Bulan: April 2021

Singgah di Hutan Kala Senja Bersalju

Oleh: Robert Frost

Judul Asli: “Stopping by Woods on a Snowy Evening
Diterjemahkan oleh Ratu El Sarah

Rhyme schemeAABA BBCB CCDC DDDD

 

Hutan milik siapa ini, kurasa aku tahu.
Rumahnya berada di desa yang jauh itu;
Tak akan ia lihat aku singgah disini
Menyaksikan hutannya perlahan berselimut salju.

Kuda kecilku pasti terheran
Karena aku berhenti bukan di perkampungan
Diantara hutan dan danau membeku
Dalam senja paling redup sepanjang tahun.

Kudaku menggoyangkan loncengnya
Adakah yang salah maksudnya bertanya.
Suara lain yang terdengar hanyalah sapuan
Akan semilir angin dan serpihan salju di udara.

Hutan ini indah, luas, dan gelap.
Namun ku punya janji yang jangan tersilap.
Juga perjalanan panjang sebelum ku terlelap,
Juga perjalanan panjang sebelum ku terlelap.

***

Rhyme schemeAABA BBCB CCDC DDDD

 

Whose woods these are I think I know.
His house is in the village though;
He will not see me stopping here
To watch his woods fill up with snow.

My little horse must think it queer
To stop without a farmhouse near
Between the woods and frozen lake
The darkest evening of the year.

He gives his harness bells a shake
To ask if there is some mistake.
The only other sound’s the sweep
Of easy wind and downy flake.

The woods are lovely, dark and deep.
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.

Kabut Bandara Baru

aldiantara.kata

 

Kabut tipis di atas pesawahan setelah bandara baru
Tipis di atas padi-padi menguning.
Semesta melindunginya dari pembangunan yang binal?
Omong kosong tanpa campur tangan manusia.
Tikus dan ular pun tak diterima perkotaan, buat kartu penduduk tidak cepat untuk hama.
Seorang gangguan jiwa menghormat setiap meter di bawah pagi.

Kota yang Tak Pernah Berdoa

aldiantara.kata

 

Doa adalah nyanyian hati yang selalu dapat membuka jalan terbang kepada singgasana Tuhan meskipun terimpit di dalam tangisan seribu jiwa — Kahlil Gibran

 

Kota yang tak pernah meminta doa. Tak juga pernah katakan akan mendoakan. Bersembunyi dibalik jubah tulus dan ikhlas. Terucap sir dalam sendiri, memberi doa-demi-doa untuk manusia.

Kemana perginya doa-doa yang dirapalkan. Bukan basa-basi percakapan, periksa pada punggung kupu-kupu biru di taman mawar hitam. Katakan agar, “tetap rahasia, doa di kota ini tak pernah menjadi bahan gunjingan.”

Dandelion yang menerbangkan benih-benih, beranjak bersama udara yang berpihak pada angin. Percakapan mereka sebelum menyebar. Menerbangkan sayap selembut kapas bak doa. Di bawah teduh randu alas, seorang anak bermain batu. Tawanya sampai menangis, ceria dicubit angin membuatnya jatuh di atas tumpukan daun.

Anjing yang menjadi pagar. Berlari membuat jejak. Sesekali kegirangan digoda ombak laut.

Lampu dinyalakan pertanda hari akan gelap. Dendam tak kunjung beranjak, sementara rindu tlah menjadi batu karang.

Awan-awan doa berarak berkoloni membentuk wajahmu, tangan menopang dagu, “Kemana perginya doa kita.” Bejana takdir memamah menjadikannya nafas. Sandiwara langit menyulapnya menjadi siluet. Doa-doaku menjelma teduh wajahmu, yang ku tak sudi terjilat angin.

Kemana perginya doa? Orang-orang tak meminta doa. Semua orang mendoakan. Bayangmu dimakan gelap. Jawaban belum kunjung buatmu lelap. Simak cinta bunga bugenvil yang ditinggalkan senja. Merambat pada dinding-dinding kota yang dingin.

Seorang gadis yang masih bernyanyi pada sebuah cafe yang sepi. Ia sedang menghibur hatinya sendiri. Lagu-lagu yang mengisi jiwanya yang tak sempurna. Disaksikan bangku yang lengang. Meja yang dihinggapi benih dandelion, langit bugenvil, tawa anak kecil yang memecah hening.

