya menyuarakan Bali Tolak Reklamasi, menentang RUU Permusikan. Bahkan sebelum itu melalui lagu-lagunya, sebagai bagian dari personil dari band Superman Is Dead (SID), ia menuliskan lagu-lagu yang sarat akan kritik sosial dan perjuangan.

Jerinx bersama rakyat Bali tergabung dengan gerakan Bali Tolak Reklamasi yang secara akademis oleh para pakar dan ilmuwan, Kota Denpasar akan banyak menerima dampak negatifnya. Di samping akan menghancurkan muara alami untuk lima sungai besar di Bali, juga akan menyebabkan banjir di daerah pesisir Selatan di Bali.

Jerinx juga menentang RUU permusikan yang dianggap membatasi ruang ekspresi dan seni. Namun, sebagai musisi, Jerinx bukan ‘orang baru’ yang melihat adanya banyak permasalahan di negeri ini. Maka dari itu, melalui lagu-lagu yang disuarakannya bersama band SID sudah sejak lama ia berteriak melawan.

Dalam lagu Sunset di Tanah Anarki Jerinx menulis, “Kubasuh luka dengan air mata. Oh, hatimu beku serta jiwamu yang lelah. Tak henti lawan dunia. Dengan mimpi besar untuk cinta.” Dalam lagu Jadilah Legenda, ia menulis, “Untuk Indonesia, teruslah bertahan. Walau dihancurkan, disakiti Kau tetap berdiri di sini. Untuk Indonesia, jadilah legenda. Kita bisa dan percaya.” Juga dalam lagu Jika Kami Bersama Jerinx turut menyuarakan, “Aku berteriak lantang untuk jiwa yang hilang
Untuk mereka yang selalu tersingkirkan.

Teruskan Perjuangan Jerinx!

Pandemi belum selesai, namun aku menyadari bahwa disamping tenaga kesehatan yang sedang berjuang hebat, masyarakat juga membutuhkan aktivis sosial yang turun ke jalan menyuarakan kepedihan rakyat.

Setelah keluar dari bui lantaran kasus ujaran kebencian terhadap IDI, hal ini tidak menyurutkan keberaniannya untuk speak up terhadap ketidak-adilan. Kondisi pandemi yang sudah lebih dari setahun membuat matanya terbuka dengan keadaan sosial masyarakatnya yang banyak terdampak dari sektor ekonominya. Kata-katanya yang cenderung pedas dan menyudutkan pihak-pihak dengan tegas, membuatnya kini harus kembali terancam masuk penjara. Sementara dalam usia pernikahan yang belum lama bersama Nora Alexandra (istri Jerinx), mereka berdua sedang merencanakan program kehamilan.

Sudah sejak awal Jerinx melawan. Hal inilah yang setidaknya perlu dilihat oleh sebagian kalangan yang membenci Jerinx. Toh sejatinya Jerinx pada salah satu lirik lagu yang ditulisnya dalam judul Kuat Kita Bersinar sudah mengatakan bahwa, “Harus percaya tak ada yang sempurna.”  Perjuangan di dalam membela rakyat kecil perlu kita teruskan. Jerinx kini sedang menunggu panggilan kepolisian dengan kasus barunya yang dianggap telah mengancam seorang pegiat media sosial. Menepilah dulu, bli. Semoga keluargamu bahagia dan sejahtera. Segera punya momongan dan cepat besar menjadi ‘singa’ seperti Bapaknya.

Perahu Nestapa

Oleh: Nurhidayah

 

Tinta hitam menari-nari di atas secarik kertas
Mengukir pesan jiwa yang hingga kini tak kunjung kau jumpai
Sementara perihal ini sudah meronta-ronta ingin kubahas
Sebelum cinta kita terhanyut oleh arus waktu yang begitu tangkas

Mengapa kau selalu menghilang tanpa alasan yang jelas?
Terakhir kalimat klise yang kau lontarkan membuatku merana
Bak bara yang hanguskan kayu sekejap menjadi debu
Tapi hati ini terus menggelitik seoalah ingin merayu

Agar kau bersedia membenahi segenap rasa yang terabaikan beberapa waktu lalu
Walau memang cinta kita usai bergelora di atas perahu nestapa
Lalu kisah yang kita bangun dahulu kala dengan bahagia
Haruskah berakhir begitu saja?

