7/8

Martalia A.

Tanggal tujuh. Bulan delapan.
Hai, masa lalu yang sudah kusimpan rapat-rapat.
Mengenang sepasang mata yang biasa memandangku tamat-tamat nampaknya akan menjadi hal yang akan kulakukan hari ini. Juga sepasang alis, hidung, kening, dan senyum manis yang tertarik sederhana dari kedua ujung pipimu.

Menjelang malam, perasaan ini semakin terasa meresahkan. Sesak kerinduan mulai sulit kubendung. Air mata yang berbuah dari doa yang kutanam dalam-dalam di ujung hati, mengalir deras tanpa bisa berhenti. Aku terhenyak, tak bisa lupa bahwa hari-hariku sangat istimewa saat bersamamu. Kita pernah saling berhadapan penuh canda. Saling melempar tawa dengan ceria, bersama lelucon tentang masa tua yang kini terasa tak mungkin kita jumpa bersama.

Bagaimana kabarmu hari ini? Bolehkah aku kembali sebentar menerjang mesin waktu. Aku ingin mengucapkan selamat hari lahir untuk dirimu. Ya, kamu yang pernah berada di sisiku sementara waktu. Jika dibandingkan dengan waktu yang akan kamu jalani dengan manusia di akhir usiamu, aku tak ada apa-apanya. Bagaikan hanya memiliki tak lebih dari seperdelapan hidupmu, rasanya tak adil karena hingga kini kamu masih mengisi sepenuh jiwaku.

Selamat bertambah usia, semoga kamu bisa berjalan semakin jauh, ke tempat yang tak lagi bisa kutempuh. Tak lupa, doa-doa terbaik untukmu. Semoga harimu selalu menyenangkan, berada diantara orang-orang baik yang senantiasa memberikan kehangatan.

Era Kolaborasi Millennial! IDN Media Akan Kembali Gelar Indonesia Millennial and Gen-Z Summit (IMGS) 2022

aldiantara.kata

Secara demografis, besarnya jumlah populasi generasi milenial dan generasi Z ini sangat penting mengingat peran strategis mereka sebagai penerus pembangunan bangsa Indonesia. Namun dalam dua tahun terakhir, pandemi Covid-19 membatasi ruang gerak dan kesempatan mereka untuk berkarya dengan maksimal. Tahun ini, dengan situasi pandemi yang membaik, menjadi momentum yang tepat untuk membangkitkan semangat kolaborasi para Millennial dan Gen-Z di Indonesia. Sebagai media platform untuk Millennial dan Gen-Z di Indonesia, IDN Media ikut berkontribusi memeratakan akses informasi dari Aceh hingga Papua.

Sejalan dengan semangat tersebut, IDN Media kembali menggelar acara tahunan terbesarnya, yaitu Indonesia Millennial and Gen-Z Summit (IMGS). Jika pada tahun-tahun sebelumnya acara ini diselenggarakan dengan nama Indonesia Millennial Summit, tahun ini IDN Media turut menjangkau para Gen-Z yang juga menjadi salah satu kelompok demografi terbesar dengan banyak potensi. Indonesia Millennial and Gen-Z Summit akan dilakukan secara offline di The Tribrata, Dharmawangsa, Jakarta selama dua hari, 29-30 September 2022.

Indonesia Millennial and Gen-Z Summit akan dilakukan secara offline di The Tribrata, Dharmawangsa, Jakarta selama dua hari, 29-30 September 2022.

Tentang Indonesia Millennial and Gen-Z Summit (IMGS) 2022

Indonesia Millennial and Gen Z Summit 2022 merupakan sebuah pertemuan independen oleh IDN Media yang berkomitmen untuk membentuk masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dari seluruh penjuru nusantara dan lintas disiplin ilmu. Acara ini akan melibatkan para pemimpin dari Akademisi, Atlet, Pejabat Pemerintah, Pemimpin Bisnis, Pemimpin LSM, Pengusaha, Artis, Pemimpin Agama, dan Media.