Diburu Waktu

aldiantara.kata

 

Seorang perempuan yang hanya melihat tujuan
pada matanya.
Aku tak berada dalam jangkauannya.
Anjing hitam di bawah senja
melihat dunia dalam bayang hitam putih
Seorang tua dimakan usia
melihat dunia dalam durjana
Sakit mendera, menunggu giliran.

terlalu Serius

aldiantara.kata

 

Dunia kini sudah menyapa pagi
makhluk bernama malam
mulai kehilangan kesadaran
selamat pagi orang-orang suci
yang tak terliput pertempuran
pengaruhnya bak penyangga
doa-doa tuju sampai kepada inti
bagaimana bisa ongkang-ongkang ditepian
saksikan kaum pandir bercongor besar
takut dosa neraka
rayulah Tuhan agar berkenan utus seorang nabi
tapi jangan, medsos kita kejam

Terang pagi menunggu detik
banyak doa pagi terpanjat
sebab lihat pemandangan cantik
sebab hirup udara segar
tanpa sebab lantaran urung tidur

Renung pagi
cari makan
dapat pagi
panasi kendaraan

Barangkali sebaiknya aku tidur
biar sejenak lupa caranya berpikir
tulis rencana sebagai utang
beban harus dibayar
sesak
aku yakin
manusia akan mati serta keingin lan ambisi

Siapa bertugas padamkan benci korban peperangan
menular jalar

Atau jangan-jangan
dunia kerap bercanda
aku terlalu Serius.

Puasa Berpuisi

Oleh: Azki Khikmatiar

 

Hari ini,
Adalah kala pertama kita bertegur sapa
Dua tahun lalu, sebelum kau menjelma alpa
Saat dimana aku belum mengenal luka
Kau datang menawarkan renjana
Mendefinisikan cinta sebagai kita
Hingga aku percaya pada katakata
Diantarakata; diantarakita, katamu!

Hari ini,
Adalah kali pertama kau mengajariku menulis puisi dengan diksi favoritmu
Satu tahun lalu, aku hanyalah si bodoh
yang sama sekali tak mengerti puisi
Aku mencoba menulis dan terus menulis walaupun tintaku telah lama habis
Mengeja bahagia menjadi diksi yang tak ada apaapanya jika dibandingkan diksimu
Diksi kita berbeda; cerita kita tak sama, katamu!

Hari ini,
Adalah kala pertama kau memahat luka
Membuatku mulai mengerti semua kata yang sering kau sebut sebagai muara sukma
Bahwa cinta, bahagia, renjana, luka, alpa adalah bagian terbaik dari katakata
Terimakasih!
Akan kutulis semua ingatan tentangmu dengan tinta berlumuran darah pada lembaranlembaran yang masih memerah
Dasar bodoh!
Mengapa kau alpa begitu cepat?
Padahal aku belum selesai memahamimu
Andai kau bisa hadir sedikit lebih lama
Akan kubuatkan kau ribuan puisi hingga
kau berhenti menangis!
Mungkin, memang sudah waktunya;
Puasa berpuisi.
Ah, andai saja!

 

Papringan, 17 April 2021

Toko Buku

aldiantara.kata

 

Memasuki toko buku malam tadi, barangkali semua orang tahu, bahwa mereka memajang di etalase atas, penulis-penulis kesohor yang memungkinkan untuk dicari khalayak ramai. Setiap hari tak pernah sepi dari pengunjung datang melawat. Toko buku adalah surga sesungguhnya. Di dalamnya berisi diantarakata ide gagasan manusia-manusia visioner. Tak bisa ditaksir usia gagasan-gagasan ini yang menjelma menjadi buku, sejak kapan, hingga yang masih panas baru terbit kemarin sore. Pembaharuan-pembaharuan silih berganti, berputar.

Sesuatu yang kupikirkan hari ini pasti tidak berangkat dari ruang hampa, bisa jadi telah menjadi tulisan siapa.

Meskipun ku sering melakukannya, bagiku terlihat menyedihkan seorang (aku?!) yang tak gunakan akal kreatif untuk merangkai diantarakata-nya sendiri sehingga ia mengcopy gaya tulisan orang lain. Seperti kebiasaanku, menulis ulang… kata-kata ajaib dari para penulis buku yang kubaca, kusebutnya kutipan. Meskipun kekaguman itu hanya se per sekian menit, catatan yang aku kutip, kututup, lalu beranjak melakukan aktifitas lain.

Penulis-penulis muda bermunculan bersama ide-ide segar, melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh generasi sebelumnya. Tragedi bermunculan seiring waktu berlari, nampaknya sama, namun konteks yang dihadapi pada masa kini tentu selalu baru. Tak mesti bisa ditangani langsung oleh generasi-generasi lama.