 

Ciamis, 10 Agustus 2020

Pertanyaan yang Mengendap

aldiantara.kata

 

Racikan minuman yang kau pesan dan baklava. Air yang sudah menyurut jelang habisnya, lalu ditemukan ampas yang belum teraduk sempurna, meninggalkan sisa menjanggal, yang tak diairi lagi.

Sisakan pertanyaan, tertinggal dalam minuman. Rahasia dibalik pesan yang tak terbalas. Prasangka muncul tanpa menemukan bayang cerminnya sendiri. Apa rasa manis yang kian terlalu, membuatmu bertanya? Waktu menunjukan dekat pada pergantian hari. Kau tinggalkan minuman setengah sisa daripada harus kembali membuka percakapan baru. Menggoyangkan gelas minuman yang sempurna dalam genggaman. Agar tiada meninggalkan cerih. Sementara endapan tak bisa melarutkan dirinya sendiri. Kau berdalih sisa-sisanya seperti gula batu pada minuman susu jahe panas di angkringan selatan Tugu kota. Dengan sendirinya melarut.

“Pertanyaan, tak lama lagi akan menjadi jawaban,” katamu. Kau selalu marah, bahwa aku selalu menganggap suara prasangka pada alam pikiranku mewakili sikap diammu yang kuanggap sebagai jawaban.

Airnya kurang panas, tarian endapan belum juga menuju dasar gelas, lebih lama mereka mengambang menunggui asap berpamitan sekejap. Karena udara semakin dingin. Kau mengeluhkan rasa minuman yang tak selalu sama dengan racikan yang baku. Mungkin kau lupa bertanya apa minuman teraduk sempurna.

Apakah sebetulnya kau sudah menyadari perihal kegelisahanku yang mengendap. Sengaja tak kau usik, sebab kita tak suka berisik. Enggan kau aduk, agar tak berubah seruputan pertamamu yang telanjur nyaman di ranjang lidah.

Sebelum pertanyaan-pertanyaan jatuh ke dasar gelas. Kau bertanya, apakah cinta soal jam terbang? Dulu kau pernah bilang pernah menyukai laki-laki kakak tingkat. Namun mengatakan bahwa untuk pertama kali denganku kau berswafoto di bawah langit temaram, dekat dengan tempat beranjak suara deru pesawat. Kau selalu mencegahku bertanya lebih dalam, apa aku mengeruhkan endapanmu yang sudah tak mungkin larut? Meski aku mengusiknya, ia hanya akan menari berputar lalu merebah pada permukaan menjadi gundukan. Tak mungkin larut lagi. Sudah benar posisinya pada lelap dan senantiasa tenang keadaan.

Endapan minuman barangkali seperti harga yang harus dibayar dalam hubungan? Kau menjawab itu prasangka aku. Menuding. Aku katakan bahwa prasangka adalah pertanyaan pahit yang tak bernyali untuk kemudian terajukan.

“Kau mau memesan minuman lagi?”

Aku ingin minuman ber-es batu. Agar mencair lalu menyatu sebagai air. Tiada cerih, selain wujud protesnya sebagai asap.

Endapan tak saja perihal kandungan gizi, namun juga bubuk mesiu yang siap meledak- ledak, seperti pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi bersemayam di alam pikiran, melainkan sudah mengendap pada hati yang kita tak tahu di mana letaknya. Masing-masing memiliki ruangannya, di mana kesunyian selalu bergelut dengan amarah memeluk suatu tuntutan.

“Bilang saja kalau ada apa-apa. Jangan sungkan.”

“Kenapa hubungan kita tak pernah didera masalah, ya?”

Akhirnya, pernyataan-pernyataan itu menjadi rasa yang mengganjal pada minuman kita. Pernyataan yang muncul sedikit jumawa pada awal-awal hubungan yang manis. Tepat sekali bila pernyataan pernyataan di atas adalah pernyataan granat tangan yang meledak di akhir hubungan. Tak ada bunyi ledakan. Ia serupa cahaya pada langit ingatan yang mencibir, “Inilah akhir”. Sebab kita tak pernah mau mengakui hubungan yang sedang tidak baik-baik saja.

Basa Basi Doa

aldiantara.kata

 

Ketika doa menjadi basa-basi
Ketika Aamiin sebagai pelega percakapan

Orang mendoakan dirinya sendiri.
Orang menyembah dirinya sendiri.