Mengusung tema ‘Indonesia Fast Forward’, acara ini akan menjadi platform bagi anak muda untuk bisa saling menginspirasi melalui berbagai macam kontribusi positif yang bisa diberikan bagi Indonesia. Indonesia Millennial and Gen-Z Summit (IMGS) 2022 akan menghadirkan beragam sesi panel yang diisi oleh lebih dari 50 pembicara inspiratif di tiga panggung, yaitu Visionary Leaders, Future is Female, dan Talent Trifecta. Selain itu akan ada pertunjukan hiburan di Entertainment Stage bagi para pengunjung.

Tiga Panggung Utama IMGS 2022

Dalam acara IMGS ini, setidaknya terdapat tiga panggung utama yang dapat dimanfaatkan sebagai media kolaborasi, yakni Visionary Leaders, Future is Female, dan Talent Trifecta. Panggung pertama, Visionary Leaders, akan menghadirkan para pemimpin dari sektor publik dan privat untuk membahas isu sosial, politik, serta ekonomi yang ada di Indonesia. Adapun, panggung kedua bertajuk Future Is Female persembahan Popbela.com akan menghadirkan beberapa tokoh perempuan Indonesia inspiratif untuk bertukar cerita mengenai pentingnya peranan dan kepemimpinan perempuan saat ini. Terakhir, ada panggung Talent Trifecta persembahan ICE yang akan memberikan kesempatan kepada public figure dan anak muda yang sukses di berbagai bidang untuk berdiskusi mengenai isu-isu terkini dan kontribusi mereka pada Indonesia.

IMGS tahun ini mengusung tema ‘Indonesia Fast Forward’

Winston Utomo selaku CEO IDN Media mengatakan, “Dalam sejarah pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia, generasi muda selalu mempunyai peran yang sangat strategis di setiap peristiwa penting yang terjadi. Kami di IDN Media percaya bahwa generasi muda merupakan tulang punggung dan cerminan suatu bangsa. Tahun ini, IDN Media dengan bangga menghadirkan acara Indonesia Millennial and Gen-Z Summit (IMGS) 2022 yang diperuntukkan bagi para generasi Millennial dan Gen-Z di Indonesia. Acara ini merupakan wujud komitmen IDN Media untuk mendemokratisasi informasi serta mengangkat berbagai isu yang dapat menginspirasi generasi muda. One step at a time, for a better Indonesia.”

Adapun Informasi lebih lanjut mengenai Indonesia Millennial and Gen-Z Summit (IMGS) 2022 dapat diperoleh melalui akun Instagram @indonesia.summit.

Siap berkolaborasi?

9.30

oleh: Ibnu Masykur

Pukul sembilan lebih 30 menit
Di luar, angin berhembus tawarkan gigil masa silam
Di dalam, belasan puntung rokok saling tindih tak bergerak
Hanya hela tipis asap dari tiap ujungnya sesekali masih menguar ke udara
Ku pejamkan mata
Sementara kata-kata saling bersenggama
Kenangan dan degup dada saling menerkam
Dan sepi, sepi menjelma menjadi kawanan serigala
Melolong pada remah purnama yang tak sempurna
Mengoyak samar bangkai ingatan tentang kita
Tentang apa saja yang mengendap di dalam rasa
Aku
Juga cangkir-cangkir kopi itu

Sticky Note

aldiantara.kata

Pada letak kata apa, jemarimu menaruh secarik sticky note kecil sebagai penanda. Mengapa harus kata-kata ini, bukan kata-kata itu. Serangkai kalimat ini, bukan sebaris kalimat itu. Pada halaman ini, bukan pada letak lembaran itu.

Kata-kata yang sudah kau beri tanda. Sesulit apa kau memilih labuhan kata yang membuatmu tertarik untuk sekedar singgah, yang seolah penting, di antara kata-kata yang lain, yang seolah inti, di belantara diksi-diksi yang tersusun.