Ajaibnya, melalui toko buku ini, aku membaca tulisan pada abad-19, diantarakata-nya masih mengena. Relate dengan keadaan masa kini. Sang penulis tidak tahu bahwa di masa depan, aku menjadi salah satu pembaca setianya, pengagum berat. Ketika aku berusaha menapaki jejaknya, bukankah menjadi hal yang wajar mencemaskan siapa yang akan menjadi pembacanya? Meskipun aku, di dalam belantara kata bagaikan diksi pelengkap, yang kemudian dicoret oleh pemegang pena, aku yakin bakal menemukan tempatnya sendiri, takdirku sendiri, meski hanya sebagai kata penghubung “yang”, ada tiada tak berpengaruh.

Bila rangkaian kata sudah menjadi buku, aku akan tetap senang meski buku itu menjadi buku yang terletak di pojokan rak dengan cahaya remang, menjadi alas stok buku-buku populer di atasnya. Bagaimana pun diantarakata yang terangkai merupakan hasil perenungan (murahan) alam imaji dan realitas yang berhadapan dengan inderaku sendiri. Buku yang sedetik baru saja terbit, pada hakikatnya sudah menjadi masa lalu, sebab pembaruan merupakan waktu itu sendiri. Sebab kita adalah buku terpencil pada rak toko buku, setidaknya sudah berani bersuara apa yang menjadi cerita kita. Juga selama kita masih bisa melawan rayap yang akan membumihanguskan kesejarahan kata.

Akhlak (31)

Oleh: Um Sab’ah

 

Hati hendaknya terbebas dari seluruh akhlak yang buruk, terhiasi dengan akhlak yang luhur, hingga baginya tidak ada keterkaitan sedikitpun dengan dunia, hingga jiwa ini pindah dari dunia, putus hubungan dengannya, tidak menoleh kepadanya, tidak tergiur oleh sebab itu, maka ketika itu hati kembali kepada Tuhannya, kembalinya jiwa yang tenang.

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai, lalu masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku!” Al-Qur’an (89): 27 – 30.

Kucing Di Atas Pusara

aldiantara.kata

 

Kucing hitam putih di atas pusara
apakah tak sengaja berada di sana
menunggu tuan?

Kembang kamboja, wangi melati
rerumput liar tumbuh memakan jalan
telanjur sempit, tanah sisa di pinggiran
sungai, masih menjinjing sampah
plastik yang tak bisa diurai

Alam seperti malu-malu tunjukan kuasa
biarkan air sungai meluap

Kucing hitam putih di atas pusara
tinggalkan temannya,
setia pada pemelihara?
mencakar-cakar tanah
mengubur bunga-bunga yang sudah ditabur di permukaan
melihat manusia menyusun gugur daun-daun
di halaman depan
bak peramal yang menghubungkan antara
kehidupan dan kematian, di atas pusara
sorot matanya tajam menatap peziarah berdatangan

Kucing hitam putih di atas pusara
di tengah kota
bagaimana bisa ia tetap terjaga sunyi
tak terusik manusia yang berlari menemukan
ujung tali, mengelilingi dirinya sendiri
mengubur manusia dengan tanah yang sama.
menakutinya akan sepi sendiri.

Kucing hitam putih di atas pusara
saksikan simbol-simbol keyakinan beragam di atasnya.
ceritakan pada kami keramaian yang
nampaknya sunyi di atas kehidupan,
yang terkasih telah terlelap damai
sesekali menertawakan manusia-manusia
lugu yang berdebat soal keyakinan
maka ceritakanlah bagaimana Tuhan
yang menyambut dengan suguhan ramah

Apakah benar Ia adalah Penyiksa ulung?
Psikopat, sesungguhnya?
aku tak percaya sebab banyak orang suci
pergi beruzlah menyepi mencari Wajah yang Maha Pengasih

Kucing hitam di atas pusara
pulanglah, tuanmu sudah tiada
namun jangan ceritakan percakapan rahasia kita
pada banyak orang gila.

Cangkir Berisi Duka

Oleh: Ibnu Masykur

 

Kita pernah begitu intim
Berbagi cangkir-cangkir berisi duka
Menjahit luka-luka menganga

Tetapi, bagaimanapun erat kita saling mendekap
Waktu tetaplah waktu
Sebuah kekuatan yang mampu membolak balikan perasaan
Memaksa kita mencipta jarak
Saling melupa nama, dan
Akhirnya hilang dalam lembaran kisah-kisah yang baru

Dan kini, kita berpijak dibumi yang satu
Saling berhadapan tanpa sapa
Aku kehilangan kata-kata
Sementara kau,
Kehilangan memori tentangku.