Seseorang duduk di pojok tempat ibadah, sungguh sabar mendoakan satu per satu orang-orang yang dikehendaki dan tidak dikehendakinya. Pikirannya menengadah, “Apakah ia sudah menerima kado doaku?”

Maaf jika terbata-bata, tanpa rayuan, lebih banyak pengakuan dan tak gunakan jenis bahasa yang disukai Tuhan sebagaimana kitab suci dan contoh para Nabi suci.

Maaf jika sempat teralihkan pikiranku kepada hal perihal lain, sebelum menuju bait doa selanjutnya yang menuju inti.

Pesan Tuhan kerap nampak sederhana, Ia titip melalui lisan seseorang, seperti, “Namanya juga kita masih hidup di dunia, yakinlah bahwa Tuhan pasti akan berikan rizki masing-masing.” Lalu aku bercerita kepada-Mu, kemudian berterimakasih, tanpa membandingkan dengan yang berkekurangan, tanpa mendongak ke atas merasa rendah. Pesan-Mu telah sampai.

Suara-suara yang didengar terkadang datang sebagai alamat tertentu, apakah kita berbuat bajik atau kurang ajar.

Sebagian orang menitip doa, bermaksud menebalkan segala harap. Berduyun sebagai tamu berdatangan kepada-Nya. Memohon.

Kapan terakhir kita sungguh-sungguh mendoakan orang lain, selain sungguh-sungguh mendoakan diri dan kolega sendiri?

Agar tiada lagi Amin paling serius dan Amin paling dengki.

Mantra-mantra ajaib yang sudah tersusun wangi, bersembunyi di bawah permadani langit, hingga sampai waktunya seseorang tiba, ia membuka kejutan-kejutan. Mengenai siapa yang selama ini sungguh mendoakan. Padahal semasa dalam buaian kehidupan, tak nampak sama sekali perhatian kepadanya. Namun ternyata ada yang sungguh-sungguh mendoakan.

Doa itu barang mahal. Penerima doa tak akan tahu siapa yang kini mendoakannya, bila sekiranya sudah waktunya untuk tahu, sudah tidak ada waktu untuk mengucapkan terimakasih.

Selain itu…

Tuhan tidak pernah tidur. Tentu Ia mendengar jeritan-jeritan pedih mereka yang tak diperlakukan adil, oleh pemangku kesementaraan yang tertipu. Lantas, apakah mereka juga berdoa untuk kesejahteraan orang lain?

Ataukah…

Untuk dirinya sendiri?
Keluarganya sendiri?
Kepentingannya sendiri?
Urusannya sendiri?
Kekuasaannya sendiri?

Jangan Batuk

aldiantara.kata

 

Aku mulai saja dengan membuka lapisan tanah yang kuinjak sebagaimana membuka lapisan karpet. Anak-anak semut sedang bersekolah menghafalkan tabel periodik unsur kimia. Kelabang sedang memastikan berapa jumlah kaki. Aku jadi sungkan bertanya apa mereka sedang mengalami semusim pandemi? Beberapa guru-guru semut tak menjawab pertanyaanku, seekor dari mereka menjelaskan kesibukan mereka menelaah mana makanan manis yang bisa dikonsumsi dan mana yang tidak. Beberapa kelompok semut datang, mengabarkan untuk segera mengangkut teman-teman mereka yang mati terinjak. Sementara di dinding, mereka masih bersentuhan untuk memastikan apakah mereka satu koloni dengan mereka.

Rayap mendongak heran melihatku memakai kain penutup mulut. Wabah fluktuatif. Kini meningkat lagi. Di tempat ibadah, orang menahan-nahan agar tidak batuk. Orang tak boleh sakit. Tak boleh demam. Tak boleh ketahuan! Satu per satu tumbang. Disaran merebah istirahat. Pembatasan wilayah lagi. Warga desa dipaksa panik banyak warga mati mendadak. Obat-obat alternatif bermunculan. Orang-orang segera memburu sembako. Pamong praja menenangkan melalui khotbah klise. Undur-undur terbahak mendengar cerita. Si amis budi yang biasa terlihat senyum dan tawa kini banyak mengerutkan kening didera pening.