Apa terkadang tidak mengarah kepada kata. Ia serupa episode, pada kata-kata tertentu, baris tertentu, lembar tertentu, mood tertentu, waktu tertentu, di mana kau harus menutup buku, sekedar membakar unggun mengalihkan penat, sebelum lanjutkan pengembaraan. Lalu sticky note serupa jejak terakhir, penanda yang menjadi titik awal, dari jejak titik silam yang pernah tertinggal pada lembar-lembar lama, harus tercerabut, tanpa rencana mencari titik kata pada paragraf asing, makna yang sepertinya serupa, berkait kelindan, dengan pengelana. Kadang jarak itu tidak jauh, berlabuh. Di mana titik akhir, penanda tuntas, di penghujung angka, episode yang tak dapat diterka-terka.

Voce Gentile

aldiantara.kata

Dan rindu itu, meski diucap dengan kalimat klise bagaimana pun, ia berada pada pola pola yang runtut. meski dipisah jarak oleh kemunculan entitas-entitas yang hadir sebagai pelengkap, namun acapkali kemudian, melulu ada jalan menuju rumahmu. Rumah peneduh di mana waktu tak lagi bisa mengekang ingatan. Sampailah kita yang mengikat waktu itu agar mau mencatat peristiwa sebagai memori bening kala kita terakhir kali melihat pagi dan kabut. Biar dingin itu merasuki raga kita, tanpa mau kita berkehendak meracau memikirkan nasib kata, yang akan menjadi abadi kita rengkuh.

Instrumen Voce Gentile sebagai teman bertamu kepada kata. Ia memancing manjing obrolan yang datang belakangan. Seperti apa, seperti apa. Kau bertanya. Sudah mau pagi? Kita akan merelakan waktu berjalan. Mengalir kesedihan, juga senangnya sekaligus. Rindu selalu datang, saat entitas itu tiada. Aku selalu mendengar cakap-cakap kosong, melahirkan tatapan kosong yang membawa kesadaran kepada masa yang telah lalu. Semacam tamasya di mana perasaan kembali hadir. Apa yang rindu telah bisikan, tak semua orang bisa jujur ia pernah dihinggapinya. Ia akan semakin manis, jikalau saja tetap terpendam, membawanya berat-berat di atas bahu perasaan, tanpa keinginan untuk memberitahu.

Apa yang terjadi kepada kuas dan kanvas, melukiskan sesuatu. Gradasi warna, pelampiasan. Kanvas tak penuh terisi. Ia menjadi lukisan yang tak selesai. Pikirannya bercabang. Apa kamu lebih membutuhkan pelukan atau sekedar bisikan? Atau sebuah kehadiran, di mana kita tak perlu membicarakan perasaan. Lalu mengambil waktu untuk memperhatikan gerak bibir, raut ekspresi, atau sekedar tangan yang membenarkan posisi rambut yang digoda angin.

Luka

Oleh: Alaska Senja

Teriris
Kemudian menangis
Meluluhlantakkan sanubari
Tentang sebuah gradasi dalam mimpi
Yang kini
Tertinggal lara
Kupeluk erat ia yang perlahan pergi
Tentang rasa
Yang tak kan pernah terjajaki kembali
Kupikir,
Ini semua hanyalah sandiwara belaka
Namun ternyata aku keliru
Aku salah
Nestapa kini merasuki jiwa
Bersemayam diantara luka dan juga lara
Walau terkadang,
Suatu saat nanti keadaan kan berubah
Tetap saja
Segala pelik akan tetap tersusun rapi dalam balutan memori
Setidaknya,
Sekuat diri harus ku hadapi
Perihal luka
Perihal rasa
Ataupun jua perihal kehidupan
Yang secara lazim harus tetap ditempuh
Meski
Suatu saat berharap kan terhenti
Segala hal yang membuat setiap diri berelegi
Semoga tetap berada
Dalam tatap dan senyum keabadian
Hingga kelak waktunya tiba