Aku kembali menutup tanah. Berpamit kepada satwa-satwa yang hidup dengan kesibukan lain. Induk ayam menggiring anak-anaknya mencari sarapan. Kusalami sang induk sambil curigai aku hendak mencuri anaknya. Aku hanya ingin mendengar cerita kesibukan dunia perayaman. Mereka sedang sibuk entah di pasar atau di kampus. Unggas ini enggan bercerita. Namun sang induk bertanya perihal Nenekku. Aku katakan bahwa aku tidak bisa mengunjungi Nenek di desa. Warga sekitar takkan berkenan menerima orang dari wilayah jauh. Namun aku masih terhubung melalui doa yang senantiasa kurayu kepada Tuhan.

Ketika aku hendak terbang dan menuju tempat lain, roh halus penunggu rumah kosong yang terbakar pada tahun 90-an menyapaku dengan sedikit arogan. Aku bertanya kepadanya apakah di dunia roh halus aku boleh batuk dengan sopan? Roh halus rumah mengabaikan pertanyaan, ia memakiku dan mengeluh bahwa manusia tak lagi takut kepadanya. Aku katakan kini manusia ketakutan akan kehilangan kepada sesuatu yang memang asalnya bukan miliknya. “Apa roh halus sudah mendapatkan vaksin?” Ia terdiam sejenak, juga tak menggubris pertanyaan. Ia malah merasukiku dan membuatku menyiksa diriku sendiri.

Namun entah darimana induk ayam tahu perihal nenek yang sedang sakit dan aku yang menderita menahan untuk tidak batuk dengan etika yang baik. Apa unggas itu bisa berbincang dengan semut yang sedang memastikan rekan koloninya, atau mendapat kabar dari siput yang dongkol lendirnya dieksploitasi untuk kecantikan kulit. Masih kuat saja menahan untuk tidak batuk?

Lebih baik aku menulis saja ketimbang harus memandangi lebih lama ubin kamar mandi yang dingin. air sumur timba di belakang segar seperti biasanya. Aku berpakaian yang terasa hangat baru selesai diseterika. Aku menulis beralaskan meja ruang tamu. Tidak menulis sebagai terapi, kondisi di sekitar seperti ini. Berita-berita duka bersahut-sahut saling membalas. Orang-orang terdekat. Rapal-rapal doa tanpa kenal waktu dan tempat. Semua terjadi tiba-tiba. Sekeluarga tumbang mengisolasi diri. Masker bekas sudah penuh hendak diganti.

Positif, negatif, positif, negatif. Simbol-simbol penentu, menanti hasil dengan gelisah. Rumah sakit tak kuasa menampung seluruh pengadu. Orang memburu penimbun tabung oksigen, serta alat-alat medis. Unit gawat darurat bejibun bak barak pengungsian. “Tidak ada kamar kosong, tidak ada kamar kosong.” Sebagian malah menyogok untuk mendapatkan ruangan beristirahat. Nenek menunggu mendapatkan ruangan lantaran sakit. Nenek berbisik, “Jangan zalim pada rakyat kecil, jangan zalim pada rakyat kecil.”

Onegai, Modotte Kudasai

Oleh: Martalia A.

 

Judul buku: Kudasai
Penulis: Brian Khrisna
Penerbit: Mediakita
Deskripsi Fisik: 456 hlm. 19 cm.

“Pada akhirnya kau benar-benar hilang. Tepat di saat aku sedang butuh-butuhnya.  Salahku; menggantungkan bahagia pada seseorang yang pernah kukira akan selalu ada.”

Deep. Kutipan dari sebuah novel milik Brian Khrisna yang aku baca di wattpad sekitar satu tahun lalu dan berhasil membuatku takjub dengan diksinya yang quotable. Aku memutuskan untuk melanjutkan membaca beberapa chapter. Dan sialnya, mulai menikmati alur cerita dengan pembawaan narasinya yang dikemas dengan bahasa sederhana namun penuh makna dan diselingi lelucon absurd dari si tokoh utama laki-laki, Chaka. Chaka Ranchaka.

Pada chapter “I Belong to You” di mana chapter tersebut memberikan informasi bahwa novel Kudasai sudah terbit, yang artinya novel tersebut sudah dibukukan dan mau tidak mau aku harus membelinya karena penasaran dengan alur ceritanya yang selalu membuat hati berdebar setiap kali membaca bab demi babnya. Maaf, agak berlebihan tapi memang begitu. Selang beberapa waktu, aku menemukan buku Kudasai di salah satu perpustakaan umum di Yogyakarta. Buku dengan ketebalan 456 halaman, aku baca dalam waktu sehari.