Mencari Puisi Di Penghujung Bulan Juni

aldiantara.kata

Pada penghujung Juni. Suatu kira, anggapan, akan menjadi bait yang akan menjadi pelengkap. Tidak ada klimaks malam ini. Terlelap saja. Di antara kata. Membaca puisi-puisi Sapardi pada bulan Juni. Sudah menjadi masa lalu yang tak menjadi. Bait-bait yang terulang. Penjara bagi kata-kata. Kau kira bayang tubuh kita ada pada satu bayang gelap yang beradu. Rencana-rencana, yang pernah menjadi selintas, tanpa mau mengetuk pintu. Ada apa di sana? Spasi ganda pada bait pada mesin ketik, yang tertulis secara terburu-buru. Mengakhiri bulan Juni, yang tinggal setarikan nafas, selempar batu kepada bulan mendatang. Waktu barangkali menjelma sebagai rindu, yang sama, tak bisa berhenti, pun dihentikan. Di mana orang-orang meninggalkan harapannya, pada kegagalan di mana mereka tak cukup kuat untuk bertahan, barangkali mereka memiliki diksi untuk kujumput.

Semua waktu menjadi penghujung. Semua takut, semua terburu. Semua ingin memburu, sekaligus takut kehilangan kepada apa yang telah direngkuhnya secara serakah.

Wi-Fi

aldiantara-kata

Tidakkah kata-kata itu kini menjadi dingin. Tidakkah kata-kata itu kini hendak kau dengar sekali lagi. Padahal sudah jam untuk berpulang, namun masih tetap saja harus menggendong desah gelisah. Setiap kali engkau membukakan pintu, setiap kali langit malam yang mendekap para pekerja untuk lekas merebah. Orang-orang menitip puisi pada ingatan mereka. Kesulitan yang pada akhirnya kita tertawakan. Meski tak seorang pun akan membaca biografi dirinya sendiri. Bagaimana jika hidup ini bukan soal pembuktian. Apakah kata-kata bagi penyair adalah sebuah tuntutan. Atau ia akan hadir sebagai tamu, yang diundang oleh kesedihannya.

Kita selalu memperhatikan jam, lalu merasa sesal dan diburu gesa. Tidak ada yang tertinggal. Berhenti menuntut dan syukuri masih ada waktu. Sudah memesan segelas teh di angkringan selatan lampu merah? Kita harus duduk berbeda bangku agar aku tak terkesan sedang menghibur. Lekas api dalam dada mulai perlahan mengecil oleh sapuan angin malam.

Tidak apa-apa bila minumanmu sudah hampir habis. Tidak apa-apa untuk memesan lagi. Toh suasana nampak temaram. Tidak enak untuk engkau urat-oret diksi menambal sulam kata-kata di sini. Bila setiap kegelisahan engkau tangkap dan jadikan draft, kita hanya akan lelah mengeksekusinya satu per satu. Lalu merasa gagal sebab ada satu yang belum berbuah puisi. Penyair bukan sebuah profesi. Iya, kan? Ya, kan? Atau dapatkah kita mengatakan bahwa ia merupakan suatu ‘panggilan’?

Engkau pernah berharap bahwa tempat sakral semacam angkringan tidak boleh disusupi teknologi bernama Wi-Fi. Agar tak seorang pun silau sendiri dengan cerahnya layar ‘dajjal’. Sesekali suara TikTok bocor sebab lupa kecilkan volume.

Hmm. Barangkali engkau lupa. Sedari tadi kau malah aktifkan hotspot pribadi. Berapa banyak device yang tertambat? Sepertinya banyak yang hinggap. Adakah akses gunakan password? Adakah engkau membatasi? Bolehkah aku ikut. Ternyata sedari lama kita saling tertambat oleh sinyal-sinyal kita. Tapi tak ada data di dalamnya. Kita terhubung namun kosong.

-Berapa semua, Pak? (*tanyaku pada penjual angkringan)

+Perihal rasa, kau akan terus merasa berhutang, Mas.

Tidakkah kata-kata itu kini menjadi api. Setidaknya menghangatkan malam ini.

Cahaya Bulan

aldiantara.kata

Setiba-tibanya rindu bermandikan cahaya bulan. Terangnya kini tergantikan gemerlap kota. Ia ketika padam, baru terlihat terangnya. Maka kapan suatu sesaat yang dikatakan nanti, mengunjungi kembali pasak-pasak bumi. Mencecap kembali wangi tanah, serta melihat kota sebagai kunang-kunang cerminan langit saat bertabur bintang. Sehening-heningnya, deru nafas memburu kepada puncak. Lalu turun dengan menabung udara-udara gunung, di bilik paru yang tersedia. Wangi belerang, beberapa daun yang luruh tak sengaja untuk mau gugur. Sisanya terjaga pada alam masing-masing. Mengucap permisi, raut kepenatanku diterima alam. Meminta sedikit minum kepada mata air. Tidakkah engkau juga rindu?

Akan Kuberi Jalan Pulang

Martalia A.

Menangisimu adalah kebodohan yang tak mampu kutepis.

Seiring berlalunya waktu, dunia masih belum bisa mengabaikan ingatanku tentangmu.

Lebih tepatnya, tentang kalian yang berani berpijak pada bumi yang harusnya tak pernah keliru.

Sesekali harus kuingat bagaimana pedih rasa ini menggenggam jemari tanganmu.

Saat kau dengan dingin menatap mataku, tapi justru tersenyum hangat padanya.

Semua alasan yang keluar dari mulutmu bahkan berubah dari kepercayaan menjadi keterabaian.

Apalagi bila harus kembali ku terusik pada suaramu yang memekik di depanku, menggelegar bagai kilat yang menyambar tiap kenangan manis kita, menghantui tiap ruang yang ingin sekali kubakar kali ini.

Beberapa kali harus aku akui, aku mencintaimu teramat dalam, hingga akhirnya aku membencimu teramat jauh.

Kebersamaan yang kita bangun dari pagi hingga petang, dari petang hingga siang, dari siang hingga senja berakhir, berulang-ulang dan yang nampak dari akhir semua ini hanyalah tentangnya.

Awalnya aku tak menyangka, bahwa pergi berlalu dari kesakitan ini adalah pilihan yang tepat.

Terlebih, masa-masa awal aku harus berterima kasih pada hujan, yang membawa semua rinduku padamu mengalir pergi.

Masa yang tak ingin lagi aku alami.
Semua hal tentangmu dalam diri ini hanyalah sebongkah trauma yang pelan-pelan akan kuobati.

Tapi sosokmu masih tetap utuh berdiri di sana, berpelukan mesra dengan seonggok raga tak punya rasa.

Memendam semua pemandangan itu dengan kedua mata ini bukanlah hal yang bisa aku lakukan.

Maka pergilah dari hidupku dan berbahagialah jika itu maumu.

Desah nafasmu yang masih bisa kudengar, teduhnya bola matamu berwarna cokelat yang masih bisa kutatap, dua tangan kuat yang biasa memelukku hangat, semua hal tentangmu yang masih bisa kurasakan bekasnya, bawa semua itu pergi bersama semua pahit yang pernah kau beri.

Kau tak perlu kesulitan lagi karena aku dengan senang hati akan memberimu jalan untuk pergi.

Untuk pulang pada tubuh yang katamu jauh lebih baik dari semua indra yang kupunya.

Pada jemari yang katamu lebih nyaman digenggam.

Pada senyum yang katamu lebih manis dikecup.

Pada bahu yang katamu lebih indah direngkuh.

Bukankah pulang adalah satu-satunya jalan yang harus kau pilih? Karena dibandingkan harus mempertimbangkan lagi untuk berjumpa denganmu, aku lebih memilih menjauh dan menghancurkan semua yang tersisa.

Jika akhirnya pada suatu titik kau pikir harus kembali karena tersesat, maka yang bisa kukatakan padamu adalah teruslah berjalan.

Meski entah kau akan bertemu apa dan siapa.

Meski akan bagaimana ujung duniamu nantinya.

Meski aku tak yakin masihkah ada dia yang menunggu di sana.

Meski mungkin aku bisa saja mengejarmu,

Tapi bagiku… memberimu jalan pulang akan lebih membahagiakanku.