Lantas, apa yang membuat novel ini begitu menarik? Alur cerita! Di sini penulis menyinggung topik feminisme dan anti-patriarki ke dalam ceritanya dengan alur yang cukup unik dan tidak mudah ditebak. Siapapun yang membacanya akan merasa seperti sedang menaiki wahana roller coaster, dibuat tertawa sampai terbahak-bahak, sesaat kemudian dalam waktu yang bersamaan dibuat menangis tersedu-sedu, emosi lalu terdiam sembari mencoba mencerna percakapan antar para tokoh. Penulis sangat lihai dalam mencampuradukkan perasaan pembacanya.

Novel karya Brian Khrisna ini mengisahkan seorang laki-laki bernama Chaka yang hanya memiliki dua keahlian, yakni memasak dan bernafas, harus terjebak dalam kontrak pernikahan bersama seorang alpha female bernama Twindy pemimpin sebuah firma arsitek terkemuka yang sangat mandiri, kaya raya, dan memiliki ego tinggi. Selama dua tahun pernikahan, Chaka yang bekerja mengelola café milik Twindy tidak pernah berani melawan Twindy yang cenderung lebih mendominasi. Chaka selalu mengalah dan lebih banyak mengurus urusan rumah tangga. Meskipun Chaka diperlakukan seperti berada di neraka, diam-diam Chaka mulai menyayangi Twindy sebagai istrinya yang menjadi tulang punggung dalam rumah tangga mereka.

Suatu hari, sosok masa lalu Chaka kembali hadir di kehidupannya. Anet, mantan kekasihnya yang ia tinggalkan begitu saja karena harus menikahi Twindy. Segala permasalahan antara Chaka dan Anet yang belum selesai menjadi titik awal konfilk dimulai. Sekelumit permasalah datang dan mengharuskan Chaka harus bertanggungjawab dengan pilihan rumit antara memilih istrinya, Twindy atau Anet, mantan kekasihnya.

“Kau tidak akan pernah mengerti tentang sakit hati, hingga suatu hari kau berdiri di depan seseorang yang begitu kau sayangi, lalu kau dipaksa untuk mau menerima sebuah kenyataan, bahwa kesempatan untuk kembali bersamanya itu tak lagi ada”

Penokohan yang kuat dan karakter yang khas dari setiap tokohnya adalah hal yang menarik dari novel ini. Karakter Chaka yang supel, ramah dan mudah bergaul membuat orang lain bahagia dengan tingkah konyolnya Namun,di saat mantan kekasihnya, Anet, hadir, sosok Chaka yang ceria dan humoris, hilang begitu saja, seperti kehilangan jati dirinya. Karakter Twindy yang dingin, galak, dan memiliki ego tinggi membuatnya tampak keras kepala. Bagi Twindy, sebagai alpha female, yang terpenting dalam hidupnya adalah seseorang yang selalu ada untuknya, bukan seseorang yang mempunyai segalanya. Karakter Anet, yang tampak baik, lugu, manis, selalu menerima kekurangan Chaka apa adanya, membuat hati pembaca bungkam tak bisa marah dengan kehadirannya sebagai penyebab retaknya hubungan rumah tangga Chaka dan Twindy.

Novel ini memiliki judul unik yang diadopsi dari bahasa Jepang, memiliki arti yang cukup mendalam, Kata ‘Kudasai’ bentuk verba bantu yang memiliki arti “Tolong, lakukan untuk saya”. Setelah selesai membaca novelnya, baru akan paham mengenai makna dari kata Kudasai dengan isi bukunya. Sekelumit permasalahan datang membuat para tokoh harus berhadapan dengan kehilangan, perpisahan, terluka dan kekecewaan. Dari tokoh Chaka, Twindy, dan Anet aku banyak belajar perihal kepedulian, meredam ego, kesederhanaan dan ketulusan dalam membangun sebuah hubungan. mencintai dengan sederhana. Pesan moral yang kutangkap dari penulis adalah mencintai itu bukan perihal siapa yang ‘paling’, tapi perihal siapa yang ‘saling’.

“Rumah tangga itu bukan sekadar soal siapa yang paling, tapi juga siapa yang saling.” – Chaka Ranchaka

Bagaimana, hati sudah tergerak dan tertarik untuk membacanya?